Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Malam pengantin/ TAMAT


__ADS_3

gugup?


tegang?


berdebar?


itu semua tidak lagi Manda rasakan. jelas perasaannya tak lagi seperti dulu saat menyambut malam pertama. hanya ada sedikit rasa miris yang Manda rasakan saat pertama kali memasuki kamar hotel yang sudah dihias sedemikian romantis dengan taburan kelopak mawar merah dan mawar putih disana sini.


dulu, kamar pengantinnya tak seperti ini, hanya dihias sederhana. toh untuk apa dihias bagus kalau ia hanya seorang diri yang menghabiskan malam di kamar pengantin itu.


ah memori kelam itu. Manda menggeleng untuk mengusir kenangan yang nyatanya masih menyimpan rasa sesak di rongga dadanya


hatinya sudah memaafkan, tapi nyatanya kenangan buruk itu sepertinya akan kekal di dalam benaknya


Manda memasuki kamar itu. ia bergegas melepas gaunnya karna tubuhnya sudah sangat lengket. meski sedikit kesusahan karna melepas segala pernak perniknya seorang diri tapi Manda berhasil setelah hampir 30 menit berkutat dengan pakaiannya itu. lebih baik demikian dari pada harus menunggu si suami yang belum juga menunjukkan batang hidungnya. wanita itu lalu beranjak ke kamar Mandi yang disambut wangi semerbak mawar


Manda melirik sekilas bathup yang juga tak kalah meriah dari keadaan ranjang. sungguh kasihan bunga mawar yang dibuang-buang percuma seperti itu. pikirnya


mengabaikan itu, Manda langsung menuju shower untuk membersihkan diri.


klik


Manda terjengkit kaget kala membuka pintu kamar mandi dan langsung mendapati muka masam suaminya tepat di depan sana, menatapnya dari ujung kaki hingga kepalanya. Manda telah lengkap memakai piyama tidurnya


"sudah mandi?"


Manda mengangguk kaku menjawab pertanyaan Marva


"kenapa tidak menungguku?"


"kamunya lama"


"maaf" lelaki itu sepertinya sadar kalau dirinya memang salah "tapi kenapa pintu kamar mandinya di kunci?" tanya Marva kembali mengungkapkan protesnya


"aku biasanya selalu kunci kamar mandi kalau nginap di hotel"


kekesalan Marva seketika teredam kala melihat raut wajah bersalah yang ditunjukan istrinya. Marva paham, Manda belum terbiasa, wajar kan, mereka belum ada 24 jam menikah, jadi Marva maklum akan sikap sang istri. namun sikap Manda itu berbeda dengannya, yang bahkan setiap detik menyadari jika ia sudah kembali menikahi wanita itu.


"baiklah. kalau gitu gantian aku yang mandi" ucap Marva. Manda lalu memberi jalan dengan melangkah keluar dari kamar mandi.


"jangan tidur dulu yah" peringat Marva sebelum menutup pintu kamar Mandi


Marva menatap kasihan pada bathup, harusnya ia berendam disana bersama sang istri untuk merilekskan tubuh mereka dengan aroma alami bunga mawar, tapi karna keterlambatannya menyusul membuat ia melewatkan momen itu.


semua gara-gara para lelaki jomblo itu, akan Marva beri pelajaran pada Radit, Mario dan beberapa teman lainnya yang membuatnya harus terlambat menyusul sang istri dimalam pengantinnya


_ _ _ _ _


dengan wajah sumringah, sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, Marva membuka pintu kamar mandi. senyumnya perlahan memudar, kali ini bukan karna Manda tak mengindahkan perintahnya, sepeti wanita itu tak menunggunya untuk membersihkan diri bersama tadi. kali ini Manda menurutinya untuk tak tertidur duluan, tapi...


"hai papa" sapa twins barengan sambil melambaikan tangan

__ADS_1


"hai sayang" jawab lelaki yang memakai piyama senada dengan piyama Manda itu. melihat senyum polos kedua buah hatinya, tentu membuat kemurungan Marva melayang begitu saja.


"udah jam berapa ini?" tanya Marva sambil melangkah mendekat ke arah ranjang dimana ketiga orang tercintanya tengah duduk dengan kepala menyander di kepala ranjang, seolah menyambut kehadirannya


"dikit lagi jam 12" jawab Manda


"loh kenapa belum tidur?" tanya Marva sedikit terkejut


"katanya suruh tunggu"


"bukan kamunya, tapi mereka" balas Marva menatap istrinya lalu mengendikan dagu ke arah twins


"papa" panggil Zaafira.


"iya sayang, ada apa hm? udah larut banget ini, nggak baik loh anak kecil begadang" tanya Marva sambil menaiki ranjang, lalu mengelus lembut kedua kepala buah hatinya


"boleh kami bobo baleng sama mommy dan papa?" tanya Zaafira dengan suara pelan "Fiya nggak bisa bobo sama oma dan opa, maunya sama mommy papa aja" lanjut Zaafira menatap sang papa dengan mata bulatnya yang mengerjab-ngerjab lucu membuat Marva gemas


"kalau Afi?" tanya Marva beralih ke putra sulungnya


"Afi ngikut Fila aja" jawab Zafier membuat Marva terkekeh, terlalu gemas pada kedua buah cintanya bersama sang istri.


"baiklah, mari kita tidur bareng"ucap Marva menyetujui. toh ia tak pernah tega untuk tak menyetujui permintaan twins apalagi dengan hal yang bisa ia lakukan.


memang hal apa yang Marva utamakan selain keinginan twins? malam pertama? awalnya iya, tapi Marva sadar jika ada dua bocah yang tak akan lepas darinya, tak peduli malam pertama yang harusnya ia habiskan bersama sang istri. mana mengerti sih twins akan keadaan ibu dan bapaknya yang pengen ngerasain malam pertama. yang mereka tahu hanya menempel terus-terusan, beruntung saat pesta ada beberapa hal yang membuat mereka bisa lepas dari mommy dan papanya, tapi setelah pesta bubar tentu twins akan merecoki lagi kedua orang tuanya.


