Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
harapan Twins


__ADS_3

ayah dan anak kembarnya itu saling memeluk mencurahkan rasa rindu, menangis bersama, menyampaikan rindu lewat dekapan hangat mereka di bawah terik mentari pagi di taman rumah sakit. tapi kemudian tiba-tiba Marva tersentak, ia tersadar akan satu hal...


"twins kenapa bisa ada disini?" tanya Marva, saking rindunya dengan kedua buah hatinya ia baru sadar kejanggalan akan kehadiran twins. jika twins disini itu artinya...?


"kami mau jenguk papa" jawab Zafier bergumam


"twins ke Indonesia hanya karena mau jenguk papa?" tanya Marva dibalas anggukan oleh kedua buah hatinya yang masih memeluknya erat


"lalu twins kesini sama siapa?" tanya Marva dengan nada gusar, mungkinkan Manda ada disini juga?


mendengar ucapan sang papa, sontak membuat twins menjauhkan kepala dari pundak Marva dan mengurai pelukan, Zafier dan Zaafira saling melirik kemudian mendongak menatap kasihan pada papanya.


papanya benar-benar nggak bisa melihat. pikir twins. ya, Marva telah mengatakan kebenaran akan kondisi dirinya yang tidak bisa melihat alias buta, bukannya malu dan kecewa yang Marva terima dari twins seperti apa yang Marva takutkan, twins malah memberinya semangat dan berjanji akan menjaga papanya hingga sembuh dan bisa melihat mereka lagi.


selepas menatap wajah Marva, twins menoleh ke arah Manda yang ternyata sudah ada di depan mereka, tapi twins bungkam, seolah mengerti jika sang mommy tak ingin keberadaannya diketahui oleh papa mereka


Manda mengangkat pandangannya ke arah Reni yang berjalan menjauh dari mereka, mantan mertuanya itu memberinya ruang mendekati Marva


"mah, twins datang sama siapa?" tanya Marva saat merasakan ada pergerakan dari sampingnya dan itu adalah Manda yang baru saja mendudukan dirinya di tempat Reni sebelumnya


"kami nggak datang sama mommy kok" bukannya dijawab oleh suara sang ibu, pertanyaan Marva malah di jawab oleh Zafier


Zafier melirik takut-takut ke arah Marva, merasa berdosa karna telah berbohong. meski tak diberitahu oleh Manda tapi Zafier berinisiatif untuk membantu situasi sang mommy.


"lalu kalian sama siapa?"

__ADS_1


"sama...sama..."


"sama siapa twins, hum?" tuntut Marva, jika tadi ada rasa minder dan malu akan keadaannya apabila Manda datang dan melihatnya, maka saat mendengar kedua anaknya tak datang bareng mantan istrinya itu malah membuat Marva khawatir sekaligus marah. bagaimana bisa Manda malah melepas twins berpergian jauh tanpa Manda temani? Apa Manda terlalu sibuk dengan acara bulan madu hingga membiarkan twins? tebak Marva dalam hati dengan perasaan kesal bukan main


"sama mami Aline, tapi mami Aline lagi peliksa sama doktel, kami bosan jadinya main di taman dan ketemu papa deh" kali ini Zaafira yang menjawab dengan lancar meski berdusta. entah datang dari mana idenya, Manda sampai melongo mendengar cerita karangan si bungsu. sepertinya putrinya itu akan jadi artis sinetron melihat bakat aktingnya yang jelas Manda beri acungan jempol.


bukannya mendukung kedua anaknya untuk mengarang cerita palsu tapi untuk kali ini Manda mendukung kebohongan twins itu, sebab ia yakin Marva pasti merasa rendah diri jika mengetahui Manda ada di dekatnya. besok-besok akan ia beri nasihat untuk kedua buah hatinya bahwa berbohong itu adalah perbuatan yang tak baik meski bagaimanapun alasannya.


"oh gitu, memang mami Aline sakit apa sayang? kok jauh-jauh ke Indonesia untuk berobat?" tanya Marva membuat twins kicep, mereka sontak melirik sang mommy untuk meminta bantuan. mana tahu mereka persoalan penyakit segala. sedang Manda yang ditatap demikian oleh twins tampak kebingungan juga


"papa mau ketemu mami Aline?" tanya Zafier takut-takut. jika papanya menjawab iya ketahuan sudah kebohongannya.


"boleh, kalian mauka membantu papa jadi penunjuk jalan ke ruang periksa mami Aline?" Marva merasa perlu menyapa mami Aline, ia ingin berterimakasih karna telah mengajak twins ke Indonesia hingga Marva bisa bertemu dan melepas rindu dengan kedua buah hatinya walau hanya sebentar


"pa..papa sebenalnya..."


