Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Tamparan


__ADS_3

Deg


bagai terjun bebas dari langit, takut dan gemetar, telinganya berdengung hingga tak bisa mendengar apa-apa seketika, Marva mematung mendengar suara lirih putrinya, sebuah pertanyaan yang membuatnya memucat, aliran darahnya serasa berhenti saat itu juga. ia seolah berada di jurang penghakiman.


jadi twins sudah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya? sampai mana kedua anak itu tahu?


belum sempat detak jantungnya berfungsi dengan baik, Zaafira kembali menyahut, putri kecilnya itu tak memberinya celah untuk bernapas barang sebentar


"jika om adalah papa, apa om meninggalkan kami kalna om punya anak lain?"


pertanyaan Zaafira jelas dibalas gelengan cepat oleh Marva. tidak, Marva tak pernah meninggalkan mereka, karna Marva tak tahu jika perbuatannya kala itu benar-benar membuahkan hasil. andai saja ia tahu akan keberadaan twinsnya ia pasti mencari Bila kesagala penjuru dunia, ia tak akan berdiam diri dengan menunggu kepulangan Bila selama bertahun-tahun lamanya. ya, ia menyesal karna hanya mencari Bila diseluruh indonesia, dan saat tak menemukan informasi apapun, Marva memilih menghukum dirinya sambil menunggu kepulangan Bila ke rumah mereka.


Namun kembali kenyataan menamparnya bertubi-tubi, Marva tertunduk malu di atas rasa sesaknya. memang benar ia tak meninggalkan mereka tapi Marva malah mendorong mereka pergi dengan perkataannya yang begitu menyakitkan pada ibu dari twins dulu. siapa wanita yang akan kembali padanya kala ia sudah menghancurkan wanita itu tanpa sisa.


"aku tidak perlu pengaman untuk layananmu kan? toh ****** seperti mu tidak mungkin hamil karna pasti memakai pil, kalaupun kau hamil aku bersumpah itu bukan anak aku karna benihku tak mungkin sudi dibuahi oleh rahim murahan sepertimu. dan pasti itu anak dari om-om mu diluaran sana"


Ya, ia pernah berkata sekejam itu akibat kebenciannya pada Bila ditambah ia buta akan fakta malam itu, dan sekarang hanya penyesalan yang menemaninya.


"jika om papa kita, lalu tenapa hali itu om mendolong Fila, om menyakiti Fila, om juga mendolong kak Api. butannya seolang papa ndak boleh melukai anaknya? dan jawabannya kalna om butan papa kita. om hanya papanya Vino" cercah Zaafira melirik kesal ke arah Marva yang menunduk bak kucing yang ketahuan mencuri ikan sang majikan


Jleb


kali ini Marva merasa ada belati panas yang menancap tepat pada jantungnya. perbuatannya yang tak peka dengan keberadaan twins awal bertemu kini menjadi boomerang. nyatanya ia sudah memberikan luka pada kedua buah hatinya sedalam itu.


Bruk


Marva menjatuhkan dirinya ke lantai karna tak lagi bisa menyanggah tubuhnya. ia berlutut di sana dengan tangan mengenggam masing-masih tangan kecil anaknya, mendongakan kepalanya menatap lamat-lamat wajah kedua buah hatinya, matanya sudah banjir air mata.


"maafkan papa nak, maafkan papa yang jahat ini. papa nggak ada maksud melukai kalian. tolong maafkan pa...


"kamu?" desis seseorang dari arah pintu membuat ucapan Marva terpotong. menyadari siapa yang datang Marva langsung berdiri


"Bil.."


PLAK


PLAK


"kamu apakan anak aku hah!!" pekik Manda dengan wajah merah padam, wanita itu susah payah mengatur napasnya

__ADS_1


Ceklek. pintu terbuka, dan...


"si*lan!!" pekik seseorang dan langsung berlari menerjang Marva


Dug


"laki-laki brengs*k!"


Dugh


"setelah membuang mereka kini kau dengan enteng mencelakainya?!"


Brugh


"bangun si*alan!!" Narendra meraih kerah baju Marva, memaksanya berdiri


PLAK


"laki-laki biad*b!! cucuku tak salah apa-apa, kenapa kau lampiaskan pada mereka hah?!"


PLAK


"belhenti opa. jangan pukul om ini lagi. kasihan, anaknya di lumah menunggunya pulang. nanti anaknya menangis lihat papanya babak belur" ucap Zafier dengan mencuri-curi lirikan pada lelaki dewasa yang tengah di cengkeram kerah bajunya oleh tangan sang kakek


Deg


luka pukulan dan tamparan di tubuhnya tidak ada bandingannya dari rasa sakit di hatinya. Marva lagi-lagi menitikan air matanya mendengar ucapan putranya.


berbeda dengan Narendra, lelaki baya itu ebenarnya ingin sekali meremukan tulang-tulang Marva hingga mantan menantunya itu tak lagi memiliki tenaga untuk menyakiti kedua cucunya. namun Narendra menuruti ucapan Zafier karna tak mau kedua cucunya melihat lebih banyak adengan kekerasan secara langsung. katakanlah Narendra terlalu khawatir hingga ia hilang kendali di depan twins. bagaimana tidak? ia menerima telpon dari guru twins bahwa Zaafira kecelakaan dan di bawah oleh Marva. tentu Narendra tak lagi berfikir positif mengingat bagaimana kelakuan Marva yang rela meninggalkan Manda dan twins demi wanita dan anak Marva dari selingkuhannya itu.


