
Bocah perempuan berusia empat tahun itu tengah menangis kejer membuat telinga semua orang dalam resort itu berdengung
"sayang udah dong nangisnya..." bujuk Manda sembari menimang-nimang sang putri dalam gendongannya
semakin dibujuk semakin menjadi-jadi juga lengkingan suara tangis bungsu Marva dan Manda itu
"Fira udah nak, nanti tenggorokan kamu sakit" masih dengan nada lembut perempuan beranak dua itu membujuk Zaafira agar berhenti menangis histeris.
"princess papa kenapa sih, hm?" tanya Marva sembari mendekat dengan hati-hati ke arah putrinya, takut jika kembali mendapat penolakan dari bungsunya yang menangis tanpa sebab itu
ya, Zaafira tiba-tiba saja menangis saat anak itu terbangun dari tidurnya di pagi hari yang berhasil membuat se isi resort kelabakan, termasuk Marva dan istrinya yang tengah melakukan proses pembuahan di pagi hari sebelum beranjak dari kasur mereka, namun kegiatan mereka harus nanggung sebab suara tangis Zaafira yang mampu menembus dinding kedap suara kamar mereka.
Manda menoleh pada suaminya, lelaki itu sudah memakai baju sesuai perintahnya. memang tadi Marva langsung memisahkan diri darinya dan bergegas memakai celana tanpa baju dan bergegas keluar dari kamar untuk melihat putrinya, namun malah sesampainya di kamar twins, Marva malah di tolak oleh putrinya saat lelaki itu hendak menenangkan balita perempuannya itu. dan setelah Manda menyusul, Zaafira langsung minta di gendong oleh sang mommy dan mengabaikan sang papa yang bersedih karna penolakan anak perempuannya
saat Marva hendak membantu membujuk, Zaafira malah makin kejer dan membuang muka seolah tak mau melihat wajah Marva. Manda yang tak enak dengan perasaan suaminya yang kali pertama mendapati penolakan oleh Zaafira menyuruh lelaki itu untuk memakai baju dulu dengan kode dagungnya.
"Sayang, papanya kok di cuekin sih, hm?" tanya Manda lembut dan Zaafira masih tak merespon selain dengan suara lengkingan tangisnya
"sayang, sama papa yah?" bujuk Marva lagi, selain karna merasa dadanya sesak mendengar tangisan putrinya, Marva juga kasihan pada sang istri yang seperti kerepotan mengendong putrinya yang sudah semakin besar
"tidak mau!! Fiya mau sama angkel Mayo!!" pekik Zaafira histeris membuat Manda maupun Marva mengerjab, lalu suami istri itu saling berpandangan
"Fira nangis karna uncle Mario?" tanya Marva hati-hati pada sang putri
__ADS_1
"papa jahat! papa usil angkel Mayonya Fiya!" semprot Fira menggebu membuat Marva terhenyak
"siapa yang ngusir uncle Mario sayang? papa nggak ngusir tuh" bela Marva sembari mengangkat kedua tangannya di akhir kalimat
"bohong! papa usil angkel Mayo, Fiya dengal sendili" tuduh anak itu
"heh, Zaafira" peringat Manda pada putrinya agar tak melampaui batas pada Marva
Marva mengangguk mengisyaratkan tak apa-apa pada istrinya yang tengah menatapnya tak enak. lalu Marva beralih menatap putrinya penuh sayang
"kapan papa bilang, nak...?"
"waktu angkel makan di meja telus papa datang suluh pelgi. angkel Mayo jadi pelgi benelan kan. huawaaa" jawab anak itu kembali kejer diakhir kalimatnya "papa jahat!!"
padahal Marva tengah menyembunyikan keterkejutannya mengenai perkataan Zaafira. jadi hari itu Zaafira mendengar percakapannya dengan Mario yang terjadi tiga hari lalu saat Marva memergoki Mario di dapurnya? kenapa Marva tak menyadari kehadiran Zaafira hari itu?
