Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2 - penjahat kelamin?


__ADS_3

setelah menempuh perjalanan hampir sejam, tibalah Marva pada sebuah perusahaan besar di ibu kota. lelaki itu menghembuskan napas beberapa kali, menguatkan mental, pasalnya pemilik perusahaan yang tengah ia datangi adalah seseorang yang terkenal dengan sikap intimidasinya.


Marva sadar betul bahwa perusahaan miliknya hanya akan dipandang sebelah mata oleh pemilik perusahaan multinasional yang sudah berdiri puluhan tahun dan pemimpinnya sudah berganti tiga generasi itu. tapi semua itu tak membuat Marva berkecil hati, sebab disisi lain ia cukup punya muka akan perusahaan miliknya, walau belum mendunia tapi ia rintis beberapa tahun lalu dari nol tanpa embel-embel warisan dari perusahaan Phelan


Marva terduduk gelisah di ruang Vip, penunjuk waktu sudah menunjukan pukul 08:47. itu berarti sudah hampir sejam ia menunggu kedatangan Presdir perusahaan yang tengah ia kunjungi


Marva menghembuskan napas panjang, ia merasa membuang-buang waktu. terbesit rasa sesal karna terburu-buru berangkat hingga tak menunggu sang istri terbangun lebih dulu. tadi sebelum berangkat ia hanya bisa memandangi wajah lelap istrinya yang tetap cantik dan menggemaskan. mendaratkan kecupan di dahinya sebagai bentuk pamitnya. ia tak membangunkan wanita itu sebab tak tega menganggu tidurnya, lagian ia masih menaruh kecewa pada wanita itu. kecewa tapi cintanya malah makin mengakar, Marva adalah definisi lelaki terlalu bucin.


berbeda dengan twins, Marva tak bisa menahan diri untuk tak mengusik tidur kedua buah hatinya. karna ia sangat merindukan twins dan celotehan mereka yang seharian kemarin tidak didengarnya. selain mengobati rasa rindunya, membangunkan twins juga sebagai bentuk bantuannya pada sang istri yang selalu kesulitan membangunkan kedua anak kembar berusia lima tahun itu, terlebih si bungsu yang terlampau susah untuk dibangunkan. Marva kadang heran, seindah apasih mimpi putrinya itu hingga sangat sulit untuk bangun tidur.


berdecak kesal kala rasa rindu yang hendak ia sampaikan melalui virtual namun disadarakan kenyataan bahwa ponselnya hilang. ah sepertinya ia harus membeli ponsel baru selepas pulang dari perusahaan Prasetyo Corp. ini


tak berselang lama, pintu ruang tunggu Vip terbuka membuat Marva bernapas lega kala melihat siapa yang muncul dari sana


"selamat pagi tuan Daniel" sapa Marva yang di jawab anggukan tipis dari pria yang gantengnya sebelas dua belas darinya. hanya saja soal popularitas dan kekayaan jelas Marva kalah.


"ini pak Marva Phelan dari perusahaan PT. M Properti, tuan" jelas lelaki yang Marva tahu sebagai tangan kanan Daniel, Sekertaris Ali


Sial! tatapan Daniel membuat harga diri Marva terjun bebas. ada apa dengan mata tajam lelaki itu yang menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki? jika saja Marva tak butuh bantuan dari pria berjas abu-abu tua itu, Marva bersumpah akan membalas memindai penampilan Daniel. hei, jika di adu Marva yakin akan mampu mengimbangi kemampuan Presdir Prasetyo Corp itu. tapi lagi-lagi pemegang kasta paling tinggi adalah yang paling ber-uang dan terkenal. jadinya, mau tak mau Marva hanya mampu memberi senyum ramahnya. Marva membutuhkan bantuan lelaki itu sesegera mungkin agar apa yang ia perjuangkan bisa ia pertahankan.

__ADS_1


"atur janji di hari minggu, di sore hari, tanpa proposal, dari perusahaan yang bahkan besarnya tak kalah dari cabang perusahaan Prasetyo Corp yang baru saya resmikan dua hari lalu. jadi jelaskan apa pantas saya meladeni anda?" ujar Daniel tajam setelah duduk di singgle sofa


perkataan dari mulut pedas lelaki itu mampu membuat Marva melongo. ternyata benar jika tuan Daniel yang terkenal kejam dari segi sikap dan ucapan memang nyata adanya. oke, beberapa ucapan Daniel memang Marva benarkan kalau dirinya yang tidak kompeten. mengatur janji saat hari Minggu dan di waktu sore dengan pemilik perusahaan besar itu memang memancing orang berpikiran kalau dirinya tidak tahu aturan, namun sekali lagi Marva terdesak waktu. tapi kalimat terakhir Daniel benar-benar membuat Marva kesal setengah mati. tapi tentu kedongkolannya tak terang-terangan ia tampilkan, ia sembunyikan di balik senyum canggungnya.


