Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Akhirnya


__ADS_3

"terimakasih sudah meluangkan waktu untuk kami" ucap Manda saat Marva mematikan mesin mobilnya setelah berhenti tepat di depan pelataran Mansion


"harusnya aku yang berterima kasih" gumam Marva melirik sekilas ke arah Manda lalu turun dan membuka pintu belakang untuk twins


"papa nginap di sinikan?" tanya Zafier penuh harap


"nggak sayang, papa pulang ke hotel. nanti kalau papa dan mommy sudah nikah baru papa boleh nginap" ucap Marva memberi pengertian pada putra dan putrinya


"yaudah, nikah aja sekalang" celoteh Zaafira membuat Marva mengacak gemas rambut putrinya


bocah mana ngerti sih segala hal persiapan jelang pernikahan. apalagi Marva pengen pernikahannya dengan Bila kali ini di gelar sesuai pernikahan impian para pasangan bahagia lainnya. mewah dan akan ia umumkan pada khalayak agar tahu jika Bila adalah miliknya. tak seperti dulu yang hanya ijab dan status mereka ditutup-tutupi. Marva akan mewujudkan pernikahan impian Bila kali ini.


namun yang jadi masalahnya, sikap tenang dan dingin wanita itu membuat Marva tidak yakin apakah Bila sudah bersedia lahir batin menerima ajakan rujuknya.


"peluk sini sayang" Marva merentangkan tangannya setelah berjongkok dihadapan twins, lalu kedua lengannya mendekap kedua buah hatinya, menghirup dalam-dalam aroma khas batita yang mampu membuatnya merasa tenang.


"jaga mommy yah, papa akan kembali satu minggu lagi" pesan Marva yang diangguki twins. twins dan Marva saling memeluk untuk perpisahan mereka yang kesekian kalinya.


ya, Marva akan pulang lagi ke Indonesia untuk mengurus perusahaannya, padahal mereka baru bertemu beberapa jam saja. jaraklah yang membuat pertemuan mereka tidak sampai 10 jam lamanya. mengingat negara mereka yang berjarak hampir lima belas ribu kilo meter sehingga memakan waktu belasan jam di perjalanan. Marva berangkat jumat malam dari Indonesia dan mendarat sabtu sore di Amerika. lalu malam minggu, tepat tengah malam ia harus kembali terbang ke Indonesia untuk bekerja di perusahaannya hari senin. sesibuk itu seorang Marva demi bertemu dan meluangkan waktu untuk buah hatinya juga Bila-nyq


lelah? tubuhnya pasti lelah. tapi perasaannya lega. kerinduannya terobati membuat fisiknya jadi ikut kuat.


"hati-hati papa, kami sayang papa" ucap Zafier lalu mendaratkan kecupan dipipi Marva yang diikuti Zaafira


"yaudah kalian masuk gih, tidur yang nyenyak dan mimpi indah yah princes dan jagoannya papa" ucap Marva membalas kecupan twins


Marva lalu berdiri setelah melepas pelukannya


"dadah papa" twins melambaikan tangan ke arah Marva lalu beranjak menuju pintu rumah. tatapan Marva tak lepas dari langkah kedua buah hatinya hingga tenggelam di balik pintu


"hati-hati dijalan. aku masuk" ucap Manda lalu menyusul twins tanpa menunggu jawaban Marva


"Bila" panggil Marva membuat Manda mengentikan langkahnya


"aku perlu bicara berdua sama kamu" ucap Marva saat Manda sudah membalikan tubuhnya menghadap Marva

__ADS_1


"mau bicara apa?" tanya Manda gusar melihat wajah Marva yang serius apalagi lelaki itu melangkah mendekat. dengan pencahayaan lampu pelataran yang terang juga lampu pakarangan mansion yang berjejer sepanjang jalan membuat Manda dengan jelas melihat ekpresi wajah mantan suaminya itu


Manda tersentak kala Marva menggenggam kedua tangannya. lalu menatap langsung tepat dimatanya. ditatap seperti itu membuat Manda gugup. dulu tatapan ini yang Manda impikan, namun selalu tatapan jijik yang Marva berikan. tapi sekarang, tatapan si mantan suami begitu memuja hingga membuatnya salah tingkah


"aku ingin menikahimu Nabila Amanda. sangat menginginkannya. menjadikanmu milikku dan aku menjadi milikmu" ungkap Marva tulus "maafkan aku yang dulu, tapi aku dulu benar-benar buta dan bodoh. aku janji tidak akan menjadi Marva si brengs*k lagi, karna disini, disini, hanya ada kamu. kamu sudah memenangkan hati dan pikiranku" Marva berucap sambil menunjuk hati dan kepalanya semantara tangan satunya tetap menggenggam tangan Manda


lelaki itu mengehala napas panjang, mencoba menenangkan diri dari debaran jantungnya yang menggila


