
hari ini senyum lebar tak pernah meninggalkan wajah Marva, bahagia yang pernah menjadi asing dihidupnya 4 tahun belakangan, kini bisa ia rasakan lagi. sudah terlalu lama rasanya ia tidak merasakan hatinya berdetak cepat namun ia nyaman akan detakan itu seperti yang tengah dialaminya saat ini, rasanya seluruh euforia kebahagiaan berputar-putar mengelilinginya.
sesekali ia melirik pada spion gantung dalam mobil, melalui benda kecil yang bisa memantulkan bayangan nyata itu, ia bisa melihat pemilik hatinya dan kedua buah hatinya duduk di kursi penumpang belakang, ketiganya asik dengan dunia mereka, mengabaikan dirinya yang berperan sebagai pengemudi mobil.
meski rasanya ia diperlakukan layaknya seorang supir yang membawa majikannya namun tak membuat harga diri Marva jatuh. sebab ia akan siap menjadi supir ketiga orang tersayangnya itu. sekarang memang tak ada yang mau duduk bersebelahan dengannya di kursi depan, tapi Marva berdoa semoga kelak ketiga orang itu akan berebutan duduk disampingnya. semoga saja. amin Marva dalam hati
Sesekali Marva menyahut mendahului Manda menjawab pertanyaan kedua buah hati mereka yang pertanyaannya ada-ada saja. wajar batita umur 3 tahun biasanya memang tak bisa diam karna keingintahuannya pada benda-benda sekeliling mereka, walau Marva akui anak-anaknya kadang-kadang bersikap lebih dewasa dari umur mereka namun anak-anak tetaplah anak-anak yang tak lepas dari celotehan. dan Marva cukup lega kala kedua buah hatinya itu tak lagi bersikap jaim akan kehadirannya. twins sudah aktif dan mungkin mulai nyaman akan dirinya, dan Marva sangat antusias mendengar celotehan mereka yang tak ada habisnya. tak lepas juga Marva melemparkan beberapa pujian kala kedua batita kembar itu menceritakan beberapa kejadian menakjubkan yang mereka alami di sekolah.
"makasih udah sudi diantar sama aku" ucap Marva yang ditujukan pada wanita yang tengah merapikan rambut Zaafira, namun hanya berbalas kebungkaman oleh Manda
"terpaksa" tentu Manda tak bisa menyuarakan keberatannya sebab tak mau kedua buah hatinya mendengar kata-kata kurang pantas dari mulutnya
hingga mereka tiba di sekolah twins, Manda mengabaikan keberadaan Marva yang alih-alih langsung pulang malah ikut turun mengantar twins memasuki sekolah
"oke twins. belajar yang rajin yah" ucap Manda setelah mendaratkan kecupan di dahi kedua anaknya
"baik mommy" jawab twins barengan. setelahnya Manda melangkah pergi
"nanti papa kembali, papa antar mommy dulu yah" bisik Marva pada twins kemudian lelaki itu mengejar langkah Manda
selang beberapa puluh detik..
"twins!" panggil seseorang yang sontak membuat twins berbalik ke arah sumber suara
"om kenapa balik lagi? katanya mau antal mommy" tanya Zafier saat Marva sudah di dekat mereka
__ADS_1
"mommy katanya mau olahraga kaki, jadinya papa nggak antar" jawab Marva tersenyum padahal hatinya sedang tak baik-baik saja setelah ditolak begitu kasar oleh Manda
"oh mommy memang seling jalan kaki, kan kantolnya di sebelah sekolah kita" jawab Zafier sekenanya
"om ndak pulang?" sahut Zaafira saat Marva malah mengikuti langkah mereka memasuki kelas
"nggak. papa mau nunggu kalian selesai sekolah. maukan jalan-jalan sama papa setelah pulang sekolah?" tanya Marva dengan perasaan berdebar. perasaan takut ditolak layaknya saat tengah menyatakan cinta pada cinta pertama. kira-kira itulah yang tengah Marva rasakan saat menantikan jawaban twins
digantung. ya Marva digantung akan ajakannya oleh kedua buah hatinya. rasa-rasanya ia memang seperti anak remaja yang habis mengatakan cinta tapi si ceweknya meminta waktu berpikir.
