Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
sebaiknya melepaskan


__ADS_3

hari ini istri dari petinggi Ivander Corp, Caroline berkunjung ke perusahaan karna ada urusan mendadak. ia berangkat tidak lama setelah kepergian Marva. saat sampai ia langsung menuju lantai 10 karna memang urusannya disana. urusannya tidak memakan waktu lama, setelah selesai ia berniat mengunjungi lantai 27, lantai dimana ruangan kerja Ceo perusahaan ini berada.


ia berniat menyapa sebantar sang cucu sebelum pulang.


"pasti Manda sudah ada diatas" monolog Caroline melangkah menuju lift khusus


"kamu istri aku, masih istri aku dan akan selalu menjadi istri aku, 4 tahun lalu maupun sekarang" Nenek twins itu mengerjab ketika pintu lift terbuka dan ia langsung disuguhi ucapan mengejutkan dari pria yang sudah ia anggap sebagai kerabat belakangan ini


"jangan mimpi, tuan. bukan kah tuan sendiri yang memberikan surat cerai pada saya, dan sebelum saya pergi 4 tahun lalu, saya sudah menandatangani surat cerai pemberian dari anda, surat pertama yang saya terima dari anda beberapa jam setelah ijab kabul" tunggu? apa maksud dari tanggapan Manda? apa benar Marva adalah lelaki itu?


"saya menyesal. surat itu tidak pernah saya proses"


"maksud anda?"


"secara negara kamu masih berada dibawah nama aku" Caroline terpaku ditempatnya. meski Manda hanya cucu angkatnya namun wanita tua itu tidak akan rela jika lelaki yang pernah membuat Manda hilang arah muncul lagi mengusik hidup Manda dan twins


"bahkan aku tak pernah mengatakan talak, tapi yah, karna kamu kabur selama 4 tahun dan aku nggak nafkahin kamu jadi aku dengan senang hati mau ijab kabul lagi" lanjut Marva dengan percaya diri mengabaikan ekspresi syok Manda


"ijab kabul sana sama jal*ng-jal*ng mu" desis Manda mengetatkan giginya, muak akan sikap tak tahu malu Marva


"apa maksud semua ini Manda, Marva?" kedua kepala yang sedari tadi saling melempar tatapan, yang satunya benci yang satunya memuja sontak menoleh ke arah sumber suara, bola mata kedua orang tua kandung twins itu membulat sempurna kala melihat keberadaan Caroline berdiri diluar lift yang terbuka.


"momma" lirih keduanya bersamaan saat Caroline memberikan tatapan tajam ke arah keduanya lebih tepatnya tajam mengintimidasi ke arah Marva


"jadi lelaki itu kamu?"


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


mata lelah itu menatap mobil yang membawa Caroline menjauh dari hadapannya. entahlah ia harus bersyukur atau kecewa, sebab apa yang ia pikirkan tidak terjadi. ya, ia pikir wanita tua penuh wibawa itu setidaknya memberinya tamparan atau mungkin menyeret paksa dirinya keluar perusahaan dan mempermalukannya, namun Caroline tak memberinya itu.


jika berhadapan dengan papanya juga papa Bila dia akan selalu berakhir di aniaya fisik maka berhadapan dengan Caroline dia tidak mengalami itu, namun hatinya yang serasa dicabut paksa dari tempatnya oleh wanita tua kaya raya itu


Flashback on


"lepaskan Manda" tegas Caroline


"saya ingin berjuang untuk memperbaiki kesalahan dimasalalu" balas Marva tak kalah tegas. kini nada bicara keduanya formal bak tak saling mengenal sebelumnya


"memperbaiki keselahan atau ingin merebut twins dari Manda?" tanya Caroline memicingkan matanya, menuduh


"saya hanya ingin memberikan keluarga utuh untuk kedua buah hati saya" balas Marva membuat Caroline berdecih


"meski saya benci dengan kenyataan mengenai papa twins yang brengsek, tapi saya tidak ada hak memutus ikatan sebuah aliran darah" ucap Caroline terang-terangan "kamu menyayangi Zafier dan Zaafira?" lanjut Caroline bertanya


"sebesar apa?"