"aku ingin menjadi tua bersamamu, saling melengkapi. menjadi orang tua terbaik untuk anak-anak kita. dan kelak sambil menatap mentari senja kita duduk berdua sambil menertawakan memori lama saat kita pertama bertemu" Marva mengangkat tangan kanan Manda dan mengelus lembut cincin itu dengan ibu jarinya. lalu menatap tepat pada bola mata wanita pujaan hatinya


"will you merry me, Bila? let's grow old together and create good memories only"


(maukah menikah denganku, Bila? mari kita menua bersama dan ciptakan kenangan indah saja)


_ _ _ _ _


nano-nano, perasaan yang tengah Marva rasakan bercampur aduk, bahagia, gelisah dan juga ada rasa tak lega dalam hatinya.


hari ini adalah hari yang telah lama ia nantikan, menikah kembali dengan Bila, si pemilik hatinya. bibirnya menampilkan senyuman, namun jelas ekpresinya tak bisa berbohong kalau lelaki itu tengah memendam banyak hal. bukan karna kecapean mengurus segala persiapan pernikahan seorang diri selama sebulan ini, bukan pula mengenai biaya pernikahan yang digelar mewah itu, tapi karna ia masih mendapati raut kegelisahan dimata wanita yang beberapa menit lagi akan sah menjadi miliknya.


"kenapa, hm?" tanya Marva menatap tepat di mata calon isterinya yang sudah dihias bak ratu sejagat dengan kebaya putih bersih itu


"lihat aku" Marva meraih dagu Manda agar melihatnya


"lihat mata aku sayang. masihkah kau ragu?" tanya Marva mencoba meyakinkan Manda jika ia benar-benar berubah dan sangat menginginkan Manda dalam hidupnya


Manda diam, wanita itu menyelami netra hitam milik Marva. ia bisa melihat ketulusan dan kesungguhan Marva disana, namun memori masalalu membuatnya jadi wanita terjahat karna tak bisa mempercayai sepenuhnya kesungguhan Marva


"maaf" cicit Manda dengan mata berkaca-kaca


"tolong jangan kayak gini, jangan menagis, kumohon" ucap Marva lalu membawa Manda kepelukannya


"kalau kamu belum siap, kita batalkan saja yah, nggak papa kok" ucap Marva dengan suara bergetar. sungguh, sebesar apapun keinginannya menikah dengan Bila tapi jika wanita itu tak bahagia bersamanya, Marva tak akan memaksa.


"aku nggak mau jadi lelaki jahat lagi yang memaksamu" bersamaan ucapan lelaki itu, Manda merasakan pundaknya basah

__ADS_1


Marva menangis?


"tapi tamunya?" tanya Manda dengan suara pelan


Marva memejamkan mata, pertanyaan Manda jelas menjawab semuanya. wanita itu belum siap dan tak yakin, bahkan mungkin tak percaya lagi padanya. memang apa yang Marva harap setelah luka yang ia beri? penerimaan Manda dengan mudah?


"persetan dengan para tamu. kita batalkan saja. kamu lebih penting" ucap Marva tegas namun pelukannya makin ia pererat. jika hari ini batal maka tak ada lagi pernikahan diantara mereka. karna jelas Manda tak bisa bersamanya sekeras apa Marva berusaha. dan Marva tak akan memaksa Manda. kebahagian wanita itu adalah tujuannya.


"kalau begitu keluarlah sekarang"


Deg


jantung Marva rasanya diremas tangan tak kasat mata. pengusiran Manda benar-benar menyakitinya. bahkan untuk detik-detik perpisahan mereka Manda tak mau membuang-buang waktu untuknya


"baik, maaf selama ini aku egois, semoga setelah ini kamu bisa mendapatkan keba..."


"ck! cepetan ih" potong Manda sambil berdecak sebal


Marva tersenyum pedih, menghapus sisa air matanya lalu berpamitan


"panggilkan kembali mua-nya masuk" sahut Manda membuat Marva menoleh lalu mengangguk kecil. Manda akan melepas kebaya juga make upnya. pikir Marva miris


"tunggu yah" ucap Marva mencoba tersenyum


"gara-gara kamu riasan mataku jadi rusak. tak mungkinkan aku keluar ijab kabul dengan riasan mataku yang berantakan gini " dumel Manda berhasil membuat Marva mengerjab bodoh


"ma...maksudnya?"


"kamu juga harus dimake up. lihat matamu merah kayak orang sakit. aku nggak mau yah tamu-tamu beranggapan kalau suamiku penyakitan karna matanya merah" ucap Manda mengabaikan pertanyaan bodoh Marva


"Bil, kamu serius?"


"udah sana cepetan. tinggal 5 menit lagi nih acaranya dimulai" usir Manda sambil mendorong tubuh Marva keluar dari kamarnya, lebih tepatnya kamar hotel.


yah, mereka menyewa gedung hotel untuk ijab di siang hari, lalu malamnya akan diadakan resepsi mewah di aula hotel.

__ADS_1


Bersambunggg...


seneng banget aku tuh baca komenan kalian..


__ADS_2