
mata bulat milik Zaafira tak lepas dari seorang wanita dewasa yang tampak fokus mengupas buah-buahan berduri di atas meja dapur. meski netranya berpendar lurus ke arah sang mommy, tapi tubuh anak itu tampak tak tenang, kedua tangan adik Zafier itu bahkan meremas kedua pahanya dibalik meja makan.
"Udah nggak sabar yah makan nanasnya, sampai lihat mommynya gitu banget?" tanya Marva yang memang sedari tadi mengamati gerak-gerik sang putri. pertanyaan Marva itu sontak mengalihkan atensi Zaafira dari sang mommy
"tidak papa, Fiya ndak suka makan nanas, kecut" jawab Zaafira spontan setelah menoleh ke arah sang papa yang berdiri menyander di pintu ruang dapur
"bukannya Fira sendiri yang tadi mau coba makan nanas?" pancing Marva sembari berjalan ke samping putrinya
"itu bukan untuk Fira, papa, tapi untuk mommy sama adik bayi supaya..eh ups" Zaafira segera menutup mulutnya dan membuang muka membuat Marva mendesah dalam hati karna apa yang ia takutkan memang benar adanya. meski ucapan Zaafira terpotong tapi Marva sudah bisa menyimpulkan pikiran putri kecilnya. putrinya yang sebentar lagi berusia enam tahun itu memiliki pikiran licik yang sangat tak pantas anak itu alami
bagaimana bisa?
putrinya yang sering menangis kejer saat melihat kucing jalanan mati bagaimana bisa memiliki pikiran semengerikan itu? melenyapkan sesuatu yang anak itu tidak sukai? dan itu calon adiknya? bagaimana bisa anak itu begitu tega?
"ini sayang, buahnya" ucap Manda sembari menyodorkan potongan nanas di hadapan Zaafira
"khem" Marva berdehem kecil, berusaha menarik atensi sang istri yang nampak berbinar menatap potongan buah segar berwarna kuning itu.
'kamu nggak berniat makan itu kan?' tanya Marva melalui tatapannya ketika Manda menoleh padanya. namun gerakan mulut istrinya membuat Marva ketar ketir
'dikit aja boleh?'
Marva melotot tak percaya, bukankah Manda tahu bahwa buah itu sangat berbahaya buat kandungan wanita itu? nggak! Marva harus membuang buah itu secepatnya
"Fira..."
"ayuk kita ke ruang tv, kasihan kak Afi nunggu disana sendiri" potong Manda cepat membuat ucapan Marva yang hendak mengakhiri kepura-puraan mereka untuk mengetes sampai mana putrinya bertindak
Zaafira langsung turun dari kursi dan berlalu pergi dari sana tanpa curiga apa-apa
"Bila jangan berani-berani kamu..."
"ck! iya mas iya, aku tahu kok, cuman kek segar aja dipandang, keknya icip dikit nggak...eh eh mas" segera Manda menahan tangan Marva yang sudah merampas piring potongan buah nanas itu dan hendak membuangnya ke tempat sampah
__ADS_1
"biar mas yang ngomong sama Zaafira kalau perbuatannya ini enggak baik"
"dia itu anak yang cukup keras mas, dia tidak akan puas jika apa yang ia mau tidak terpenuhi"
"jadi maksudmu, kamu mau mengorbankan bayi kita?" tanya Marva tak percaya. jadi ini rencana Manda? bodohnya Marva langsung setuju dengan rencana rahasia sang istri saat ia memberi tahu keinginan Zaafira yang pengen mencoba buah nanas, nangka dan durian bersama-sama
"ya enggak lah, sudah gila apa aku. kita tetap mewujudkan keinginannya agar merasa tetap diprioritaskan, ini untuk memberinya efek jera tanpa harus membuatnya merasa kita lebih mengutamakan bayi ini dari pada dirinya" jelas Manda sembari mengambil kembali piring di tangan Marva "nanti aku pura-pura aja makannya" lanjut Manda memberitahu
"tapi janji yah, jangan sampai lidah kamu menyentuh buah ini" tutur Marva melirik miris ke arah isi piring
"iya. ayo nyusul anak-anak" Manda lalu berlalu menyusul kedua buah hatinya
"yang mau makan nanas siapa nih, duh segar banget kelihatannya, ssstt" ucap Manda setelah duduk di dekat twins, wanita berumur 25 tahun itu bahkan ngeces diakhir kalimatnya
"Fira sini sayang, mommy suapin" Manda memberi suapan pertama pada sang putri yang hanya melirik jijik buah manis perpaduan asam segar itu
"ini buah nanasnya enak kok, yaudah, mommy duluan yang makan yah, nanti Fira makan juga kan?" tutur Manda pura-pura maklum karna ini kali pertama putrinya mau memakan kembali buah yang mengandung vitamin C tersebut setelah anak itu mencoba di usia dua tahun dan anak itu langsung menangis karna tak suka rasanya kala itu
karna memang ada rencana dibaliknya, Manda menggerakkan garpu ke arah mulutnya dengan gerakan pelan.
sedang Zaafira ketar ketir. tatapannya tertuju pada garpu yang berisi potongan kecil buah nanas yang sebentar lagi akan membunuh bayi dalam perut mommynya seperti kata guru barunya.