"kalau ketemu mommy, papa mau?" tanya Zafier lirih membuat Marva menegang


"tidak" jawab Marva setelah terdiam cukup lama. Manda yang mendengar jawaban Marva hanya bisa tersenyum miris, kecewa.


"kenapa? papa benci mommy?" tanya Zafier lagi sambil melirik sang mommy


"tidak" jawab Marva cepat "papa cinta sama mommy, hanya saja... hanya saja cinta papa tak pantas diterima oleh mommy kalian, mommy kalian terlalu baik untuk pria brengs*k kayak papa" tutur Marva membuat Manda melotot, antara terharu dan kesal mendengar pengakuan Marva, ia terharu akan pengakuan Marva yang mencintainya tapi kesal karna Marva malah mengucapkan kata kasar di hadapan twins


"blengsek itu apa?" kan. ternoda sudah telinga dan mulut twins karna perkataan papanya sendiri. rutuk Manda dalam hati setelah si bungsu menanyakan arti kata kasar yang Marva tujukan untuk dirinya sendiri

__ADS_1


Marva menipiskan bibir, merutuk diri karna perkataannya yang spontan. usia twins adalah usia dimana anak akan menanyakan segala sesuatu yang asing bagi mereka dan Marva melupakan hal itu


"nggak sayang, itu bukan apa-apa, papa salah ngomong" ucap Marva memancing dengusan Manda


"maaf mah, Marva keceplosan" ucap Marva yang mendengar dengusan wanita disampingnya yang ia tahu adalah mama Reni


Manda mengerjab, kemudian hanya menjawab dengan gumaman agar keberadaannya tak diketahui Marva


"papa juga baik, mommy baik, sama-sama baik. Afi pengen papa sama mommy belbaikan, telus kalau papa sembuh, mommy, papa, Afi juga Fiya bisa jalan-jalan baleng sepelti teman-teman Afi yang selalu jalan baleng sama olang tuanya" dan pengakuan Zafier yang memiliki mimpi mengenai keluarga utuh bagaikan lecutan cambuk di punggung Marva dan Manda, lalu mereka tersentak seperti ditampar


"maafin papa, semua karna papa" ucap Marva dengan nada tercekat, tentu ia sadari dengan sangat bahwa semua bermula karna dirinya. dirinya gagal jadi seorang lelaki, gagal jadi suami dan gagal jadi seorang papa karna tak bisa mewujudkan mimpi sang anak.


"papa menyesal sayang, papa orang jahat di masalalu. papa sering buat mommy menangis, sering memarahi mommy, sering memukulnya, papa ini orang jahat nak, papa ini adalah orang yang paling jahat untuk mommy, Fira dan Afi, karna papa semua ini terjadi, papa orang jahat, tapi papa mencintai kalian, cinta papa untuk mommy, Afi dan Fira melebihi cinta papa sama diri papa sendiri" racau Marva dengan sadar mengakui kesalahan, biarlah twins mengetahui sifat jahatnya agar mereka tak ikut menyalahkan Manda karna tak bisa memberikan keluarga utuh. Marva mengeratkan pelukannya pada twins berharap twins akan tetap stay dalam dekapannya setelah ia mengakui perbuatannya pada Manda dulu.


Manda terisak kecil tanpa sadar, pengakuan Marva yang berani jujur pada kedua buah hatinya juga pengakuan cinta lelaki itu yang entah mengapa masih mampu membuat dadanya nyeri meski sudah berapa kali Marva ucapkan dan selalu penolakan yang ia beri


"ma, Marva harus bagaimana? Marva ingin mereka bahagia, tapi Marva juga menginginkan mereka disini bersamaku. rasanya sesak sekali setiap tarikan napas Marva, membayangkan mereka akan melupakanku suatu saat rasanya Marva ingin pergi aja sekarang" tanya Marva meminta pendapat pada sang mama. lelaki itu berucap dengan linangan air mata


"apa kamu bisa pergi dengan tenang, hum?" tak suka dengan kalimat terakhir Marva, Manda tak bisa lagi untuk tidak bersuara


"mama? suara itu?" Marva menegang mendengar suara wanita yang sangat ia kenali sebab suara itu sudah tersimpan baik-baik di memori otaknya


"jika sewaktu twins masih dalam kandungan hingga sekarang kamu tidak pernah memberinya sosok papa kandung yang sebenarnya, maka sekarang waktunya kamu membayar itu. jangan membahas tentang kamu sakit karna aku memiliki pasangan lain, kalau kamu lupa, aku lebih dulu merasakan hal itu" lanjut Manda, telak.


"Bila..."

__ADS_1


Bersambunggg...


__ADS_2