
"ngomong cepetan sebelum gue tendang lo keluar" sungut Marva kesal pada tamu tak diundangnya. siapa lagi kalau bukan si Raditya. pasalnya kedatangan Radit yang katanya membawa berita penting malah hanya menanyakan hal-hal tak berfaedah sejak kedatangannya sejam yang lalu.
"ppfffft" Radit geli sendiri melihat kekesalan Marva. cukup lega melihat bosnya baik-baik saja. beberapa hari mengkhawatirkan kehidupan lelaki ini yang nyatanya hidup dengan baik meski tak menutup kemungkinan wajah tampannya itu terlihat tirus
"lo ngetawain gue?" tuduh Marva mendengar suara kecil yang seperti menahan tawa. meski ia tak bisa melihat tapi telinganya masih berfungsi baik, bahkan semakin tajam. tak tahukah Radit jika ego Marva saat ini sangat rapuh? apa Radit tengah bermain-main padanya?
"nggak kok" jawab Radit cepat secepat ia menetralkan ekspresinya
Marva mendengus mendengar jawaban Radit yang malah membuatnya yakin jika Radit memang tengah menertawainya
"ck. lo masih aja galak. gue pikir setelah merenung 3 hari disini udah bisa buat lo jinak"
"jinak? lo pikir gue binatang?" kesal Marva tapi ekspresinya seketika berubah kala menyadari satu hal "tapi kelakuan gue dulu kek binatang memang" lanjut Marva setelah beberapa saat terdiam.
Radit memukul mulutnya sendiri. merutuki diri, bercandanya keterlaluan hingga menyentil sisi sensitif bosnya. kehadirannya bukannya membuat Marva tak kesepian malah ia memancing Marva mengingat masalalu. sepertinya Marva mudah tersinggung setelah apa yang menimpanya
"ck, udahlah, nggak ada orang suci di dunia ini" tutur Radit mencoba mencairkan suasana
"oh ya, lo udah makan?" tanya Radit lagi
"geli tau gue ditanya kek gitu sama lo, sekalian aja lo tanya mau dimandiin nggak" cerocos Marva sambil bergidik
"itu nanti kalau lo udah kehabisan nyawa. lagian apa salahnya seorang teman bertanya..."
"lo, kalau nggak ada hal penting mending pulang sana" usir Marva terang-terangan. bukannya tak menghargai Radit, hanya saja Marva merasa kunjungan Radit hanya karna mengasihaninya, dan Marva tak suka ada orang yang kasihan padanya.
"ada" jawab Radit dengan nada... lirih?
"apa?" desak Marva. ia menelengkan kepala saat mendengar Radit menghela napas panjang
"Rain... Raina hamil"
seketika wajah Marva pias, tapi ia tak ingin berburuk sangka. ia menepis prasangka yang tertuju pada seorang wanita muda yang sedarah dengannya
"Rain? Raina? nama Raina banyak. siapa wanita itu? wanita lain atau ad.."
__ADS_1
"Raina Phelan" potong Radit berhasil membuat Marva terkekeh dengan rahang mengetat
"kurang ajar, lo kalau bercanda jangan kelewatan sialan!" kesal Marva, ingin sekali ia meninju wajah Radit yang pikir Marva sudah keterlaluan mengambil topik bercandaan.
"3 minggu, janinnya sudah tiga minggu" tutur Radit mengabaikan kekesalan Marva, baginya harus ada salah satu keluarga Rain yang harus tahu, dan itu hanya Marva sebab orang tua Marva pasti akan semakin merasa gagal sebagai orang tua dengan aib anak bungsu mereka itu.
ucapan Radit sukses membuat dada Marva mencelos, lelaki buta itu memucat seketika ditempatnya duduk
apakah Karma belum puas membalasnya?
