Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- Firasat


__ADS_3

Manda mengerutkan keningnya menatap sebuah bangunan tingkat tiga di hadapannya. ia bingung kenapa bisa tiba-tiba berada disana. belum sempat menemukan jawabannya, mata Manda mengerjab, memperjelas apa yang netranya tangkap, matanya tiba-tiba memanas melihat seseorang yang sangat ia kenal turun dari mobil dengan seorang wanita cantik nan seksi, namun sebelum air mata itu turun, ia keluar dari mobilnya lalu melangkah mengikuti kepergian kedua orang itu. pandangannya ia edarkan ketika memasuki pintu restoran mewah yang tampak sudah penuh di malam hari itu. tak mendapati kedua orang yang dicarinya, Manda menuju lantai dua. tepat di sudut ruangan, Manda menemukan mereka, sontak hatinya terasa perih melihat keramahan suaminya menarik kursi untuk wanita itu.


"mas?" panggilnya lirih namun berhasil membuat kepala suaminya mendongak dan menatapnya


betapa sesak yang Manda rasa ketika suaminya hanya menatap datar padanya tanpa repot-repot terkejut karna kedapatan berduaan dengan wanita lain olehnya


"mas apa maksudnya ini?" Manda memberanikan diri mendekat lalu bertanya walau hatinya sudah hancur


"kamu kenapa ada disini? bukannya kamu di Bali?" tanya Marva masih dengan nada datar cenderung muak


"mas aku datang untuk kamu"


"oh yaudah"


apa-apaan jawaban itu?


sakit hati akan respon Marva, Manda berlari pergi dari sana. sebelum keluar pintu restoran ia sempat menoleh, hatinya makin kacau ketika melihat suaminya malah duduk tenang alih alih mengejarnya.


Manda tersentak bersamaan kedua kelopak matanya terbuka paksa kala kesadaran mengambil alih dunianya, napasnya memburu. wanita itu merotasikan bola matanya guna mengenali ruangan, samar-samar ia mengenalinya dengan bantuan cahaya lampu tidur.


tangan Manda terulur ke sisi kirinya yang kosong nan dingin. tempat itu sudah lima hari tak dihuni suaminya.


menghela napas panjang lalu menghembuskannya kasar, Manda berharap rasa sesak di dadanya segera pergi. mimpi buruk itu benar-benar membuatnya kelabakan.


ya, itu hanya mimpi, bunga tidur yang begitu buruk bagi seorang yang tengah merindu. kenapa alam bawa sadarnya mendatangkan mimpi menyakitkan? kenapa bukan mimpi yang mempertemukan dirinya dan sang suami dalam keadaan bahagia saja?


karna perasaannya tak juga kian membaik, Manda meraih ponselnya. pukul 02.11 dini hari.


"dia pasti udah tidur" guman Manda sendu

__ADS_1


tak ingin menganggu suaminya, Manda menyimpan ponselnya dan berusaha memejamkan kembali matanya.


ke kiri, ke kanan, didera rasa gelisah membuat rasa kantuknya tak mau lagi menyapa. capek bergulir kekiri kekanan Manda beranjak duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu ia meraih kembali ponselnya


dia tidak tenang karna mimpi buruk itu.


dilema. disisi lain perasaannya kacau sebelum mengabari suaminya namun disisi lain Manda juga tak ingin menganggu jam tidur pria itu


setelah sekian lama berperang dengan pikirannya sendiri, alhasil Manda membuka ruang chat, pilihan paling aman. setidaknya ia harus mengabari suaminya saat itu juga untuk membuat hatinya puas, biarlah tak di balas setidaknya Marva besok pagi bisa melihat pesannya


lalu dengan lincah kedua jempolnya menari di atas keyboard. ketik, hapus, ketik, hapus, hingga akhirnya pesan yang terkirim...


Mas Marva


'mas udah tidur?'


pertanyaan yang cukup bodoh. Manda menyadarinya, cuman ia tak tahu harus mengetik kalimat lain selain itu.


ah memikirkan itu, Manda jadi merindukan hangatnya tubuh Marva saat bersentuhan langsung dengan kulitnya...


drt drt drt


Manda terkesiap kala ponselnya berbunyi, segera ia melihat layar dan sontak bola matanya membulat kala nama Mas Marva terpampang jelas di sana. suaminya belum tidur?


"halo sayang? ada apa hm? kenapa belum tidur? apa ada yang menganggumu?"


Manda langsung diberondong pertanyaan sesaat ia menjawab panggilan video suaminya. Manda meringis merasa tak enak melihat wajah suaminya yang khawatir dibalik rasa kantuk lelaki itu.


"nggak ada. aku cuman nggak bisa tidur"

__ADS_1


"merindukan mas, hm?"


"iya"


"maaf sayang, proyek kali ini ternyata banyak kendalanya dan mas tak bisa meninggalkannya begitu saja"


"iya nggak papa kok"


"malam Minggu aku usahin pulang yah, soalnya sabtu besok aku masih harus ninjau proyek di lapangan"


"iya masku sayang"


Manda ikut tersenyum kala Marva terkekeh mendengar jawabannya "mas sendiri kok belum tidur?" lanjut Manda bertanya


"notif dari kamu itu mas atur dengan nada khusus. jadinya mas bisa tahu kalau ada pesan atau panggilan dari kamu, sesibuk apapun mas, mas usahin respon secepat mungkin agar kamunya tidak menunggu lama. dan saat teridur pun ponsel selalu mas simpan di samping bantal dengan mengeraskan volume deringnya, jaga-jaga kalau kamu maupun twins butuh mas sewaktu-waktu" jelas Marva berhasil menyentuh sisi haru seorang Manda


"tapi itu kan bahaya mas"


"mas lebih takut kalau kalian butuh mas terus mas malah asik ngorok" imbuh Marva


"sekarang tidur lagi yuk, mas temenin"


lalu Manda mengatur bantal untuk dijadikan sandaran ponselnya. kemudian ia membaringkan tubuhnya sembari mengahadap ponsel


"selamat tidur istriku, mimpi indah"


"mas juga" balas Manda memaksakan senyumnya kala mimpi buruk tadi kembali terlintas di benaknya


tak butuh waktu lama rasa ngantuk mendera keduanya, entah siapa yang lebih dulu tak sadarkan diri intinya ponsel itu masih menyala hingga pagi hari.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2