
Dugh Dugh Dugh
"PAPA! MOMMY BUKA PINTUNYA!!"
suara gedoran pintu berhasil menyentak kesadaran pasutri itu yang sudah diliputi gairah. tatapan keduanya refleks bertemu dengan reaksi tubuh menegang. bukan lagi wajah merah karna malu yang terpancar di wajah masing-masing melainkan memerah karna gairah sudah menguasai akal hingga ubun-ubun
Dugh Dugh Dugh
"MOMMY!! PAPA!! BUKA PINTUNYA, FIYA MAU MASUK!!"
mencoba peruntungan, Marva mengabaikan suara gedoran pintu itu, sungguh kepalanya berdenyut nyeri, rasanya mau pecah jika harus berhenti sekarang.
"maafkan papa, nak" monolog Marva dalam hati. lelaki itu berharap mbak Imah mau membantu menenangkan twin malam ini.
lalu Marva kembali memangut bibir istrinya dan perlahan memajukan tubuhnya, keduanya sama-sama memejamkan mata ketika dua alat tempur proses pembuahan sudah saling bersentuhan, namun saat alat lelaki itu hendak melesak masuk ke milik si wanita, suara gedoran pintu makin kencang seolah pintu itu hendak didobrak dari luar
DUGH DUGH DUGH
"PAPA!! BUKA PINTUNYA!! FIYA CAPEK TELIAK-TELIAK!!"
"Oh ****!!" umpat Marva mengeram sembari menjauhkan diri dari atas tubuh Manda
mata lelaki itu memejam erat beberapa saat guna mengatur napasnya yang memburu, kepalanya rasanya mau pecah saking peningnya
tapi bagaimanapun, terlalu egois jika sebagai orang tua lebih mementingkan nafsu dari pada anak sendiri.
DUGH DUGH DUGH
"PAPA!! MOMMY!! DENGEL NGGAK SIH!!"
"DENGAR FIRA, TUNGGU" dan tanpa sadar suara lelaki itu ikut meninggi membuat Manda terjengkit kaget di tempatnya.
Marva menuruni ranjang, lalu membantu sang istri bangun "maaf, sayang" ucapnya setelah mendaratkan kecupan singkat di pucuk kepala sang istri. lalu lelaki itu memungut pakaiannya juga pakaian istrinya yang tergeletak di lantai
"pakai pakaianmu dan bukain pintu twins, aku ke kamar mandi dulu" Marva menyerahkan gaun malam Manda. setelah berucap Marva langsung berlalu ke kamar Mandi tanpa repot-repot memakai pakaiannya terlebih dahulu.
Manda hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan kasihan. gedoran dan teriakan si pengganggu di luar sana menyentak lamunan Manda, segera wanita itu memakai lingerienya lalu menutupinya dengan kimono satin yang senada.
"Afi bantu Fiya dong, masa Fiya teyus yang nendang pintu, sakit tahu kaki Fiya" Manda yang sudah berada di belangkang pintu menggeleng kecil mendengar percakapan twins
klek
"hai mom" sapa putrinya tanpa bersalah menampilkan sederet giginya "papa mana?" Zaafira melongokan kepalanya mencari keberadaan sang papa
"maaf nyonya, aden dan nona tidak mau tidur kalau tidak ditemani tuan Marva, katanya" lapor Imah yang ternyata berdiri di belakang twins
"iya mbak. mbak istirahat aja, biar twins aku yang..."
"nggak mau. Fiya sama Afi mau bobo baleng Mommy sama Papa" potong Zaafira lalu memasuki kamar orang tuanya tanpa permisi
"maafin Afi mengganggu mom dan papa malam-malam" Manda beralih menatap putranya yang menampilkan wajah bersalah
"nggak papa sayang, ayok masuk" ajak Manda meraih tangan Zafier yang saling bertaut. "mbak kembali ke kamar aja, biar twins tidur sama saya" Mbak Imah mengangguk lalu berlalu dari hadapan Manda
"papa mana? papa nggak disini? lalu dimana papa?" Manda menggeleng kecil melihat tingkah si bungsu yang sibuk mencari papanya, bahkan di bawa ranjang
__ADS_1
"mommy... apa papa pelgi ninggalin Fiya lagi?" raut wajah anak perempuan itu sudah memerah, bibirnya berkedut menahan tangis "papa ninggalin Fiya lagi... hiks" dan pecah sudah tangisnya saat Manda sudah mendekati balita perempuan itu.
"ehh ehh kok nangis" Manda tentu gelagapan. wanita itu refleks berjongkok dan memberi pelukan agar putrinya berhenti menangis
"papa tadi tidul dekat Fiya sama Afi tapi hilang.. aku cali kesini tapi hilang juga... huawaaa" kejer sudah tangis bungsu Manda itu
"nggak sayang papa nggak..."
"papa pelgi kelja lagi kan? apa papa lebih sayang keljanya dali pada Fiya?" anak itu tak memberi sang ibu berbicara, ia terus mengoceh menyampaikan kegundahan hatinya. papanya meninggalkannya dan ia ingin selalu bersama papanya!
sedang Manda mendengus samar, geli sekaligus kasihan melihat putrinya menangisi papanya yang dikiranya pergi padahal tengah berada di kamar mandi, entah ngapain aja lelaki itu di dalam sana bisa selama ini.
"papa di kamar mandi, sayang" ucap Manda akhirnya membuat Zaafira mendongak menatapnya dengan mengerjab-ngerjabkan mata bulatnya yang digenangi air mata
"kamal mandi?" tanya Zaafira memastikan yang diangguki Manda. lalu anak itu menenggelamkan wajahnya di pundak sang mommy, mengusapkan air matanya di sana lalu beranjak ke kamar Mandi
tok tok tok
kali ini anak itu mengetuk pintu dengan cara benar, yakni menggunakan punggung jari-jari tangannya
"papa?"
