Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2 - pengakuan 2


__ADS_3

dua pasang bola mata bening milik balita kembar itu menatap takjub pemandangan di hadapan mereka. lalu keduanya terkikik geli dengan tangan menutup mulut agar tak menganggu tidur kedua orang dewasa yang menjadi santapan mata mereka pada pagi hari ini


"mau kemana?" tanya Zafier berbisik sambil meraih tangan sang adik yang hendak melangkah dari tempat mereka


"mau bangunin papa sama mommy" tunjuk Zaafira pada kedua orang tuanya yang masih terlelap tanpa sekat dan celah. ya, kedua orang tua twins itu terlelap damai sambil berpelukan di atas ranjang. saking nyamannya mereka tak menyadari jika waktu sudah pagi, bahkan twins sudah bangun beberapa menit lalu.


"jangan ih, meleka capek tahu" larang Zafier


"tapi mommy biasa bangunin Fiya kalau udah pagi. nanti kita telat ke bandalanya kalau papa sama mommy lambat bangun" ucap Zaafira mengingat sang ibu selalu menganggu tidurnya jika sudah pagi hanya untuk diingatkan ke sekolah, juga hari ini Manda sudah berjanji untuk menemani mereka terbang ke Jakarta


"papa kan udah ada disini, ngapain mau ke bandala?"


"oh iya ya" Zaafira menyengir kecil membenarkan ucapan sang kakak


"tapikan Fiya lindu sama opa, oma sama tante Laina" lirih Zaafira mengingat keluarga ayahnya di Jakarta


"nanti kita telpon meleka aja gimana?" tawar Zafier guna menghibur sang adik yang menampilkan wajah memelas


"boleh deh"


"yaudah, kita kelual dali sini. kita mandi dulu" ajak Zafier pada adik 7 menitnya itu. lalu kedua balita kembar yang masih menggunakan baju tidur itu beranjak keluar dari kamar kedua orang tuanya yang belum sadarkan diri


_ _ _ _ _


drt drt drt


drt drt drt


drt drt drt


getaran ponsel di atas nakas cukup keras, hingga tidur kedua insan yang masih nyaman dalam dunia mimpi itu terusik


wanita yang wajahnya terbenam pada dada si lelaki perlahan bergerak, ia melenguh samar menandakan suara getaran ponsel berhasil menganggu mimpinya. Marva juga ikut bergerak, tapi kemudian makin mengeratkan pelukan pada tubuh wanitanya


"sesak" gumam Manda masih dengan mata tertutup


lirihan itu membuat mata berat Marva terbuka seketika. ia mengerjab-ngerjab mencoba memastikan apa yang tengah terjadi...


dia masih berada di alam mimpi atau dunia nyata? kenapa otak Marva tiba-tiba bleng, tidak bisa membedakan, sebab beberapa detik lalu ia memimpikan hal yang sama dengan apa yang terjadi sekarang ini


"Bil?" panggil Marva memastikan


"sesak" balasan berupa gumaman wanita yang berada dalam pelukannya membuat kelopak mata Marva makin terbuka lebar. jadi ini bukan mimpi? wanita yang berada dalam pelukan nyata, istrinya? oh apa yang terjadi?


"sesak ih" Manda mulai kesal karna pelukan Marva bukannya mengendur malah makin erat. wanita itu bahkan memukul punggung sang suami


"ternyata memang nyata" gumam Marva dengan senyuman lima jarinya. ia sudah mengingat apa yang terjadi hingga mereka berakhir di ranjang yang sama dan tertidur saling memeluk


sungguh hatinya benar-benar membuncah bahagia. momen inilah yang telah bertahun-tahun ia impikan


cup


"selamat pagi istri" Ucap Marva setelah mendaratkan sebuah kecupan


"jam berapa?"


