
"ma?" lirih Marva tercekat, ia angkat perlahan kepalanya yang tertoleh kesamping akibat tamparan bertubi-tubi yang dilayangkan wanita tuanya, untuk pertama kalinya selama 28 tahun hidupnya tangan lembut yang selalu mengelusnya sayang mendarat keras di pipinya, tamparan dari wanita yang biasa ia sebut mama meninggalkan rasa panas dan kebas di kedua pipinya.
"anak kurang ajar! Brengsek!" pekik Reni dengan wajah dan mata memerah seolah ingin melenyapkan,, tidak, seolah ingin mengembalikan Marva ke dalam perutnya saat itu juga
Jika tadi Marva terkejut akan aksi mamanya, sekarang ucapan mamanya yang membuatnya tertohok. Ada apa dengan mamanya?Apa mamanya kerasukan setan rumah sakit? tebak Marva ngawur
Bukankah harusnya mamanya itu menyambut kesadarannya dengan terharu biru? ia baru sadar dari kecelakaan setelah 3 hari tidur.. ralat, pingsan.. Eh koma ~ya, sepertinya kata itu lebih masuk akal tak peduli bagaimana diagnosis dokter~ bukankah mamanya harusnya membawakan buah atau makanan kesukaannya mungkin. ia lapar, namun kenapa malah tamparan dan makian yang ia terima? protes Marva dalam hati
Ia melirik takut-takut ke arah Reni, lebih tepatnya ke arah kepalan tangan disisi tubuh wanita paru baya itu
"mama baik-baik saja?" akhirnya Marva bertanya dengan suara lirih, ia belum memahami emosi mamanya yang menyerangnya dengan kekerasan dan makian
"kenapa, Va?" tanya Reni lemah, kepalan tangannya berangsur melemah begitu juga dengan tubuhnya, wanita itu kemudian mendudukan bokongnya di kursi samping ranjang pasien dengan tatapan sarat akan kekecewaan. Wanita berusia 47 tahun itu jelas terlihat sangat terpukul
"ke..kenapa apanya ma?" tanya Marva balik. Ia bingung dengan kemarahan, amukan juga ekspresi Reni, apalagi dengan pertanyaan Reni barusan
Kenapa? Kenapa apa nih? Kenapa Marva baru bangun? Kenapa Marva terlibat kecelakaan? atau kenapa Marva terbangun lagi? Ah, opsi terakhir tak mungkin-lah, pikir Marva. sekesal-kesal apapun mamanya pada dirinya, Reni tak pernah menginginkannya menghilang dari jangkauan keluarga
"kenapa saya harus melahirkan anak pecundang seperti kamu" lirih Reni berucap namun nadanya begitu menyayat membuat mata Marva mendelik, rasa kebas dan perih seketika melayang dari pipinya, berpindah pada jantungnya yang seperti ditancapkan belati tajam, sakit nan perih. Marva mengaga tak percaya akan ucapan yang mamanya lontarkan
Mamanya menyesal melahirkannya? Bahkan mengatainya anak kurang ajar, brengsek dan.. pecundang? tak salahkan kalau Marva menaruh kecewa dan sakit hati pada wanita yang melahirkannya itu.
Seingatnya sebelum kecalakaan terjadi mamanya masih sering mengirimkannya pesan singkat agar Marva jaga kesehatan dan makan teratur tapi kenapa hari ini mamanya bisa kejam begini? Apa yang terjadi sebenarnya selama dirinya dirawat?
Jantung Marva memompa cepat.
Tunggu? Tak mungkinkan rahasia besar itu...
"berkat kebohonganmu, Saya sampai membenci menantuku. Merencanakan pembalasan dendam sedemikian apik hanya demi membalas sakit hatimu yang palsu..." Reni mengambil napas sejenak "perpisahan yang telah lama kamu rencanakan dengan memanfaatkan ketidakberdaayaan Bila... kamu berhasil menjadikan saya dan suami saya jadi orang paling bodoh dan kejam karna mempercayaimu" lanjut Reni tersenyum miris dengan tatapan tak terbaca
Duarrr
Ternyata benar. Ketakutan Marva selama ini terjadi juga. Kelakuan bajingannya di masalalu terungkap juga padahal ia dengan rapi menyembunyikannya.
