Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Aku kehilangan


__ADS_3

~ Terimakasih untuk waktu yang telah kau sia siakan selama berada disisiku. Kini aku merindukan semua yang kau berikan. Aku kehilangan. itu saja~ Marva


*************


2 hari setelahnya, orang yang ingin membeli rumah Marva ketemu, namun orang itu mau melihat lihat dulu sebelum melakukan transaksi jual beli dengan sang pemilik


sebenarnya ia bisa melalui perantara atau bahkan mengutus Radit atau Oki untuk menggantikannya, akan tetapi Marva memilih turun tangan langsung menemani si pembeli untuk melihat lihat keadaan rumahnya, setidaknya ini untuk yang terakhir sebelum ia melepas rumah yang pernah ditinggalinya bersama sang mantan istri.


"silahkan masuk pak" ucap Marva sopan mempersilahkan masuk terlebih dahulu setelah ia membukakan pintu


setelah si pembeli masuk, Marva menyusul di belakang


Deg


tubuh Marva mematung di ambang pintu, jantungnya berapacu cepat kala melihat sosok gadis remaja cantik tersenyum manis padanya di depan pintu seolah gadis itu menyambut kedatangannya


"kakak sudah datang?" tanya gadis itu masih dengan senyuman yang mampu membuat Marva tak bisa berpaling


meski suara gadisnya sangat jelas dan seolah nyata, tapi Marva tau kalau itu hanyalah ilusi. ia sudah terbiasa akan ilusi seorang Nabila Amanda


benarkan, Bila adalah gadisnya? iya Bila adalah miliknya. hanya miliknya seorang.


tiba tiba telaganya mengembun dan sepersekian detik selanjutnya telaga itu menumpahkan laharnya melihat senyuman manis dan tulus gadis itu untuk pertama kalinya, karna selama ini hanya jeritan, tangisan dan ketakutan yang selalu Marva liat pada raut wajah gadis remaja itu, bahkan dalam mimpinya pun, gadis itu selalu meminta tolong, meminta maaf, meminta ampun, menangis kesakitan, menangis tanpa suara atas perilakunya.


ya, beberapa kali belakangan ini Marva sering bermimpi tentang istri kecilnya yang selalu mendapat siksaan darinya selama ini.


Maka dari itu, jika bisa Marva tahan, Marva memilih tidak tidur karna menghindari mimpi itu


"pak!" panggil si pembeli sedikit meninggi karna sedari tadi Marva tak merespon pertanyaan dan panggilannya


"mohon maaf rumah ini tidak jadi saya jual" ucap Marva bergetar tanpa mengalihkan pandangan dari sosok mungil itu

__ADS_1


"maksud bapak apa yah? bapak mempermainkan saya, heh? " marah si pembeli tak terima. sebab si pembeli menyukai rumah ini meski harganya sedikit mahal.


"sekali lagi maaf, bapak bisa keluar" usir Marva


"huh, tidak sopan" umpat si pembeli menatap sinis ke arah Marva kemudian melangkah keluar dengan menahan marah


Marva melangkah pelan, tatapan Marva mengunci pada sosok gadis yang masih menampilkan senyum manisnya itu


"Kau kembali?" tanya Marva dengan suara lembut saat berada di depan gadis itu, ia mengabaikan fakta bahwa ia sedang berhalusinasi.


tak seperti biasa yang selalu ada amarah saat melihat gadis remaja itu ketika berada dalam jangkuan mata Marva, kali ini di bibirnya ia menampilkan senyum yang sama dengan milik Bila, mereka saling membalas senyum.


lagi lagi tubuh mungil itu perlahan memudar saat tangan Marva terangkat ingin menyentuhnya


"argghh" marva mengerang frustasi


"kenapa kamu menghilang? aku tidak akan memukulmu.. aku hanya ingin memintamu untuk buatkan makan, aku ingin makan masakanmu" lirih Marva dengan suara tercekat, tangannya masih terangkat


Marva ikut melangkah ketika bayangan Bila kembali muncul dan berjalan ke arah kamar gadis itu, tapi lagi-lagi sosok itu kembali hilang kala tubuh Marva sudah berada di ambang pintu kamar.


"Bila?" lirih Marva memanggil sosok itu kembali hadir.


jika begini Marva bisa ikutan dirawat di rumah sakit jiwa. ck


dengan tangan gemetar, Marva meraih handel pintu kamar Bila, memutarnya dan membuka pintu, dengan langkah pelan Marva memasuki kamar istrinya itu


DEG


aroma tubuh alami Bila bisa Marva hirup di dalam kamar kosong ini yang tertata begitu rapi.


ini kedua kalinya Marva membuka kamar Bila setelah kepergian Bila 2 bulan lalu, yang pertama saat mencari Bila dengan keadaan emosi setelah ia keluar dari rumah sakit dan ini yang kedua, tetapi sepertinya kali ini Marva tak buru buru keluar. sebesit rasa yang melingkupi hatinya bernamakan nyaman dengan kamar ini membuatnya ingin tinggal lebih lama

__ADS_1


netrnya yang masih sedikit berembun memindai sekeliling kamar yang begitu rapi meski tampak berdebu


kemudian tatapannya terhenti kala menangkap benda kecil di atas nakas


perlahan ia mendekati objek itu


Deg


cincin nikah Bila tergelatak di atas nakas dengan sebuah kertas di bawahnya


Marva meraih cincin itu dan tersenyum miring, kemudian lanjut meraih kertas itu dan membukanya


"Bila pergi demi kebahagiaan mu kak, selamat mencari kebahagiaan wahai bahagiaku" tulis singkat Bila pada selembar kertas itu


seketika amarah Marva timbul, Marva meremas kuat kertas juga cincin itu


"huh, bukannya kamu yang sedang sibuk mencari kebahagiaanmu di luar sana dan pergi meninggalkanku! jangan memutar balikan fakta j4lang" geram Marva


ia sungguh tak terima dengan seuntai kalimat Bila dalam kertas itu, Bila lah yang pergi meninggalkannya saat ia sedang sekarat! pikir Marva


dengan napas yang masih memburu karna menahan emosinya, matanya tak sengaja menangkap buku berwarna pink di lantai yang hampir masuk dalam kolom ranjang


cincin dan surat dari Bila masih digenggam di tangan kirinya kemudian Marva menunduk mengambil buku itu


bersambunggg...


######


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu

__ADS_1


__ADS_2