"hah?" bingung Marva tapi kepalanya bergerak juga ke arah jam dinding "jam 8.52" jawab Marva santai, berbeda dengan reaksi Manda yang seketika membuka mata beratnya secara paksa


"astaga, twins!" pekik Manda, wanita itu lalu menyingkirkan tangan Marva dan beranjak duduk


"twins?" beo Marva

__ADS_1


Manda mengabaikan kelinglungan sang suami, ia memilih beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka lalu keluar kamar untuk menengok kedua buah hatinya.


ah, gara-gara semalam mereka begadang jadinya telat bangun. bagaimana kabar kedua buah hatinya? udah satu jam lebih waktu sarapan terlewat. Manda panik mengingat twins, ia merasa jadi ibu yang lalai. ia merasa gagal menjadi seorang ibu terbaik bagi twins disaat ia sudah menjadi istri yang baik untuk suaminya.


Marva menatap kepergian sang istri, kesadarannya sudah kembali sepenuhnya. bukannya ikut beranjak, lelaki itu memilih kembali merebahkan tubuhnya dengan senyuman mengembang


pengorbanannya berbuah manis, saatnya ia memetik buah manis itu dan menikmatinya. penantiannya tak sia-sia. karmanya sudah usai. tak ada kata yang pas untuk menggambarkan bagaimana rasa membuncah dalam jiwanya pagi itu.


bukan kehilangan kewarasan, tapi Marva layaknya orang gila yang senyum-senyum sendiri diatas ranjang yang semalam menjadi saksi bagaimana hubungannya dan sang istri membaik


tidak, jangan berpikiran terlalu jauh, karna nyatanya mereka belum melakukan ritual memberikan twins seorang adik.


Flashback on


Marva ikut merebahkan tubuhnya di sisi sang istri, tubuhnya kaku layaknya pengantin baru. dan kekakuan itu makin terasa saat Manda malah mendekat dan memeluknya


"nggak suka ya, aku peluk?" sontak Marva membalas merengkuh sang istri saat wanitanya itu bertanya demikian


"suka, banget. aku hanya terlalu terkejut" jujur Marva


"maaf"


jika kemarin-kemarin kata maaf selalu keluar di bibir Marva maka malam ini kata itu adalah kata andalan Manda


"kamu nggak salah apa-apa sayang. kenapa minta maaf?" tanya Marva sambil memundurkan kepalanya guna menatap wajah sang istri


"aku berpikir hanya perlu mengatakannya mengingat banyaknya sikapku yang membuatmu sakit hati"


"aku nggak pernah sakit hati tuh"


"bohong"


Manda mendengus menanggapi ucapan suaminya


"tidur yuk ini udah jam 1 lewat loh" ajak Marva lalu memperbaiki selimut di tubuh mereka


"kamu udah ngantuk?" tanya Manda mendongak menatap mata sang suami yang memerah, entah memerah karena bekas air mata atau lelaki itu sudah mengantuk


"kamu?" tanya Marva balik tanpa menjawab pertanyaan Manda.


"ada hal yang ingin aku bicarakan"


"nggak bisa besok? ini udah larut sayang, nggak baik untuk kesehatan"


meski sudah sering Marva memanggilnya dengan sebutan sayang, tapi Manda selalu merasa tersipu.


"kenapa, hm?" tanya Marva kala sang istri malah menenggelamkan wajah di dadanya


"ribut banget" cicit Manda


"apa?"


"disini" tunjuk Manda pada dada suaminya tanpa berniat menjauhkan wajahnya


"karna dia tau kalau pemilik sesungguhnya sudah kembali dan sedang menciumnya"


"siapa yang menciumnya?" Manda sontak menjauhkan wajahnya dari sana


"istriku barusan" balas Marva menggoda memancing dengusan Manda. namun wanita itu kembali mendekatkan pipinya di dada bidang itu


"mau dengar ceritaku tidak?" tanya Manda sambil menikmati irama detakan jantung Marva yang Manda rasa seirama dengan detakan jantungnya.

__ADS_1


"be.."


"sekali-kali nggak papa. lagian aku nggak bisa tidur kalau belum cerita" potong Manda cepat


"yaudah, apa?" tanya Marva mengalah


Manda mendongak sebentar menatap mata Marva, lalu ia kembali pada posisi ternyamannya


"aku dan Jefry bertemu 3 kali"


"aku tahu"


"kamu memata-mataiku?"