duduk menunggu di pojok ruangan dengan beberapa orang tua lainnya sambil mengawasi anak-anak mereka. Marva menyaksikan twins belajar sambil bermain disana. anak-anaknya sangat cerdas membuat Marva bangga apalagi pujian-pujian dari guru dan beberapa orang tua lainnya. namun sedihnya, kenyataan bahwa di negara ini sosoknya bukan siapa-siapa bagi twins. bahkan beberapa ibu-ibu menanyakan keberadaan pria lainnya yang mereka ketahui sebagai daddy dari twins.
menyela? tidak. toh tujuannya bukan pengakuan dari orang-orang itu. tapi pengakuan dari kedua buah hatinya-lah yang saat ini masih ia perjuangkan.
waktu berlalu, kini matahari menyapa dengan teriknya hampir sejajar dengan kepala. waktunya anak-anak pulang. Marva langsung membawa twins ke mobil berniat mengantar kedua buah hatinya pulang.
"katanya mau jalan-jalan ke Mall, kok jalannya alah pulang ke lumah?" protes Zaafira dengan muka sebalnya.
"kalian mau jalan-jalan sama papa?" tanya Marva tak percaya akan pendengarannya
"kan om janjinya mau ajak kami jalan tadi" sahut Zaafira masih dengan wajah sebalnya
janji? perasaan tadi Marva mengajak deh, itupun ajakannya tak terjawab.
"yaudah, kalau gitu twins hari ini jalan-jalan sama papa" ujar Marva antusias, setelah mendapatkan jalur putar balik, ia kemudikan mobilnya menuju mall dengan perasaan bahagia
__ADS_1
selang beberapa saat mereka akhirnya tiba di mall, mereka langsung menuju pusat perbelanjaan mainan, setelah mendapat masing-masing mainan yang diinginkan, Marva segera membayar, kemudian mengajak twins makan, setelahnya mereka bertiga bermain di arena dan terakhir mereka di kedai es krim. twins maupun Marva jelas bahagia dan puas terlihat dari binar wajah mereka
"katanya om punya anak 2 pelgi sama istli om, jadi om punya anak belapa?" tanya Zaafira saat menunggu es krim pesanan mereka. rupanya batita perempuan itu kepo akan anak yang dibicarakan oleh lelaki dewasa kemarin bersama uncelnya
raut riang diwajah twins berubah murung.
kenapa rasanya tak rela lelaki yang terus menyebut dirinya sebagai papa mereka memiliki banyak anak selain mereka.
mereka memang memiliki daddy, hanya saja kehadiran Marva benar-benar membuat mereka merasakan perasaan aneh yang nyaman dan aman semacam ada ikatan yang terus mengikat pikiran mereka akan sosok Marva, apalagi setelah mengetahui apa arti dari ayah kandung. ya, twins diam-diam sudah menanyakan pada guru mereka, dan otak kecil mereka menangkap itu. sosok daddy dan mommy mereka yang tidak pernah menikah, artinya mereka bukan pasangan yang bisa membuat mereka hadir. mereka memang tinggal di Amerika namun keluarga Ivander yang notabenenya berasal dari Manado, Indonesia, tak meninggalkan adab pernikahan itu. jadi benarkah papa dari vino adalah papanya? Marva sudah menunjukan sebuah foto pernikahan antara mommy mereka dan Marva. cukup bukti akurat bukan? twins tahu apa itu pernikahan, mereka sering di ajak ke pesta nikahan dan disana ia bertanya banyak hal, termasuk tentang setelah menikah akan hadir seorang adik.
"anak papa hanya kalian. cuma kalian berdua nak" jawab Marva tegas
"Alvino?" kali ini Zafier ikut bertanya
"Vino anak papa juga, hanya saja bukan anak yang lahir dari papa. Vino memiliki ibu dan ayah lain, seperti kalian sama daddy Jef" jelas Marva hati-hai berusaha memahamkan twins
"lalu kalau kamu benal papa kami kenapa didepan momma, mami sama uncel, om memanggil dili om bukan papa tapi malah om?" tanya Zafier telak
Marva tercengang mendengar penuturan Zafier, ah ternyata daya serat otak anaknya itu benar-benar diatas rata-rata
"karna papa terlalu pengecut untuk mendapatkan kesusahan mendekati kalian"
Bersambungggg....
kita kasih kesempatan dulu Marva merasakan sosok papa yang sebenarnya untuk twins sebelum dihempas pergi oleh takdir. hahahahah
__ADS_1