Marva tak menyangka akan ketahuan secepat ini, padahal ia baru akan mengatakan kebenaran pada kedua orang tuanya setelah ia mendaptakan kembali Bila kepelukannya
"ma..." lirihan Marva teredam. Banyak hal yang ingin ia katakan, namun lidahnya kelu
Mamanya bisa sekecewa dan semarah ini mengetahui perbuatannya yang memanipulasi perceraian mereka. Lalu bagaimana Reni akan beraksi jika tahu kelakuan bejadnya memeperlakukan Bila di rumah mereka dulu? Juga kehadiran twins?
Baru saja ia kepikiran akan fakta itu, ucapan Reni berhasil menembuskan peluru tepat di jantungnya.
"saya bahkan menyumpah serapahinya beberapa hari lalu di depan umum, juga...juga kedua anaknya" Reni berucap sambil menenggelamkan wajahnya dikedua telapak tangannya dengan sikunya menumpu pada pahanya.
__ADS_1
Deg
Dan pengakuan Reni selanjutnya berhasil menarik paksa jiwa Marva dari raganya
"kedua anak manis itu ternyata adalah cucuku sendiri. Ia melahirkan kedua cucuku sendirian... Dan malah saya seenak jidat menghinanya, mengolok mereka dengan begitu kejam" ucap Reni dengan suara bergetar, ia menangis. Ibu kandung Marva itu hanya bisa menyesali perkataannya beberapa hari lalu.
Bagaimana ia harus menebus dosanya pada Bila? Bagaimana caranya ia meminta pengampunan pada wanita muda itu yang telah berjuang melahirkan kedua cucu kembarnya yang bahkan ia katai anak har*m
Marva juga sama halnya dengan Reni, mengatai Bila sebagai wanita munafik, mengatai buah hatinya sendiri sebagai anak lelaki lain, bahkan ia pernah berencana keji pada keduanya demi mendapatkan kembali Bila
"maafin Marva ma" lirih Marva bergetar setelah terdiam cukup lama. lelaki itu juga menangis. ia samakin tertohok melihat mamanya menangis dihadapannya karna kesalahannya.
"jauhkan tanganmu dari tubuhku!" desis Reni dengan menekan kalimatnya saat tangan Marva menyentuh bahunya
Deg
Semarah itu mamanya padanya? Bahkan mamanya tak ingin ia sentuh?
"tangan itu, sudah berapa kali kamu layangkan ke tubuh Bila? Luka biru-biru, bekas cak*ran, luka robek pada dahi Bila, semua hasil karya tangan itu kan? Tangan kotor itu berapa kali menyentuh para wanita pelac*r? Jangankan hanya tangan, seluruh tubuhmu itu menjijikan Marva!! Kamu pria gila! Bagaimana mungkin kamu dengan tega memperk*sa istrimu sendiri dengan kejam saat kamu melayani para jal*ngmu begitu manis? Biadab!! Kamu bahkan menyuruh seseorang untuk menjamah istrimu setelah kau rebut paksa mahkotanya?! Otak kamu dimana?!!" teriak Reni frustasi, ia merasa gagal jadi seorang ibu
Dorrr
Marva kembali merasa ditembak tepat dijantungnya. Habis sudah. Terkuak semua kebrengsekannya. Mamanya sudah mengetahui semuanya. Semuanya tanpa terkecuali. Dari mana? Marva tak lagi ingin berfikir dari mana mamanya tahu semua fakta masalalunya yang ia sendiri baru tahu beberapa fakta lainnya 3 hari yang lalu. Marva makin menunduk dalam dengan isakan tangis penyesalan
Sontak membuat Reni dan Marva menoleh ke arah pintu
"pah.."
"papa.."
