
Manda menatap punggung lebar itu hingga hilang di balik pintu, Jefry mengalah dan memilih pulang duluan sesuai permintaan Manda untuk masing-masing merenung secara kepala dingin
mereka sudah dewasa, saatnya menyelesaikan masalah dengan pikiran dewasa pula, banyak hal yang dipertaruhkan dalam hubungan mereka. bukan hanya masalah hati, tapi ada harta berharga Manda, twins, yang selalu berada diurutan pertama prioritasnya. dan juga Manda tak mau menutup mata mengenai janin tak berdosa milik Raina
Manda menghela napas kemudian beranjak berdiri, menoleh sebentar ke arah twins sebelum menuntun tungkainya ke jendela kaca, menikmati pemandangan pagi hari di luar sana.
"mereka?" Manda menajamkan penglihatannya saat netranya menangkap sosok lelaki dan wanita di taman rumah sakit dibawah sana
"Marva?" gumam Manda memerhatikan interaksi Marva dan Raina di bawah sana
alis Manda terangkat sebelah saat melihat dua bersaudara itu berpelukan sebelum Marva di tinggal sendiri di sebuah kursi taman, setelah ditinggal sang adik lelaki itu tampak mendongak menghadap mentari pagi.
"papa?" Manda tersentak dan segera menoleh ke samping arah sumber suara.
"loh Afi? kapan bangun sayang?"Manda bertanya sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Zafier. cukup terkejut akan keberadaan Zafier di sisinya yang tak ia sadari sama sekali akibat terlalu fokus memerhatikan Marva di bawah sana
"itu papa, mom" ucap Zafier sambil menunjuk ke arah Marva melalui dinding kaca alih-alih menjawab pertanyaan sang mommy
Manda mengikuti arah tunjuk Zafier "ya, itu papa" jawabnya kemudian
Bruk
"aaaa!"
suara debuman dan pekik kecil membuat Manda dan Zafier langsung menoleh, sontak keduanya melotot melihat tubuh si bungsu sudah berada di lantai
"Zaafira"
"Fila"
panggil Manda dan Zafier sambil bergegas menolong Zaafira
"kok bisa jatuh sih sayang, hum? mana yang sakit?" tanya Manda setelah meraih Zaafira ke pangkuannya. brangkar dikelilingi besi pembatas, jadi Manda tentu tak akan menyangka jika anaknya bisa jatuh dari sana
"Mana papa?" bukannya menjawab pertanyaan Mommynya si kecil Zaafira malah menanyakan keberadaan papanya
kedua anaknya mengabaikan pertanyaannya demi seorang lelaki yang twins sebut papa. batin Manda gemas
__ADS_1
"Fiya tadi dengar mommy sama Api sebut papa..." tutur Zaafira saat melihat mommy-nya malah terdiam melongo akan pertanyaannya "...makanya Fiya tulun dan mau liat papa juga tapi besinya nakal, nalik kaki Fiya jadinya Fiya jatuh deh" lanjut Zaafira mengadukan besi pembatas yang membuat kakinya tersangkut saat hendak turun dari brangkar hingga ia terjungkal ke lantai
"Fiya mau lihat papa" ucap Zaafira cepat sebelum Manda membalas ucapannya, anak batita perempuan itu kemudian turun dari pangkuan Manda dan berjalan dengan kaki pincangnya ke arah Jendela dimana saat membuka mata ia melihat mommy dan Zafier berada di jendela dan menujuk papanya
"itu papa!" pekik Zaafira berbinar saat pandangannya langsung menangkap sosok papanya di bawah sana
"mom, ayok kita tulun temani papa, kasian papa sendili" pinta Zaafira menelengkan kepalanya ke atas menatap Manda yang ternyata juga tengah menatap Marva di bawah sana
"ayok mom" Zafier ikut mendesak dengan binar penuh harap
"yakin mau ketemu papa sekarang?" tanya Manda yang diangguki tanpa pikir panjang oleh twins
"kalian belum mandi loh?" goda Manda
"Afi wangi kok, nih halum masih mau bedak" Jawab Zafier sambil mengendus kedua lengan dan tangannya
"Fiya juga, wangi bau stobeli" ucap Zaafira tak mau kalah
"ayok mom!" twins yang tak sabar menarik masing-masing tangan Manda
tak tega mematahkan semangat twins, Manda hela napas panjang sebelum mengiyakan ajakan twins
ragu, Manda memang berencana mempertemukan Marva dan twins agar lelaki itu bisa semangat untuk sembuh, hanya saja Manda juga takut kalau Marva mengusir mereka lagi karna merasa malu dengan kondisinya.
