Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- kecapean


__ADS_3

"aku nggak capek kok" balas Manda cepat penuh makna. namun Marva yang kurang peka hanya tersenyum menanggapi.


istrinya ini memang sosok wanita yang tidak mau dianggap lemah dalam hal apapun. pikir Marva


"yaudah kita tidur yuk, udah jam 10 ini" tutur Marva lembut lalu membawa jemari lentik Manda di wajahnya untuk dikecup


sontak tatapan Manda langsung meredup, ciuman hangat Marva di tangannya tak mampu membuat dirinya merasa hangat. dirinya malu, secara tidak langsung Marva menolaknya.


Manda kesal, padahal ia sudah berperang melawan segala ego dan traumanya, dirinya siap memberikan hak suaminya tapi sepertinya lelakinya itu kurang peka. masa iya harus dirinya yang minta duluan.


untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa menit, Marva dibuat keheranan akan tingkah sang istri, apalagi wanita yang baru saja memberikannya belaian lembut di wajahnya kini berbalik memunggungi dirinya


Marva menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan sang istri, lalu lelaki itu melingkarkan tangannya diperut istrinya setelah memasukan tangannya di dalam selimut. menarik tubuh Manda hingga menempel pada tubuhnya tanpa celah sedikitpun dengan lengannya jadi bantal wanitanya itu. dan saat hendak mencium kepala istrinya, sontak pergerakan Marva terhenti kala melihat punggung putih yang terekspos sempurna dihadapannya, hanya tali kecil sekecil spaghetti berwarna hitam yang tersampir disana. Marva lalu meraba kain pada bagian perut istrinya, kain licin dan tipiss..


"sayang?"


"hm" jawab Manda malas-malasan


"kamuuu..."


"udah jam 10, tidur gih" sela Manda dengan nada ketusnya


"kamu mau?" bisik Marva mengabaikan sarkas sang istri


"hanya untuk ku?" tanya Marva lagi saat tak mendapati jawaban dari Manda padahal Marva yakin wanita itu jelas mendengar bisikannya

__ADS_1


Cup


Lelaki itu mendaratkan kecupan di kepala bagian belakang Manda kala wanita itu tak juga menjawabnya. Marva tahu sang istri bukannya tak niat menjawab pertanyaannya melainkan karna saat ini istrinyaa itu tengah merasa malu padanya


"jangan berusaha terlalu keras. tapi aku anggap itu sebuah kemajuan untukku. terimakasih sudah berusaha memikirkan hal tersebut" tutur Marva. ia tahu jika sang istri tak mudah mengambil tindakan pro ini.


"tapi ini memang hak kamu, harusnya aku udah kasih kamu sejak kita rujuk" balas Manda dengan suara kecil seperti bisikan.


Marva tersenyum. senang, haru, dan merasa berharga mendengar penuturan sang istri. saat dirinya sendiri tak bisa melepas pergi jauh kesalahannya di masalalu yang selalu menjadi mimpi buruknya, menjadi rasa sesal yang abadi, menjadi sakit hati yang selalu menemani renungannya, tapi nyatanya sang istri yang menjadi korban kebrengsekannya sudah sejauh ini menerimanya kembali.


alasan dibalik kenapa ia tak pernah menuntut haknya tak lain karna dirinya tak ingin membuat wanita itu tertekan.


jadi apa yang Marva tunggu? sang istri sudah memberi lampu hijau.


memejamkan mata guna memilah beberapa bisikan yang berperang di otaknya. tak bisa Marva pungkiri bahwa kode sang istri membuat naluri prianya langsung setuju, tapi sebagian lagi sisi dirinya memperingati. membisikan jangan egois. egois dalam artian ia tak mau menerima mentah-mentah kode sang istri tanpa mempertimbangkan kesan yang akan wanita itu dapatkan darinya.


sungguh, ia ingin menikmati percintaannya dengan sang istri, dan kalau mereka melakukannya sekarang dengan tubuh kelelahan pasti mereka tak akan menikmati malam pertama mereka yang tertunda selama dua bulan ini. Marva ingin menikmati setiap momennya dan Marva mau Manda juga menikmatinya.


"besok urus cuti untuk satu minggu, lusa kita berangkat honeymoon" putus Marva membuat Manda langsung menolehkan kepalanya lewat pundaknya


"jadi... nggak jadi?" tanya wanita itu dengan suara pelan


"memangnya kamu udah siap banget?" bukannya menjawab Marva malah melempar tanya balik


tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Manda langsung membalikkan tubuhnya, memeluk tubuh Marva dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelakinya.

__ADS_1


terkekeh, Marva tahu jika sang istri melakukannya bukan karna wanita itu sudah siap sepenuhnya, namun hanya karna menghargai dirinya yang sepantasnya mendapat hak itu. meski begitu Marva bahagia. istrinya telah banyak kemajuan


"makasih sayang, aku mencintaimu, sangat" ucap Marva sambil membalas memeluk wanita pemilik hatinya, meletakan kepala Manda tepat di jantungnya.


berharap istrinya bisa merasakan detak jantungnya yang selalu berpacu diluar normal karna kehadiran wanita itu. seberapa bahagia dan harunya dirinya telah berada dititik ini.


"masih ribut aja" gumam Manda menikmati detakan jantung sang suami


"selalu jika itu kamu" balas Marva


"kau tau? aku selalu suka saat kau mendekapku. itu terasa hangat" kalimat balasan dari Manda sebelum wanita itu memejamkan mata sembari mendengarkan irama sentakan jantung Marva


"untuk malam ini kamu bebas tapi satu minggu kedepan aku pastikan kamu tak akan memiliki celah untuk kabur dari kungkunganku, sayang" goda Marva


tak ada balasan dari Manda selain pukulan di punggung lebar suaminya.


Bersambung...


halu autor cuman sampai sini dulu.


ada yang nungguin capt 21+ nggak nih?


next chap deh autor ridho mereka buka puasa. hahaha.


tapi jujur autor belum nemu ide nih...

__ADS_1


ada saran mungkin dari kalian?


__ADS_2