"terkutuk kau si*lan" desis Narendra kemudian ia hempaskan cekalan tangannya dari kerah Marva hingga tubuh Marva menubruk brangkar


sedang Manda yang dari tadi mematung melihat bagaimana ayahnya menghajar mantan suaminya itu melangkah mendekat ke arah twins, ia kemudian meraih kedua buah hatinya ke dalam pelukannya. detak jantungnya belum sepenuhnya berdetak normal.


Bila takut. Takut sesuatu terjadi pada twins. sungguh ia tak akan memafkan dirinya jika sampai terjadi apa-apa dengan twins. apalagi laporan dari guru twins yang menyebut nama "Pak Marva" di insiden jatuhnya Zaafira membuat Bila tak bisa berpikir jernih. ia bahkan tak memakai healsnya saat turun dari mobil karna itu akan menghalangi larinya menuju ruangan twins


"mom, Fiya mau pulang" lirih Zaafira dalam gendongan mommynya yang di angguki oleh Manda


Marva menatap nanar punggung ke empat orang yang kini berbalik dan beranjak pergi, meninggalkannya seorang diri dalam kehampaan dan kesakitan.

__ADS_1


inilah resiko yang harus ia terima dengan lapang dada, resiko pernah menjadi pria kejam di masalalu. dan yah, sejarah tak mungkin di ubah. kini ia harus bersiap diri memetik buah dari karmanya, disalahpahami oleh mereka yang pernah ia lukai dan sakiti. ia akan selalu salah di mata mereka.


senyum lebar spontan Marva berikan kala kedua kepala kecil itu menoleh sekilas ke arahnya saat mereka sudah di ambang pintu, namun hanya sekilas sebab tubuh jangkung Narendra menghalangi pandangan antara ayah dan anak itu.


"maafkan papa twins" monolog Marva melepas kepergian mereka.


Marva membiarkan mereka pergi kali ini. karna sadar jika ia mengejar hanya akan pukulan yang ia terima.


jujur, ia sudah muak mendapati dirinya selalu berakhir tertindas namun sekali lagi ia tak memiliki alasan untuk membalas. karna sekali lagi itu karma yang harus ia terima dengan lapang. ya, ia harus berbesar hati jika ia ingin mendapatkan kesempatan bukan?


Marva beranjak, ia tersenyum di balik kesakitannya.


seridaknya twins sudah mengetahui sosok dirinya dalam hidup mereka.


\=\=\=\=\=\=


walau badannya masih sedikit remuk akibat 2 ronde kena pukul gratis dari Narendra kemarin, tapi tak menyurutkan semangat Marva untuk menemui kedua buah hatinya. ia ingin mengetahui bagaimana luka Zaafira, apakah sudah kering? jika perkataan dokter benar itu harusnya sudah kering kemarin sore, namun Marva tak puas jika tak melihatnya langsung.


sekalian mengantar Arvino, Marva menunggu twins di sekolah. ia sengaja datang lebih pagi agar ia juga bisa melihat ibu dari kedua buah hatinya itu. kali aja hari ini wanitanya itu yang mengantar twins ke sekolah. Marva berharap


namun hingga semua murid sudah memasuki kelas masing-masing, twins belum juga muncul. Marva mulai gelisah. ia datangi wali kelas twins untuk menanykan apakah anaknya itu nitip izin hari ini mengingat twins kemarin mengalami insiden.


"maaf pak, si kembar sudah kembali lagi ke sekolah aslinya"


"maksud ibu apa?" tanya Marva berusaha tenang meski jantungnya berdegup kencang.


"Zafier dan Zaafira disini memang hanya sebentar pak, karna mommynya sedang tugas di jakarta jadi twins ikut pindah...Pak?!" ucapan si ibu guru terpotong kala Marva dengan tak sopan berlari pergi tanpa mengucap sepatah kata


Marva berlari kesetanan menuju mobilnya...


tidak, twins tak boleh pergi darinya, Bila tak boleh meninggalkannya lagi.


dan disinilah ia sekarang, di pelataran rumah bertingkat 2 yang memang telah tak berpenghuni lagi.


kenapa takdirnya begitu menyakitkan? baru saja mengetahui fakta akan twins, belum 24 jam twins meminta alasan kenapa dirinya tak pernah hadir dalam hidup mereka. tapi ia sudah ditinggal lagi. penghakiman baru saja mulai tapi ia sudah kalah telak karna tak diberi kesempatan untuk bersuara. semalaman ia tak tidur karna memikirkan twins. Marva bahkan sudah menyipakan jawaban untuk mereka.


ya, ia berniat jujur pada twins. namun apa ini? kenapa mereka sudah pergi sebelum ia menjawab pertanyaan kedua buah hatinya itu?


apa memang dirinya sudah tak memiliki celah untuk berjuang mendapatkan kesempatan dari ketiga harta berharganya itu?

__ADS_1


Bersambunggg..


__ADS_2