
Dunia Jefry runtuh, kisah cintanya kandas, pernikahan yang diimpikan setelah sekian tahun bersama wanita pujaan hatinya harus batal, dan semua gara-gara seorang wanita asing yang telah tega menjebaknya.
Jefry bersumpah di bawah langit sore, akan ia hancurkan wanita itu sebagaimana perasaannya hari ini.
"Cih" Jefry berdecih sinis ke arah keluarga bahagia yang tengah bermain di bawah sebuah pohon besar, sepasang suami istri muda dengan seorang anak batita yang dijadikan perumpamaan Manda tadi sebelum mommy twins itu pergi meninggalkannya
"lihat anak itu, lihat tawanya dan kepolosannya, betapa bahagianya bisa bermain bersama dengan kedua orangtuanya, dan disana, anak yang seumuran dan sama polosnya, tapi lihat bagaimana dia menatap iri beberapa teman sebayanya yang tengah asik bermain ditemani kedua orang tuanya sedang dirinya hanya di temani oleh ibunya" ucap Manda menunjuk bergantian, membandingkan kebahagiaan seorang anak saat Jefry keukeh akan tetap melanjutkan pernikahan mereka dengan syarat ia akan tetap bertanggung jawab pada calon anaknya tapi tidak dengan memberi keluarga utuh
tapi rupanya Manda sudah terlalu kecewa padanya hingga wanita itu enggan memberikannya sebuah kesempatan untuk melanjutkan kisah mereka.
"lalu bagaimana denganmu Manda? twins juga bisa bahagia tanpa papa mereka" gumam Jefry dengan senyuman mirisnya. tentu perkataannya tak lagi bisa Manda dengar karna wanita itu sudah pulang duluan setelah memutuskan pembatalan pernikahan mereka secara sepihak yang berhasil membuat Jefry mematung di tempat.
_ _ _ _ _
pagi hari menyapa, wanita dengan balutan jas mahal itu keluar dari kamar dan beranjak menuju meja makan untuk bergabung dengan keluarganya, keluarga yang telah menampungnya secara suka rela saat ia tak memiliki tujuan hidup karna kabur dari seorang lelaki brengsek yang berstatus suaminya empat tahun lalu
"selamat pagi semua" sapanya yang dibalas "pagi" oleh twins juga 3 orang keluarga inti Ivander. seperti biasa seolah tak ada masalah keluarga itu makan dengan khidmat tentu dibarengi beberapa celotehan twins yang membuat suasana meja makan makin hidup
__ADS_1
"kamu fokus sama urusan perusahaan saja, biar momma yang menghendel urusan undangan" tutur Caroline saat Manda pamitan untuk berangkat ke kantor bareng twins
berita batalnya pernikahan Manda dan Jefry hari ini akan disampaikan pada para rekan yang mendapat undangan. ya, tidak lagi mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan pembatalan sebab mereka menghindari berita media yang haus berita miring.
"baik momma. kalau gitu Manda dan twins berangkat dulu" setelahnya Manda memasuki mobil yang sudah ada sopir siap mengantarnya
bersyukur, Manda beruntung mendapati keluarga seperti mereka. semua keluarganya tidak keberatan dengan keputusan Manda. mereka menghargainya. hanya momma yang awalnya terus membujuknya agar berpikir ulang secara matang tapi Manda tetap pada keputusannya, dengan alasan ia dan Jefry lebih nyaman dengan kakak adik dari pada sepasang suami istri karna nyatanya Manda belum siap untuk menikah lagi dalam waktu dekat ini. ya, alasan yang tak sepenuhnya dusta, karna memang Manda belum siap. ingat! ia menerima lamaran Jefry hanya karna terprovokasi oleh Marva yang tak tahu diri itu.
sedang alasan utama kenapa Manda tak berani lanjut menikah dengan Jefry tak Manda ungkapkan, cukup menjadi rahasia untuknya juga Jefry. bagaimana pun Manda tak mau Jefry dinilai buruk oleh keluarganya.
mengenai lelaki itu, entah dimana dan bagaimana keadannya sekarang. sebab 2 hari setelah pertemuan mereka di taman lelaki itu tak lagi menampakan diri dan memberi kabar
_ _ _ _ _
di negara lain yang masyarakatnya biasa dijuluki warga +62, seorang kakak lelaki tengah memeluk adik perempuan satu-satunya yang baru saja tiba di kediaman sederhananya.
kedua adik kakak yang beberapa tahun terpisah negara itu saling melepas rindu, beban dan... duka. ya, mereka harus bertemu disaat beban berat tengah mereka pikul masing-masing dipundak hingga pertemuan yang harusnya penuh keharuan malah harus bersambut lara.
__ADS_1
"Kak, Rain hamil hiks..." beritahu Raina dengan nada tercekat "maafin Raina kak" lanjut gadis itu meminta pengampunan dengan tangis sedunya
tes
air mata yang sedari tadi menggenang di kelopak mata lelaki buta itu tumpah akhirnya. pertahanannya runtuh mendengar sang adik yang harusnya mendapat pertanggung jawaban malah harus menanggung sendiri beban padahal adiknya berstatus sebagai korban disini.
sakit nan perih! rasa itu bergejolak dalam dadanya kala menyadari jika ia tak bisa berbuat banyak untuk membantu sang adik selain memeluknya erat memberi kekuatan agar adiknya itu tidak merasa sendiri
"maafin kakak yang gagal menjadi yang terbaik untuk Rain" balas Marva dengan mengucapkan permintaan maaf juga. lelaki itu berucap sambil mengelus rambut dan punggung adiknya yang masih berada dalam pelukannya
"mari hidup bahagia Rain. kakak, kamu dan bayi kamu. kita bisa bahagia tanpa merusak hubungan orang lain dek"
'Tuhan, tolong cukup sampai disini karma itu. aku nggak yakin akan kuat melanjutkan hidup jika semua belum usai' lanjut Marva memohon dalam hati
Bersambunggg...
berhubung part ini pendek aku kasih bocoran dikit deh mengenai part yang akan datang...
__ADS_1
next Judul.... Mencari Raina