"maaf jika saya kurang kompeten mengatur janji, tapi saya tidak punya pilihan menunda waktu. saya tengah membangun proyek di wilayah xxx tapi dana saya masih kurang, jika tuan tertarik saya berharap tuan mau bekerja sama dengan saya membangun proyek itu" tutur Marva sembari menyodorkan proposal di hadapan Daniel. Marva punya nyali untuk mengajak Daniel bergabung sebab proyek itu termasuk proyek besar dan akan menjadi icon di wilayah xxx.


"rekan bisnis sebelumnya menipu anda?"


pertanyaan Daniel lagi-lagi membuat Marva melongo sekaligus kicep. bagaimana bisa Daniel langsung menebak dan sialnya tebakan presdir muda itu benar adanya. ya, ia tengah ketar ketir mencari bantuan dana karna rekan kerjanya berkhianat dan membawa uang miliarannya. itulah mengapa proyek itu tak selesai-selesai


Marva menelan ludah menatap iba proposal yang baru saja di letakan secara kasar oleh Daniel di meja. proposal yang semalam ia kerja hingga mengorbankan waktu bersama anak istrinya yang tengah menunggunya di rumah. ia habiskan kurang lebih lima jam untuk merampungkan proposal itu hingga harus pulang larut malam dan berakhir ia memasuki rumahnya dengan cara mendobrak pintu darurat


"dua, anak kembar sepasang" jawab Marva mantap terselip nada bangga


Daniel mengangguk mengerti, tapi sepersekian detik selanjutnya lelaki itu tersenyum remeh


"saya punya syarat"


"apa itu?" tanya Marva sedikit ragu

__ADS_1


"ada seorang model terkenal yang tengah menungguku di hotel ccc siang nanti, saya sudah bosan memakainya. bisa anda menggantikan saya untuk memuaskannya?"


Marva yang awalnya menatap bersahabat kini berganti datar nan mencemooh setelah Daniel mengucapkan kalimat menjijikannya. ia tak segan lagi bagaimana Daniel menganggapnya. Marva sudah tak peduli akan kerja sama itu, Daniel telah menginjak harga dirinya dan kesetiaannya dengan menawarkan model internasional? bahkan istri Daniel pun yang lelaki itu tawarkan akan Marva tolak mentah-mentah. istrinya, Bila-nya adalah wanita satu-satunya yang Marva cintai dan ia rela nyawanya dicabut saat dimana ia melirik wanita lain.


Marva menyunggingkan senyum remeh


jadi lelaki yang wajahnya selalu lalu lalang di majalah dan berita bisnis yang katanya sangat mencintai istrinya adalah seorang penjahat kelamin? huh! selama ini banyak orang-orang yang sudah tertipu dengan topeng lelaki itu termasuk dirinya.


Marva jadi kasihan memikirkan istri dari tuan arogan di hadapannya. apa mental wanita itu baik-baik saja setiap hari berhadapan dengan lelaki ini? selain mulutnya yang kejam hati dan otak lelaki itu juga busuk.


"maaf jika saya lancang tuan Daniel, tapi seperti jawaban saya tadi, saya sudah beristri dan memiliki anak. apa pantas anda menawarkan syarat menjijikkan itu?"


sia-sia. Marva merasa sia-sia mengorbankan banyak waktunya demi meminta bantuan pada perusahaan Prasetyo Corp. kenapa semua perusahaan yang ia minta bantuan selalu menawarkan hal yang sama? apa wajahnya memperlihatkan aura murahan? atau memang aura kebejatannya di masalalu belum bersih dari wajahnya?


kemarin, salah satu teman kuliahnya yang berprofesi sebagai Asisten salah satu perusahaan keuangan yang Marva ajukan proposal kerja sama memberi syarat padanya akan membantu asalkan Marva mau menjadikannya simpanan membuat Marva tanpa pikir panjang langsung pergi dari hadapan Anggi.


Marva mengejek diri sendiri. jangan salahkan orang lain yang menilainya demikian murah karna memang ia pernah menjadi lelaki murahan. lagi-lagi kenyataan itu menamparnya. bagaimana pun ia berubah kenyataan masalalu tidak bisa ikut berubah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2