"iya sayang, tunggu bentar!!" dan wajah sedih anak itu langsung berubah senang mendengar sahutan papanya dari dalam
beberapa menit kemudian
ceklek
"adduh!" pekik Zaafira
Marva terjengkit kaget mendapati putrinya terjatuh bersamaan saat ia membuka pintu
"nunggui papa"
"mana yang sakit?" Marva menelisik tubuh putrinya
"nggak ada papa" ucap anak itu sembari merangkul leher papanya "Fiya ngantuk"
"kenapa biarin dia nunggu depan pintu" tanya Marva pada sang istri yang tengah menepuk-nepuk bokong Zafier yang sudah terlelap di atas ranjang mereka
"bandel, nggak mau dengerin kata aku, yaudah aku biarin" jawab Manda sekenanya tanpa merasa bersalah membuat Marva tercengang
" kok lambut papa basah? papa habis mandi?" tanya anak itu mengangkat wajahnya dan memerhatikan rambut papanya yang basah
"katanya Fiya ngantuk. Fiya bobo yah, tuh kak Afi udah nyenyak bobonya" tutur Marva mengabaikan pertanyaan sang putri, lelaki itu lalu menurunkan tubuh Zaafira dengan pelan di dekat Zafier
"maunya sama papa" anak itu tak mau melepas rangkulannya di leher Marva
"iya sayang, papa di dekat Fira kok"
"jangan pelgi lagi kalau Fiya udah bobo" titah Zaafira
"iya..." jawab Marva lalu melirik sejenak ke arah istrinya
"papa...kaki Fiya sakit" cicit anak itu menarik atensi Marva
__ADS_1
"kok bisa sayang, karna jatuh yang tadi yah. maafin papa yah, papa nggak sengaja" Marva segera memeriksa kaki putrinya
"bukan.. tadi ketuk pintunya pakai kaki" jawab Zaafira polos membuat Marva melongo
'pantas saja suara gedorannya sekencang itu' batin Marva
lalu lelaki itu meraih kaki putrinya dan meniup-niupnya setelah membacakan mantra kosong. wiswiswis. Marva bisa melakukan apapun asalkan anak-anaknya bahagia. meski melakukan hal konyol sekalipun.
beberapa saat kemudian
"udah tidur?" bisik Manda memanjangkan lehernya guna melihat sang putri yang membelakangi dirinya. Marva mengangguk memberi jawaban dengan tangan masih menepuk lembut bokong putrinya
"kamu habis mandi?" tanya Manda lagi, masih dengan suara berbisik. Marva melirik sekilas istrinya lalu membalikan tubuhya berbaring telentang
"aku berendam untuk menidurkan anakku yang lainnya" jawab Marva sembari mengangkat lengannya untuk menutupi matanya
hening...
"udah tidur?"
"hm" gumam Marva menjawab pertanyaan sang istri tanpa merubah posisinya
"hei"
Marva mengangkat lengannya dan menoleh saat merasakan seseorang mengelus rambutnya
"sekarang udah tidur?"
"udah sayang, tuh sampai mendengkur keras" jawab Marva sembari menunjuk twins dengan dagunya
"ck!" Manda berdecak memancing Marva menatapnya dengan alis saling bertaut
"bukan twins, anakmu yang lainnya udah tidur?" sontak bola mata Marva membesar mendengar pertanyaan ambigu sang istri
"tertidur sih tapi nggak nyenyak, dikit-dikit menggeliat lagi" jawab Marva sembari melirik ke bawah tubuhnya
"kita tidurin bareng-bareng, mau?" ajakan sang istri tentu membuat Marva mengangguk cepat tanpa berpikir panjang
"tapi sayang..." binar mata Marva meredup kala melirik twins ada ditengah-tengah mereka. tidak mungkinkan mereka melakukan itu saat twins di ranjang yang sama. proses melakukan pembuahan itu lumayan memerlukan pergerakan banyak, bagaimana jika twins terganggu akan gerakan mereka dan terbangun? bisa ternodai mata kedua buah hatinya. demi apapun Marva akan mengalah asalkan jiwa twins tetap bersih.
Manda berdecak, kenapa jadinya Marva yang lugu banget sih dan dirinya terkesan menuntut? padahal Manda hanya mau membantu suaminya itu. Manda tahu kalau suaminya setengah mati menahan diri.
"tuh ada sofa yang nganggur" tunjuk Manda dengan dagunya ke arah sofa panjang yang menghadap ke dinding kaca. posisi sofanya membelakangi ranjang, otomatis sandaran sofa bisa menyembunyikan tubuh mereka dari arah ranjang
"sempit yang, kamu nggak papa?" tanya Marva memastikan keadaan Manda. karna kalau dirinya tentu tak masalah
"yaudah, tunggu ada kesempatan.."
"yaudah yuk. aku beneran udah nggak bisa nunggu lagi, kepalaku nyeri benget nih sayang" potong Marva cepat dengan wajah memelasnya
singkat cerita...
akhirnya mereka berhasil menyatu diatas sofa sempit itu. tidak masalah, sebab dimanapun tempatnya, asalkan dilakukan bersama dengan orang terkasih maka semua akan terasa berkesan dan memuaskan. puas lahir dan batin.
Bersambung...
__ADS_1
akhirnya autor iklas... hahahah
bantu folllow tiktok aku dong @penulishalu_