"langsung tidur yah, nggak ada cerita apapun. udah larut ini" peringat Marva setelah membantu menidurkan twins dan memperbaiki selimut yang membungkus badan mereka berempat.


"good night mommy"


"good night my twins, sweet dreams" balas Manda lalu mendaratkan kecupan pada kening twins


"aku nggak?" tanya Marva


"kejauhan, nggak sampe" jawab Manda beralasan.


twins yang berada ditengah-tengah mereka terkikik geli melihat mommy dan papa mereka


sedang Marva hanya bisa cemberut "mommy pilih kasih" adunya merajuk pada twins sambil memeluk kedua buah hatinya itu sekaligus


entah kecapean atau memang waktu sudah larut, keempat keluarga yang baru saja resmi itu langsung terlelap di atas ranjang dengan satu selimut. momen pertama dalam hidup mereka.


_ _ _ _ _


"apa harus?" tanya Manda membuat Marva mengeryit tak suka


"haruslah sayang. bulan madu ini penting untuk kita saling mengenal dan memiliki waktu luang berdua, juga ini untuk mewujudkan mimpi kamu pada pernikahan pertama kita 5 tahun lalu" bujuk Marva sebab dari beberapa tempat yang ia ajukan pada Manda untuk dipilih sebagai tempat bulan madu mereka, Manda malah mengatakan tak perlu ada bulan madu diantara mereka.


"tapi aku nggak bisa ninggalin twins" Manda beralasan


"yaudah kita bawa twins, nanti aku minta tolong papa dan mama untuk ikut agar ada yang menjaga Afi dan Fira" putus Marva dengan syarat kedua orang tuanya ikut agar bisa menjaga twins dikala Marva dan Manda berduan.

__ADS_1


"kamu nggak mampu jaga twins? kenapa harus minta bantuan orang lain? sebenarnya kamu kembali untuk apa? hanya demi tubuhku?" cercah Manda tak lagi berpura-pura menutup kekesalannya. karna sebenarnya Manda belum siap untuk kembali menyerahkan dirinya sepenuh pada Marva. sekali lagi traumanya masih menang diatas segala egonya.


dan serentetan pertanyaan Manda membuat Marva terhenyak, telak.


bantuan orang lain? kedua orang tuanya, Bila anggap orang lain?


kembali untuk apa? jadi ketulusan dan perjuangan Marva selama ini tak berarti apa-apa di mata Bila?


hanya demi tubuh? jadi masihkah sebrengs*k itu dirinya dimata sang istri tak peduli bagaimana dirinya meyakinkan kalau dirinya sudah berubah?


Marva menyadari satu hal penting hari ini, Bila, istrinya yang ia nikahi sehari yang lalu masih tak percaya padanya, dirinya masihlah seorang pecundang di mata wanita itu. pikir Marva


beruntungnya semalam para rekannya menahan dirinya sedikit lama hingga Marva tak harus mempermalukan diri di hadapan Manda dengan meminta haknya. untung saja twins ada di tengah-tengah mereka tadi malam hingga Marva menjaga jarak dengan istrinya yang ternyata jijik padanya.


"baik. maaf kalau aku banyak maunya. bulan madunya dibatalkan saja sesuai maumu" ucap Marva tanpa ekspresi


Marva lalu merogoh ponselnya


"siapkan mobil, saya akan pulang ke mansion 10 menit lagi" titah Marva saat seseorang diseberang menjawab panggilannya


"kalau gitu aku duluan, selesaikan makananmu" lalu Marva beranjak pergi, meninggalkan Manda seorang diri di restoran hotel tempa mereka menginap.


padahal Marva sudah membooking hotel 3 hari kedepan, dan setelah itu, mereka langsung berangkat bulan madu. tapi pada akhirnya semua batal karna dirinya adalah seorang suami yang memiliki jejak seorang pria brengs*k yang menjijikan hingga sang istri tak bisa lagi mempercayainya


sakit? tentu


perih? jelas


hancur? jangan ditanya lagi


Marva merasa menjadi manusia paling tak berguna hidup lagi.


tapi apa yang ia kecewakan? sikap Bila? oh tentu tidak, karna ia sadar semua itu sebab akibat dari perbuatannya di masalalu


jadi Marva kecewa pada dirinya sendiri. nyatanya permohonan maaf tak mampu menghapus semua dosa yang pernah ia torehkan pada hati wanita itu


dan Marva hanya bisa menyesal seumur hidupnya.


TAMAT!


jadi karakter Manda itu sebenarnya wanita traumaan. jadi ia tak mudah berdamai dengan kenangan yang pernah membuatnya memilih jalan bunuh diri.


dan Marva sudah memahami arti dari karma. karma atas perbuatannya dimasalalu akan menjadi boomerang pada hidupnya di masa depan.


berpikirlah sebelum bertindak, karna setiap sebab pasti memiliki akibat. jika kelak kau tak ingin disakiti maka jangan pernah menyakiti orang lain. Tuhan menganugrahi otak pada setiap manusia tak lain dan tak bukan untuk di pakai berpikir.


percayalah setiap perbuatan pasti ada balasannya. entah karma di dunia maupun hukuman di akhirat.


tenang, selow, jangan ngamuk, jangan nyumpah serapahi autor yah, karna akan ada ektra part nya kok. inti permasalahannya memang cukup sampai disini.


tak ada hati yang bisa kembali sembuh setelah dilukai begitu dalam!

__ADS_1


__ADS_2