
Manda tengah berdiri sambil bersedekap dada menghadap dinding kaca di lantai teratas bangunan perusahaan utama Ivander Corp. hingga dia bisa leluasa memandangi atap-atap bangunan di sekelilingnya. dari tempatnya ia melihat mobil-mobil di jalan raya di bawah sana bagaikan beberapa ekor kumbang yang tengah merayap beriringan.
meski terlihat tenang tapi hati dan pikiran Manda sebenarnya tengah gusar.
"semua akan baik-baik saja" gumamnya menenangkan pikirannya
klik
suara angsel pintu membuyarkan kegusaran Manda, ia menoleh ke arah pintu dengan ekspresi herannya karna selama ia menjadi Ceo tidak ada yang lancang membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu dan tanpa izin darinya, bahkan sekertaris Jeal sekalipun.
bagai slow motion, pintu perlahan terbuka, dan sontak mata Manda melebar sempurna setelah tahu siapa tamu tak diundangnya, marah sekaligus terkejut. ingin rasanya melayangkan telapak tangannya di pipi pria itu, Manda muak melihat pria itu tersenyum padanya.
Marva memberikan senyum hangat setelah daun pintu terkuak dan netranya langsung bersirobok dengan pelototan mata menyala Manda. namun bagi Manda senyuman Marva tak lebih dari senyuman mengejek.
"kamu kemanakan anak aku breng...."
"om minggil. om halangin jalan kami tau ndak!!" teriakan protes dari suara kecil Zaafira membuat ucapan Manda terpotong
"silahkan masuk tuan putri dan pangeran" ucap Marva sambil menyingkir dari jalan
" hay mommy!" seru twins setelah memasuki ruangan
"twins" Manda berjalan mendekat kemudian berjongkok tepat di depan twins.ia membuka tangannya lebar dan meraih kedua buah hatinya ke dalam pelukannya.
beberapa menit lalu ia ketakutan setengah mati saat menjemput Zafier dan Zaafira di play grup namun tak mendapati twins disana. si brengsek Marva membawa twins tanpa izinnya, dan itu berhasil membuat Manda kalang kabut. ia bahkan hampir memecat semua guru di playgrup karna membiarkan twins pergi dengan orang lain tanpa meminta persetujuannya
Flashback
"maafkan kami mrs., kami membiarkan twins ikut bersama mr. Marva karna kami kira dia adalah bagian orang kepercayaan Mrs. kami melihat twins akrab dengan Mr. Marva dan tadi pagi juga Mr. Marva mengantar Mrs dan twins ke sekolah sampai Mr. Marva menunggu twins pulang" jelas kepala Playgrup mencoba membela diri
ketakutannya tak sampai disitu, ia menghubungi rumah dan menanyakan apakah twins sudah diantar pulang oleh Marva, namun ia malah mendapati kabar yang berhasil memacu kerja jantungnya
"twins belum pulang nak" beritahu Aline
"tenangkan dirimu, twins akan baik-baik saja. mereka bersama nak Marva kan? mami yakin twins akan aman, apalagi nak Marva terlihat sangat menyayangi twins" tambah Aline menenangkan.
"kita nggak bisa lihat orang dari sisi luarnya saja mami" balas Manda tercekat
__ADS_1
"oke-oke. sekarang coba hubungi nak Marva"
"Manda nggak punya kontaknya"
"lewat Mario"
dan setelah mendapat kontak dari Mario, Manda langsung menelpon Marva. ketakutan makin dirasakannya kala panggilan ke tiga tak terjawab. segala macam pikiran buruk menghantuinya. bagaimana jika Marva membawa twins pergi? apakah niat Marva sebenarnya? ingin memisahkannya dengan twins?
hingga panggilan ke 7, barulah panggilannya terjawab. dan lelaki brengsek itu dengan kurang ajarnya mengatakan ia tengah bersenang-senang dengan twins di arena permainan.
bersenang-senang? tak tahukah Marva jika Manda hampir gila memikirkan keberadaan twins?
tak bisakah lelaki itu menghargainya sedikit saja? Twins adalah hidupnya, tak punya hatikah Marva membawa twins begitu saja tanpa sepengetahuannya?
benar-benar lelaki brengs*k!!