"mom, ini buat Fiya aja" anak itu langsung merampas garpu dari tangan Manda
baik Manda juga Marva yang berdiri mengamati dari jauh interaksi istri dan anaknya itu bernapas lega
"Fiya nggak mau bagi buat mommy?" tanya Manda membuat Marva melotot, segera lelaki dewasa itu menyusul. apa-apaan istrinya, bukankah misi mereka sudah selesai? putrinya itu masih anak-anak, pikirannya labil, jangan sampai Zaafira kembali berubah pikiran. Marva mengambil tempat duduk di sofa tepat di belakang Manda, jaga-jaga jika saja istrinya itu berani menyicip potongan nanas itu
"nggak! nanti mommy sama adik bayi..." ucapan Anak perempuan itu terpotong kala ingatannya terlintas pada percakapannya dengan seorang guru baru di sekolahnya
'kalau kamu punya adik nanti papa kamu buang kamu lagi seperti Vino yang dibuang saat kamu sama kakak kamu itu datang"
"yaudah deh untuk mommy aja" Zaafira menyodorkan garpu ke hadapan sang mommy dengan memalingkan mukanya
__ADS_1
"Afi mau coba mom" Zafier yang sedari tadi asik nonton film kartun favoritnya bersuara setelah mengamati warna buah nanas yang kelihatan segar
"enak sayang?" tanya Manda setelah menyuapkan potongan kecil ke mulut Zafier
"kecut, tapi manis. enak, Afi suka" ucap si sulung memancing Zaafira melirik sinis ke arah kakaknya itu
"kecut ya kecut, mana ada kecut campur manis" dumel anak itu pelan sembari kembali membuang muka karna merasa kalah oleh sang kakak yang berani memakan nanas padahal yang ngotot ingin mencoba kan dirinya
"sekarang giliran mommy nih" ucap Manda melirik sang putri namun anak itu tampak tak terpengaruh untuk menoleh ke arahnya
"aaaa" potongan yang hampir berada di depan bibir Manda itu kalap oleh sebuah mulut sang suami yang tiba-tiba muncul di samping wajahnya, dan gerakan cepat Marva itu sontak membuat Manda terkejut hingga garpunya terjatuh
Zaafira mendengar keributan di belakangnya segera menoleh dengan wajah ketakutan
"mommy?" panggilnya dengan nada gemetar
melihat situasi yang menurut Marva tepat, segera ia menahan wajah istrinya agar tak berbalik ke arah Zaafira
"saatnya, saatnya sayang, ayok pura-pura pingsan" bisik Marva pada sang istri yang hanya mengerjab bingung.
"baring kesini Bil, lemaskan tubuhmu" Marva sudah ikut duduk di samping sang istri dan menarik tubuh tegang Manda ke pangkuannya namun sepertinya sang istri yang katanya ingin mengerjai sang putri tampak kehilangan ide
"mommy, mommy kenapa?" tanya Zaafira sembari menyeret tubuhnya menggapai punggung mommynya yang tegang
dan sepertinya Manda baru mengerti situasi, salahkan Marva yang membuatnya terkejut hingga ia lupa misinya. segera wanita hamil itu melemaskan tubuhnya dan menyenderkan kepalanya di dada Marva
drama banget pasutri itu.
"sayang, hei, bangun" ucap Marva sembari mengelus pipi sang istri tapi netra lelaki itu mengarah pada sang putri yang sudah berlinang air mata dengan tubuh gemetar
Marva kasihan melihat putrinya, tapi anak itu memang harus diberi pelajaran agar kedepannya tak lagi berpikiran demikian.
sepersekian detik selanjutnya Zaafira histeris ketika sang mommy tak menanggapi panggilannya. anak itu makin menjerit ketakutan ketika melihat mommynya memejamkan matanya di pangkuan sang ayah
__ADS_1
"mommy bangun, maafin Fiya mom, Fiya nggak tau kalau mommy akan kesakitan juga, Fiya mohon ampun mom, bangun mommy, Fiya janji tidak nakal lagi, huwaaa"
Bersambung...