"Fira sini sayang, mommy gendong" ucap Manda kasihan melihat jalan pincang si bungsu
"nggak mom, Fiya kuat kok, Fiya nggak mau kelihatan manja di depan papa" ucap Zaafira menolak, bungsu Marva itu sok kuat demi bertemu sang papa
beralih ke taman, jam 9 pagi adalah waktu sinar mentari beralih dari hangat ke panas. tapi seorang lelaki berpakaian pasien itu malah mendongak menikmati terik mentari yang serasa membakar wajahnya, lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Marva Phelan. memang sudah kebiasaan baginya, ia menaruh harapan dengan berhadapan dengan mentari kesakitan dalam relungnya ikut terbakar hingga tak bersisa
tadinya ia ditemani Raina, tapi karna tak tega melibatkan sang adik dengan kegilaannya, Marva menyuruh wanita yang tengah hamil muda itu menunggunya di lobi saja.
sebenarnya ia sudah meminta untuk dikembalikan ke Villa puncak yang sepi, agar ia bisa berekspresi tanpa harus ditahan-tahan tapi kedua orang tuanya tak mengizinkan sebelum hasil lab pemeriksaan terakhirnya keluar, Marva yang tak bisa berbuat banyak karna kehilangan fungsi indra terpenting pada tubuhnya mau tak mau terpaksa menurut.
toh mau keras kepala pun ia tak bisa menuntun jalannya sendiri, bukan? ia hanya lelaki dewasa yang tak bisa berbuat banyak tanpa bantuan orang lain atau tongkat pintarnya. Marva tersenyum miris menyadari hal itu.
"cahaya matahari, tak mau kah kau berbagi cahaya pada lelaki menyedihkan ini?" Marva terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri yang terdengar ngelantur
__ADS_1
ini alasan kenapa ia ingin sendiri, ia ingin mengeluarkan uneg-unegnya tanpa membuat orang-orang sekelilingnya mendengar kepiluhannya
Marva menghela napas panjang, dengan kepala masih mendongak, senyum remehnya hilang seketika berganti raut sendu
"selamat pagi twins, papa rindu nak" monolognya, nyatanya selama apapun ia membakar diri dibawah matahari bayangan twins tak akan pernah meninggalkan ruang rindu di hatinya "harusnya selamat malam yah, di Amerika kan harusnya malam disana" lanjutnya mengoreksi
"apa kalian sudah melupakan papa?"
"pasti saat ini kalian tengah berkumpul dengan mommy sama daddy Jef, papa yakin kalian pasti bahagia disana dengan keluarga kecil kalian" Marva terus bermonolog tanpa merasa malu jika dianggap orang gila oleh sekitarnya, toh rasa rindunya sudah mendominasi semua titik rasa dalam dirinya. mungkin saja jika ia tak bisa mengendalikan diri ia bisa kembali menjadi pasien rumah sakit j*wa
"papa bahagia asal kalian bahagia nak" kali ini ucapan Marva disertai air mata. mulutnya berkata bahagia tapi hatinya memendam ribuan luka membayangkan kedua buah hatinya akan tumbuh dan melupakan dirinya
"papa?"
Deg
Marva meluruskan kepalanya, menajamkan pendengarannya, ia baru saja mendengar suara kecil yang sangat dirindukannya
"papa kenapa menangis?"
Marva mengerjab, masih suara kecil yang sangat familiar tapi berbeda dengan yang pertama kali memanggilnya
Marva tertawa tapi berderai air mata "kenapa selalu mengerjai papa, seolah hadir padahal hanya dalam imajinasi" tutur Marva tersadar. ya, ia sudah terbiasa akan imajinasinya yang selalu merasakan kehadiran twins di dekatnya, jadi ia pikir kali ini pun sama, hanya imajinasinya yang mendengar suara kedua buah hatinya memanggil dirinya
twins yang melihat papa mereka menangis memancing air mata mereka keluar juga, dua bersaudara kembar tak identik itu menangis dalam diam dengan bibir berkedut kedut
"papa bicala sama siapa? kenapa nggak mau melihat kita?" ucap Zafier dengan nada bergetar
Deg
"Zaf..."
"Va?"
Bersambunggg...
gantung? sengaja. wkwkwkw supaya episodenya bisa sampai 100
__ADS_1