
Senyum yang awalnya Manda siapkan untuk menutupi kegugupannya luntur seketika dan berganti wajah syok. sontak tangannya yang terkepal untuk mengetuk pintu berpindah menutup mulutnya yang tengah menganga saat indra pendengarnya menangkap suara Radit berucap pada seseorang dibalik sambungan telpon yang Radit panggil 'dok' itu.
"Saya sudah membujuknya beberapa kali dok, tapi Marva masih keukeh tak mau menjalani operasi, dia ketakutan sendiri mendengar bahwa hanya sepuluh persen tingkat keberhasilan operasi itu"
DEG
"operasi?" beo Manda dalam hati
"apa yang terjadi sebenarnya?" Gumam Manda, tubuhnya melemah mendengar perbincangan Radit dengan seorang yang Manda tebak adalah dokter yang menangani Marva. terkejut? tentu saja, pikirnya Marva saat ini sudah bahagia dengan tak mengikut sertakan dirinya juga twins dalam hidup lelaki itu. tapi apa yang baru saja Manda dengar berhasil membuatnya kehilangan kendali tubuh. bukankah Marva sudah melakukan operasi pengangkatan darah beku di kepala lelaki itu saat di Amerika? lalu sekarang operasi apa lagi? yang bahkan hanya 10% tingkat keberhasilannya? sebenarnya separah apa keadaan Marva hingga 90% kematian mengintainya jika ia menjalani operasi yang dimaksud Radit itu?
Bukan bermaksud kurang sopan menguping pembicaraan orang lain, hanya saja kejadian ini benar-benar spontan dan Manda memanfaatkan keadaan untuk mengulik lebih banyak, apalagi yang menjadi bahasan adalah lelaki yang sering twins igaukan dalam tidur kedua buah hatinya itu membuat Manda ingin berdiri lebih lama dan mendengar fakta mengenai mantan suaminya yang ternyata tengah sekarat
"Waktu sadar dari komanya, dia menjadi manusia paling menyedihkan, bahkan ia menyakiti dirinya sendiri karna merasa tak berguna lagi, tapi sekarang ada adiknya yang menjadi penguatnya hingga ia menghargai hidupnya, dia ingin menjaga adiknya, karna alasan itu kenapa Marva takut tak selamat dari operasi itu" jelas Radit mengingat bagaimana kacaunya Marva saat tersadar dari koma setelah operasi.
ya, Marva sempat koma beberapa jam. dan saat terbangun ia malah mendapati dunianya gelap gulita. merasa tak berguna, Marva menyakiti dirinya sendiri dengan melepas paksa beberapa alat bantu kesehatan di tubuhnya, beruntung Radit datang tepat waktu hingga ia bisa menghentikan aksi Marva. alasan kenapa Radit nekad membawa Marva ke Indonesia walau dalam keadaan belum pulih, semua karna atas permintaan mutlak Marva. Marva tak ingin kelihatan menyedihkan di mata twins. dan Marva ingin menghindari mereka dengan meninggalkan Amerika secepat mungkin kala itu.
"maaf jika harus merepotkan dokter, tapi saya mohon tolong dokter siapkan saja apa yang saya minta. saya kasih dokter waktu satu tahun, tidak, saya kasih hingga 2 tahun untuk meracik dan pengujian obat itu, akan saya bayar berapapun asal obat itu berhasil untuk mengembalikan jaringan-jaringan syaraf mata Marva hingga bisa dilakukannya pendonoran mata dengan persentase keberhasilan lebih tinggi" perintah Radit dengan nada memohon. jika menyangkut kesembuhan Marva, Radit tak pernah setengah-setengah, hingga ia tak memperdulikan sekitarnya, termasuk seorang wanita yang tengah memucat di ambang pintu karna mendengar ucapannya
Manda menopang tubuhnya di daun pintu, seketika semua persendiannya terasa mati rasa, hanya detakan dalam dadanya yang kini berfungsi lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
donor mata? buta? Marva buta? jadi kejadian waktu itu Marva bukan tak sudi melihatnya tapi karna lelaki itu memang tak bisa melihat siapapun?
tapi kenapa harus mengusirnya dan twins dengan kalimat begitu kejam?
bukankah harusnya Marva meminta pertanggung jawaban padanya? karna menolongnya juga twins Marva mengalami penderitaan ini bukan. tapi alih-alih demikian, lelaki itu malah menyembunyikan kebenaran akan keadaannya dan menanggung semua sendiri.
seberubah itukah sosok lelaki yang dulu sering membuatnya menangis?
_ _ _ _ _
Manda keluar ruangan Vip setelah ia menjabat tangan Radit menandakan meeting selesai. ya, meski tengah syok mengenai fakta tentang kondisi Marva tapi Manda tetap berusaha profesional dengan menyelesaikan pekerjaannya apalagi ini menyangkut ribuan orang di dalamnya, termasuk menghargai Radit yang jauh-jauh datang dari Indonesia demi meeting ini.
setelah memasuki mobil, Manda merogoh ponsel di saku jasnya, mengotak atik sebentar, dan berakhir ke telinganya, kemudian ia mengeluarkan perintah saat panggilannya terjawab
"siapkan Jet untuk penerbangan ke Jakarta, Indonesia. saya akan berangkat sore ini juga" titah Manda pada asistennya yang bertugas mengurus semua urusannya di luar masalah perusahaan
ya, Manda akan kembali bertandang ke Indonesia setelah seminggu lalu ia meninggalkan Indonesia dengan perasaan sakit hatinya karna pengusiran Marva yang ternyata tengah menyembunyikan fakta besar
setelah si asisten menjawab "baik, siap Mr" Manda mematikan ponselnya dan membuang ke kursi samping kemudi
__ADS_1
"kenapa lelaki itu selalu membuatku tak berdaya begini" lirih Manda menjatuhkan kepalanya di kemudi mobil. ia capek dengan rasa itu. bukan hanya 4 tahun lalu tapi sampai detik ini Marva masih menjadi sumber keterpurukannya.
"harusnya kamu tetap jahat hingga aku tak memandangmu dari dua sisi. harusnya kamu tetap menjadi lelaki brengsek hingga aku tak memiliki celah untuk merasa bersalah seperti ini, harusnya kamu bahagia bersama wanitamu, melahirkan anak-anakmu setelah aku pergi. aku pergi karna... karna ingin mewujudkan bahagiamu, kepergianku adalah keinginan terbesarmu bukan? tapi apa yang terjadi, kamu malah muncul dengan keadaan menyedihkan dengan mengemis maaf. aku muak, aku muak dengan semuanya..." dengan linangan air mata, Manda meracau pada bayang-bayangan menyedihkan Marva yang rela berlutut dan beberapa kali mendapat pukulan dari orang-orang terdekatnya.
tlingk
bunyi notifikasi pesan di ponselnya membuat Manda mengangkat wajahnya, menghapus kasar air matanya kemudian meraih benda canggih itu. sebuah pesan dari Jefry
mengehela napas, sebelum Manda membuka pesan dari lelaki yang tiga hari ini hilang kabar
"semua yang terjadi sudah tersetting dengan apik oleh 2 bersaudara itu, bersabarlah, tunggu aku. aku akan membongkar semua kebusukan Marva dan adiknya itu" isi pesan Jefry yang membuat Manda tercengang
Bersambunggg...
readers: kapan bahagianya sih mereka?
autor : kapan-kapan hatiku senang
tunggu aja napa sih, yang bosan silahkan minggat.
__ADS_1