Marva tampak berfikir membuat Caroline menyeringai tipis yang tak disadari Marva


"saya tidak bisa membandingkannya dengan hal di dunia ini. tapi jika dikasih pilihan saya rela menukar nyawa saya demi mereka" jawab Marva membuat wajah Caroline kembali datar


tebakannya salah, wanita tua itu berfikir Marva akan membandingkan sebuah barang atas rasa sayangnya pada twins.


lelaki bisa saja brengsek tapi jika menyangkut darah dagingnya ia akan berperan sebagai sosok pahlawan terbaik untuk melindungi dan menjaga buah hatinya. dan itu yang bisa Caroline simpulkan dari sosok Marva yang mencintai twins


"urus surat ceraimu secepatnya, karna Manda akan segera menikah dengan Jefry" sahut Caroline kembali pada topik yang menjadi tujuan utamanya rela membuang-buang waktu duduk berdua dengan Marva disebuah restoran dekat perusahaan Ivander Corp

__ADS_1


"saya belum menye..."


"kesalahan kamu dimasalalu itu sangat fatal" potong Caroline menggebu "posisikan dirimu jika kamu berada di posisi Bila, dianiaya oleh suami sendiri, diselingkuhin, diusir... atau begini deh, kamu sayang sama Zaafira kan, bagaimana perasaanmu jika anak perempuan mu berada di posisi Bila?" tak ada maksud ingin menyeret cicit perempuan satu-satunya yang menggemaskan itu hanya saja Caroline ingin membuat Marva mengerti bagaimana harusnya dunia bekerja.


rasa sakit yang diberikan Marva pada Manda akan selalu menghantui Manda. dan Caroline hanya ingin Manda terbebas dari ketakutannya. saat Manda menerima Jefry tadi pagi adalah hal yang sudah lama ditungguinya karna ia tak sabar melihat hati cucu angkatnya itu kembali hidup setelah dimatikan dengan paksa oleh Marva.


"meski rasanya tak iklas tapi kami tak bisa memutus tali hubungan antara kamu dan twins, tapi untuk Manda, tolong lepaskan dia, dia sudah terlalu menderita selama ini karna bayang-bayang masalalunya, bebaskan dia agar dia bisa bahagia bersama pria pilihannya" lanjut Caroline melihat kebungkaman Marva


Marva menghela napas berat dengan kepala menunduk, himpitan rasa bersalah membuat dadanya kian sesak, ditambah ia dipaksa untuk melepaskan wanitanya yang katanya sangat menderita.


terus bagaimana dengannya? ia sudah menyesal dan bahkan ia pernah gila akan rasa bersalahnya itu, ia juga menderita beberapa tahun ini, apa tak ada yang bisa melihat dari posisinya? ia sadar, memang semua terjadi karna dirinya, ia akui dulu ia tidak khilaf karna menyakiti istrinya berkali-kali, lebih tepatnya ia sengaja melukai Bila agar pernikahan atas dasar perjodohan mereka berakhir, dan ia akui dulu ia bodoh, terlalu buta akan cinta obsesinya pada Maya, tapi ia sudah menyesali sedalam-dalamnya atas perbuatan bej*atnya. tak adakah kesempatan kedua untuknya memperbaiki apa yang pernah ia rusak?


"pulang dan urus surat cerai itu. pernikahan Manda dan Jefry akan berlangsung sebulan lagi, mohon kerjasamanya kalau kamu masih ingin melihat twins" titah Caroline membuat Marva sontak mengangkat kepalanya, menatap protes pada wanita tua itu


"pertemukan saya dengan Manda" sahut Marva memendam kekesalannya akan ancaman Caroline


"apalagi? anda tidak lihat bagaimana cucu saya ketakutan saat bersama anda?"


"hanya sekali. saya ingin memastikan sesuatu, setelahnya saya akan balik ke Indonesia" pinta Marva yang tak ditanggapi oleh nenek twins karna Caroline keburu beranjak dari duduknya dan langsung pergi


\=\=\=\=\=\=


Marva menghela napas panjang, hari ini akhirnya tiba, semua sudah mengetahui siapa pria jahat yang pernah menghancurkan mental sosok Bila remaja. ya, benar masih remaja bukan? ia menikahi gadis itu saat usia Bila baru menginjak 17 tahun dan ia sudah memberinya begitu banyak luka yang berujung trauma.


bahkan Mario sudah memberinya bogeman mentah hingga meninggalkan luka robek di sudut bibirnya. tapi Marva tak menyerah, ia ngotot ingin bertemu Manda dan meminta maaf secara langsung pada wanita itu. ia bahkan tak gentar saat Mario beberapa kali mendorongnya pergi. tekad Marva pantang pulang sebelum bertemu Manda, pertemuan yang mungkin untuk yang terakhir kalinya.


"gue hanya mau ngomong bentar, setelahnya gue janji nggak akan muncul lagi di kehidupannya" lirih Marva yang terduduk di lantai pelataran rumah akibat dorongan kuat dari Mario

__ADS_1


Bersambunggg...


__ADS_2