"bilang kalau yang baru saja saya dengar adalah kebohongan" Pinta Phelan sambil melangkah masuk
"kamu tidak seberengsek itu kan Marva?" tanya Phelan menuntut
"kamu bermain wanita ****** dan apa tadi.. Menyewa seseorang untuk memperkosa istrimu sendiri?" tekan Phelan bertanya
"pa.."
"jawab saya!" hardik Phelan membuat mereka terjengkit
"maafin Marva pa" lirih Marva yang berhasil memancing langkah lebar Phelan menuju ranjang Marva, dan..
Bugh
__ADS_1
Bogeman keras ia daratkan di wajah sang putra hingga membuat Marva terjatuh dari ranjang pasien
"anak sial*n!!" teriak Phelan membahana. Beruntung ruangan ini adalah ruangan Vip yang tak akan menganggu ketenagan orang lain diluar sana.
Belum merasa puas, Phelan memutari ranjang dan meraih Marva untuk berdiri
Bugh
Bugh
"om udah om" lerai Radit yang memang sedari sebelum kedatangan Reni ia sudah berada dalam ruangan Marva
"tidak. Binatang mengerikan ini harus diberi pelajaran atas kelakuannya" Ujar Phelan setelah menghempas tubuh Radit
Deg
Kembali ia raih tubuh Marva dan kembali memukuli putranya membabi buta. Phelan tak peduli bagaimana kondisi Marva, yang ada di pikirannya adalah kebiadaban Marva, sesuai yang ia dengar dari ucapan Reni yang diakui Marva dengan respon menangis dan meminta maaf
Kedua sudut bibir dan sudut mata kiri Marva robek, hidungnya mengeluarkan darah, tubuhnya remuk, Marva sudah terkulai lemah di lantai dingin namun Phelan masih kuat memberinya kepalan tinju
'Bila.. Aku pernah melakukan ini pada Bila, memukulinya sampai pingsan. Maafkan aku Bila. Ternyata rasa sakitnya bukan hanya di tubuh tapi juga di hati' batin Marva terlempar pada kekejamannya 4 tahun lalu. dipukuli dengan orang yang kita sayangi seolah menganggap diri binatang menjinjikan yang harus dilenyapkan ternyata sakitnya luar biasa
"uhuk.. Uhuk.. hajar pah, uhuk uhuk bunuh aku, aku memang pantas mendapatkan semua ini, uhuk uhuk" pinta Marva terbatuk dengan mulut berd*rah, ya, ia meminta kematian dari pada pengampunan dari sang ayah saat Phelan mengangkat kakinya di atas perutnya seolah lelaki tua itu ingin melenyapkan Marva sekarang juga
"ya, tanpa kamu minta.. Kamu mem..."
"mas, udah" potong Reni dengan suara lirih yang masih terduduk dikursi dengan tatapan datar
"saya sudah kehilangan anak. Jangan buat saya hidup menderita jika mas dipenjara" lanjut Reni mendongak menatap suaminya
Deg
Perlahan kaki Phelan ia tarik untuk berdiri tegak. Matanya berkaca-kaca melihat bagaimana sorot terluka netra pemilik hatinya
Ia lirik sesaat Marva yang meringkuk mengenaskan di lantai dingin dengan kesusahan mengatur napas, terbesit rasa kasihan menjalari nuraninya, namun mengingat bagaimana anak yang ia banggakan sejak masih meringkuk di rahim sang istri telah tega melukai 2 wanita sekaligus juga menelantarkan kedua cucunya membuat Phelan mengabaikan nuraninya alih alih menatap kecewa pada Marva
"mama benar, kita baru saja kehilangan putra sulung kita" ucap Phelan sambil membersihkan kedua telapak tangannya bergantian
Deg deg
Marva meringis merasakan nyeri. bukan karna tamparan yang diberikan mamanya, bukan juga karna pukulan dari papanya, bukan karna luka fisiknya, tapi lukanya tepat di hatinya.
Kedua orang tuanya telah menganggapnya mati
__ADS_1
Bersambunggg...