"mommy sedih?" pertanyaan Zafier membuat Manda tersadar dari lamunannya, Manda mengecup kepala twins yang tengah mendongak menelisik wajah sedihnya
"mommy cari kalian" ucap Manda bergetar membuat twins kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh mommy mereka. sedang Marva merutuki dirinya karena lagi-lagi karna sikap impulsifnya membuat Manda bersedih
"maaf" lirih Marva yang tak digubris oleh Manda
"anda datang sendiri, jadi saya tidak berkewajiban untuk mengantar anda keluar ruangan saya, bukan?" sindir Manda saat melihat Marva ikut menyusul ke arah sofa dimana Manda membawa twins untuk didudukan di sana.
meski merasa diusir secara terang-terangan, namun lelaki beranak 2 itu memilih menebalkan muka dan tetap melanjutkan langkahnya, dengan tak tahu malunya ia ikut duduk di samping twins tanpa di persilahkan oleh pemilik ruangan
"saya datang dengan twins, jadi saya akan pulang jika bareng twins" jawab Marva tak tahu diri. lebih tepatnya berusaha terlihat cuek padahal hatinya tengah tersentil akan respon dingin Manda. sakit raasanya melihat tatapan benci dari Manda namun ia tak bisa melakukan apa-apa selain menekan sakit itu untuk saat ini
"istri dan anak anda bisa pergi jauh jika anda malah membuang-buang waktu disini. bukannya anda ke negara ini untuk mereka?" Manda mendengus kala ucapannya di angguki oleh Marva dengan santai
"istri dan kedua anak yang saya cari ada disini bersamaku. jadi untuk apa saya mencari kalau saya sudah menemukan mereka" sahut Marva berhasil membuat Manda menatap tajam ke arahnya
"Ap..."
"Api ngantuk" sahut Zafier membuat Manda menelan kekesalan
"Fiya juga. tapi pengen di tepuk-tepuk sama daddy" ucap Zaafira menyandarkan kepalanya di sandaran sofa
__ADS_1
Deg
Daddy?
beo Manda dan Marva dalam hati
"sama papa aja, mau?" tanya Marva berharap
"kalau om maksa yaudah nggak pa-pa" jawab Zaafira merubah posisinya jadi merebahkan kepalanya di pangkuan Marva. Maksa? oh Marva sungguh gemas dengan putri cantiknya itu. malu-malu tapi mau, bukan sih?
"Kalna Daddy nggak ada, jadi om aja yang terpuk-tepuk pantat Fiya" lanjut Fiya bergumam yang dengan senang hati diindahkan Marva
"Afi sini sayang" panggil Marva menepuk paha sisi yang kosong.
bola mata Manda bergerak mengikuti pergerakan putranya yang perlahan turun dari sofa dan berjalan ke sisi sebelah Marva, kemudian anak itu berbaring menjadikan paha Marva sebagai bantalan
Manda meringis menyaksikan pemandangan antara anak dan ayah itu. jika saja hubungan mereka baik-baik saja, pasti pemandangan ini akan ia lihat setiap waktu. namun nyatanya 3 tahun usia anaknya baru kali pertama mereka tertidur di pangkuan sang ayah kandung.
"maaf, aku hanya memiliki 2 paha dan 2 tangan, semua sudah di kuasai mereka. maaf kamu lain kali saja" seloroh Marva memecahkan lamunan Manda
"kalau mereka sudah tidur, silahkan pergi dari sini" balas Manda sambil beranjak menuju meja kerjanya. dan Manda tidak melihat bagaimana respon kedua buah hatinya setelah mendengar kalimat pengusiran itu
Marva mengelus sayang kedua kepala twins saat anak itu sontak mengubah posisinya menjadi menghadap ke arahnya dan memeluk pinggang Marva. erat, seolah tak ingin kehilangan moment langkah itu.
"tenang, papa janji tak akan meninggalkan kalian, nak" bisik Marva, tangannya beralih menepuk bokong anaknya sesuai dengan permintaan twins.
efek kelelahan dan kekenyangan membuat twins tak butuh waktu lama untuk terlelap, namun bukan hanya twins yang terlelap tapi Marva juga. lelaki itu tampak damai walau tertidur dengan posisi duduk.
"huh dasar tukang tidur" olok Manda pada mantan suaminya itu. sebenarnya ia tak nyaman akan keberadaan Marva, namun Manda juga tak tega membangunkan lelaki itu yang sepertinya baru bertemu dengan mimpi indahnya, lihat bibir lelaki itu bahkan berkedut-kedut
Manda berlalu memasuki kamar minimalis dalam ruangan kerjanya, tidak lama setelahnya ia membawa selimut.
"selimut saya hanya 2 dan kedua anak saya lebih membutuhkannya jadi maaf anda tidak keba... eh ngapain gue minta maaf. bodoh amatlah" gumam Manda sambil menyelimuti twins. sebenarnya ia bisa saja mengangkat tubuh twins kemasuki kamar, hanya saja Manda tak tega menganggu tidur twins yang terlihat sangat nyaman dengan posisi itu
Saat hendak beranjak, tiba-tiba tangan Manda dicekal. ia menoleh dan mendapati Marva tengah menatapnya dengan tatapan... menyesal?
"maaf" lirih Marva
__ADS_1
Bersambunggg...