"nak, kamu salah paham..." bujuk Marva, hari itu Marva hanya terkejut dengan kehadiran Mario yang nyelonong ke dapur dan seenak jidat mengobrak-abrik dapur resortnya
"Fiya mau angkel Mayo! Fiya mau main sama angkel Mayo, mom" rengek anak itu tak meredakan tangisnya
"mainnya sama papa aja yah nak, uncel Mario kan sudah pulang ke Amerika tadi subuh" bujuk Marva
"huwaaa...angkel Mayo ninggalin Fiya. tidak ada lagi yang mau nemanin Fiya main boneka" makin kejer sudah tangisan balita perempuan itu. selama tiga hari melepas rindu bersama sang paman, nyatanya belum membuat rasa rindu Zaafira terobati
__ADS_1
Marva menghela napas panjang, kesal sekaligus sedih mendengar racauan putrinya. Zaafira hanya menganggap Mario yang mau menemani main padahal Marva juga sering sekali menemani anak itu bermain boneka. meski beberapa hari ini Marva akui ia jarang menemani twins bermain karna ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar bersama istrinya. ditambah kehadiran Mario di resort selama tiga hari membuat Marva menitipkan twins pada pamannya itu dan dia bisa menikmati waktu untuk bermesraan dengan sang istri tercinta... dan dengan kejadian ini Marva baru sadar bahwa selama ini sikapnya keliru. harusnya ia bisa membagi waktunya, antara kewajiban menemani anak dan merealisasikan perasaan kasmarannya bersama sang istri.
nasib pengantin baru yang punya buntut itu serbah salah!
"papa mau kok temani Fira, tapi Firanya nggak mau sama papa, jadi yaudah papa pergi aja" tutur Marva dengan ekspresi sedihnya sembari melangkah mundur. lelaki itu pura-pura merajuk dan berharap sang putri menahannya
"Afi mau ikut papa, nak?" tanya Marva sembari menjulurkan tangannya ke arah putranya yang sedari tadi ikut kebingungan dengan penyebab Zaafira menangis. uluran tangan Marva disambut antusias oleh balita lelaki itu
"papa mau kemana?" tanya Zafier dengan ekspresi sedih, anak itu sepertinya terpancing akan drama yang dibuat oleh sang papa
Marva segera meraih putranya dalam gendongannya lalu membisikan sesuatu yang membuat ekspresi Zafier seketika berubah ceria "papa nggak akan kemana-mana tanpa membawa Afi, Fira sama mommy, papa cuman berekting agar adek berhenti nangis"
"Fira sudah tidak sayang sama papa, nak. jadi papa mau pergi aja" tutur Marva mengeraskan suaranya sembari mengendikan matanya pada Zafier membuat anak lelaki itu menutup mulutnya untuk menutupi kikikannya
"ya, papa pergi gimana dong. nggak ada lagi yang bisa gendong kita bertiga sekaligus selain papa" ucap Manda dramatis berhasil membuat tangisan putrinya terhenti seketika sembari menoleh ke arah Marva yang sudah memebelakangi mereka
"papa, hiks" panggil anak itu sembari mencondongkan tubuhnya serta menjulurkan tangannya ke arah Marva "papa gendong. jangan tinggalin Fiya, hiks" pinta balita perempuan itu berusaha menggapai sang papa dan berusaha menahan tangisnya.
tak tega mendengar rintihan sang putri, Marva segera berbalik dan meraih Zaafira dalam gendongnya lalu memeluk kedua buah hatinya itu sekaligus.
"maafin papa yah sayang, papa lupa diri belakangan ini" tutur Marva sungguh-sungguh
Zaafira mengangguk dalam dekapan sang papa sedang tangan kecil Zafier mengusap punggung sang adik juga punggung papanya seolah anak itu berperan sebagai pihak pendamai antara keduanya
__ADS_1
"mommy mau papa gendong juga?" tanya Marva menggoda membuat Manda memutar bola mata jengah.