"nggak. aku percaya sama kamu. aku mengetahuinya karna ada kenalan aku yang hadir di pernikahan kita mengirimkan gambar kalian, juga pengakuan twins saat kalian ke taman waktu itu"


"maaf. pasti kamu kecewa"


"nggak sekecewa kamu akan kelakuanku di masalalu" Marva mendaratkan kecupan di pucuk kepala sang istri setelah berucap


"pertemuan pertama, memang aku yang mengajaknya bertemu saat ia menelpon setelah sekian lama tak ada kabar" tutur Manda memulai


"tak ada pembenaran dalam tindakan yang aku ambil, bertemu pria lain tanpa izin suamiku. tapi percayalah kalau pertemuan itu hanya sebatas aku ingin mengetahui kabarnya dan alasan kenapa ia tiba-tiba ada di Bali bukannya di Jakarta bersama Raina" ungkap Bila jujur


sedang Marva kini fokusnya terpecah, mendengarkan pengakuan Manda dan memikirkan keadaan Raina yang belum juga ada perkembangan setelah melahirkan.


"lalu pertemuan kedua, kami tak sengaja bertemu saat aku ke psikiater, dia ada urusan dengan dokter Viona yang menangani kesembuhan mentalku. lalu Jefry menawarkan bantuan tapi aku menolak, jadinya dia hanya memberiku beberapa buku dan video langkah-langkah menangani trauma. kamu ingat paket hari itu?" tanya Manda diakhir kalimatnya yang hanya di respon deheman oleh Marva


"itu benar dari Jefry, maaf kalau aku tak mengatakan yang sebenarnya hari itu karna aku tak mau kamu merasa bersalah padaku yang masih berjuang menyembuhkan diri"


"lalu ke taman waktu itu?" tanya Marva mengingat pertemuan mereka di taman sesuai cerita Twins


"ah iya, di pertemuan kedua itu Jefry meminta untuk dipertemukan twins karna rindu pada mereka. aku nggak bisa nolak mengingat... maaf..." Manda mendongak menatap bersalah pada suaminya namun respon Marva malah mengangguk mempersilahkan Manda melanjutkan kalimatnya


"Jefry adalah sosok yang memberi peran ayah selama 3 tahun di hidup twins. walau mereka tidak terikat ikatan darah tapi kebersamaan selama itu tak bisa membuat aku maupun kamu dengan jahatnya memisahkan mereka, bukan?"


"hm" lagi, hanya deheman yang Marva responkan. cemburu? tentu saja. siapa yang tak cemburu jika kedua buah hatinya malah mengenal lelaki lain sebagai ayah pada masa twins bisa melihat dunia. tapi Marva memakluminya, sebab ia pun meraskan hal yang sama dengan Arvino yang kini juga sudah kembali pada ayah kandungnya.


"dan pertemuan ketiga, kemarin siang Jefry mengajak bertemu. dia pamitan mau pindah ke Thailand, negara ibunya. katanya dia tidak tinggal lagi di Amerika dalam waktu dekat"


'brengs*k'


Manda meraih lengan Marva yang melingkupi tubuhnya saat merasakan tangan lelaki itu mengepal di belakang punggungnya. Manda lalu mengelus tangan suaminya saat sudah dalam genggaman Manda


"kenapa pamitan sama kamu? apa dia lupa punya istri?" tanya Marva


"aku udah bilang sama dia untuk tidak pergi jika tak membawa Raina. aku takut aja dia ngalamin yang pernah kamu alami"


"dan apa keputusannya?" tanya Marva


"dia tampak berpikir tapi tak memberitahuku apa yang menjadi keputusannya" jelas Manda


dan malam itu, kebahagiaan sekaligus kesedihan Marva rasakan. bahagia untuk hubungan pernikahannya yang sudah memiliki titik terang masa depan cerah, dan bersedih untuk sang adik


'tak mengapa dia pergi, ada aku yang akan menjaga Raina dan keponakanku' batin Marva


Bersambung...


demi kalian aku nggak end kan part ini


tapi memang bahagianya nanggung yah. heheh

__ADS_1


__ADS_2