_ _ _ _ _
"makasih makan siangnya mami" tutur Zafier setelah menandaskan sepiring pasta yang menjadi menu makan siang yang disediakan si pemilik dapur, Mami Aline
"makasih Mami" Zaafira ikut berterimakasih setelah berhasil menyusul sang kakak menghabiskan isi piringnya
"sama-sama my twins. sudah kenyang?" balas Aline dengan bertanya
"hu'um. sekalang Fiya ngantuk" dan si bungsu sudah menumpukan pipinya di atas meja
"eh eh, tidurnya di kamar dong sayang. Rida, antar twins ke kamarnya" perintah Aline pada salah satu maid yang berasal dari Indonesia itu, tapi bahasa mereka tetap menggunakan bahasa negara Amerika
Aline memandang punggung kecil twins yang dituntun Rida menjauh hingga hilang dibalik pintu ruang makan, 2 batita itu pasti kecapekan. pikir Aline
sepulang sekolah, Twins langsung mengunjungi daddy Jefry di rumahnya. ya, lelaki itu akhirnya memilih pulang ke rumahnya setelah 2 hari terpenjara di ruang inap rumah sakit. Jefry sudah bisa berdekatan dengan twins tanpa merasa mual lagi, tapi dengan wanita masih tidak bisa, bahkan Manda yang mengantar twins hanya bisa menunggu di salah satu ruangan berbeda agar tak menyiksa Jefry dengan mualnya.
bagaimana bisa calon suami istri bisa mengalami cobaan seperti itu? apa ini sebuah pertanda alam?
"mau balik kantor lagi?" tanya Aline, tidak lama setelah twins pergi, Manda masuk ruang makan dengan pakaian kantor masih lengkap membuat Aline menatap heran anak angkatnya itu. pasalnya sebelum berlalu ke kamar untuk ganti pakaian tadi, Manda bilang urusan di kantor sudah dihandel baik oleh Jeal hingga ia tidak perlu balik lagi setelah mengantar twins pulang
"aku ada janji sama seseorang, mi" jawab Manda setelah duduk disalah satu kursi dan mengambil pasta ke piringnya
"janji dadakan. berhubung Manda nggak ada kerjaan, yaudah temuin aja" jelas Manda mengerti keheranan sang mami akan jadwalnya yang terkesan tak terjadwal itu
" janji dadakan? dengan klien? pria atau wanita? ketemu dimana?" tanya Aline beruntun.
__ADS_1
"wanita, dokter muda dari Jerman" jawab Manda
"dengan nak Jefry?" tebak Aline
"ya, dia berkepentingan dengan Jefry, tapi berhubung Jefry belum mampu bertemu seorang wanita jadi Jefry baru saja menghubungi ku dan memintaku untuk mewakilinya bertemu" jelas Manda membuat Aline akhirnya mengangguk mengerti
memang hubungan Manda dan Jefry sudah saling mempercayai satu sama lain, bahkan untuk pekerjaan meski rana mereka berbeda, tapi jika salah satu dari mereka ada yang bisa membantu, mereka akan dengan senang hati meluangkan waktu. nanti hasil pertemuan akan mereka sampaikan tanpa kekurangan apapun sesuai apa yang mereka dengar dan ingat
_ _ _ _ _
"siapa lelaki itu?" tanya Marva lemas
"tolong jangan bilang kalau Rain korban pemerk*saan" lirih Marva mengiba. jelas ia menyangkutkan karma itu akan rencananya dulu pada Bila.
"jawab Raditya!!" sentak Marva murka, pasalnya setelah mengungkapkan fakta akan kehamilan Rain, Radit bungkam tak peduli berapa pertanyaan yang Marva lemparkan
"dia tidak diperk*sa" jawab Radit setelah menarik napas
"nggak mungkin si*lan! Rain gadis baik-baik. ia bahkan tak memiliki pria" bela Marva pada adiknya, toh ia tahu pasti Rain tidak punya kekasih. bukankah Rain menjaga hatinya untuk seorang Mario?
"nyatanya faktanya begitu, Marva" balas Radit tenang "keduanya murni kecelakaan" lanjut Radit
"kamu seyakin itu?"
"aku melihat bukti"
sialan! apa Radit tengah mengoloknya yang tak bisa melihat kebenaran?
"kamu melihatnya, jadi siapa lelaki si*lan itu!" desis Marva yang lagi-lagi disambut keheningan
kebungkaman Radit membuat Marva berpikir jika Radit belum mengetahui siapa lelaki yang berani menodai adiknya. pasti lelaki itu bukan orang penting. mahasiswa biasa atau orang biasa yang tak memiliki kekuasaan?
"keluarkan berapapun biaya, kerahkan beberapa orang suruhan untuk mencari lelaki itu. bukankah kamu sudah memiliki buktinya? mudah bukan untuk mencari lelaki si*lan itu?" titah Marva mutlak
"Jefry, dokter Jefry Ivan Munta, daddy Zafier dan Zaafira, papa sambung kedua anak kembarmu"
__ADS_1
Duaaaarrrr
Bersambunggg...