
Mata bengkak nan lebam itu menatap sendu kepergian kedua orang yang selalu membuka lebar tangannya untuk merangkul dan memberinya semangat jika ia memiliki masalah selama 28 tahun hidupnya. Dua orang yang mengantarkannya lahir ke dunia kini meninggalkan dirinya yang terbaring menyedihkan di lantai dingin dengan raga dan jiwa yang remuk redam
Ya, bukan hanya raganya yang berdarah akibat serangan dari Phelan tapi jiwanya juga.
Kedua pemilik nama yang tercantum di akta kelahirannya dengan status orang tuanya itu menutup mata dan telinga kala ia menyeret tubuhnya untuk meminta pengampunan, bahkan papanya menghempas kasar tangannya saat ia meraih kaki pria tua itu, mamanya malah tak sudi menatapnya setelah wanita tuanya itu mengatakan jika putra pertama mereka sudah tiada, itu berarti yang dimaksud Reni adalah dirinya. Di masih bernapas namun sudah dianggap tiada oleh kedua orang tuanya, sakit hati Marva tiada bandingannya.
Jantungnya seperti dicincang, begitu juga dengan hati dan paru-parunya, tulang-tulangnya melemah bak plastik yang di beri kobaran api. Marva terkulai tak berdaya dengan segala rasa sakitnya
Marva akui, pepatah yang mengatakan karma tak semanis madu benar adanya, bahkan cara kerja karma lebih sadis dari sianida.
"Va?" panggil Radit yang berdiri disamping Marva namun diabaikan oleh sang pemilik nama
"ayok bangun" ucap Radit yang mulai berjongkok dan meraih tubuh lemah Marva
"pergi." lirih namun tajam Marva berucap sambil menyingkirkan kedua tangan Radit yang berada di bawah ketiaknya yang hendak membantunya bangkit
Radit menghela napas panjang, bukannya menyingkir ia kembali mendekat dan memaksa Marva untuk beranjak
"lepasin gue" desis Marva yang diabaikan Radit
"brengs*k" umpat Marva saat Radit menghempaskannya ke brangkar, beruntung reflek tangannya menyanggah tubuh lemahnya hingga ia tak jatuh terjerambat di ranjang mini itu
"berat, lo" balas Radit acuh
Ceklek
Suara pintu terbuka mengalihkan atensi kedua lelaki dewasa itu
"selamat siang, dok" sapa Radit menampilkan senyum ramahnya tapi berhasil menimbulkan kerutan di dahi sang dokter
__ADS_1
"selamat sore, pak" balas si dokter setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya
"oh astaga. Benar-benar pengaruh negatif berada di dekat si Marva, gue ampe lupa waktu gini" gumam Radit menggeleng kecil kala ia juga melihat benda kecil pengingat waktu yang melingkari pergelangan tanganya
"insiden kecil dok, biasalah lelaki jagoan yang pengen ngetes punya berapa banyak nyawa" ucap Radit ngawur saat menyadari ekspresi sang dokter yang tampak syok melihat keadaan Marva yang babak belur
Insiden kecil? Kecil?
Marva langsung mendongak memberikan tatapan tajamnya pada sekertaris si*lannya itu
"tolong periksa dia dok, kali aja nyawanya udah di ujung tenggorokan" lanjut Radit membalas tatapan tajam Marva dengan lirikan sinis
"sus, tolong bantu pasien berbaring" titah dokter yang diangguki oleh wanita muda berpakain serba putih di belakangnya
"tidak perlu, saya tidak butuh perawatan" sahut Marva dingin nan datar
Untuk apa dirawat? Kalau semangat hidupnya sudah tidak ada. Ia tak lagi memiliki tujuan. Semua musnah. tidak ada lagi yang tersisa untuk ia pertahankan akibat dirinya sendiri yang terlalu brengs*k
Obsesi masa mudanya menghancurkan masa depannya.
Hanya demi mempertahankan cinta pertamanya yang seorang penghianat, ia dengan keji menyiksa istrinya agar segera enyah dari hidupnya. Suami biadab! Dan kini buah dari kebiadaban-nya telah ia petik dan ia nikmati dengan khidmat hasil pahitnya yang berduri
kehilangan Bila, wanita yang ia inginkan setelah kepergian istrinya itu. Bahkan satu bulan setelah kepergian Bila, Marva hanya akan merasa damai jika berada di kamar Bila. 5 bulan mencari dan tak ada jejak sedikitpun jiwa Marva mulai goyah, ia kehilangan kewarasannya namun karna Ada papa dan mamanya yang selalu mendukungnya, Marva perlahan pulih setelah 7 bulan lamanya pikirannya hanya tentang sosok Bila seorang, orang maupun benda yang ditemuinya dikiranya adalah Bila, bahkan jari-jarinya ia ajak bicara seolah jari-jari tangannya adalah Bila-nya.
Dan alasan itulah kenapa Reni langsung mengibarkan bendera perang saat beberapa bulan lalu sosok Bila muncul dengan seorang pria dan 2 batita, memperlihatakan sebuah keluarga bahagia sedang Marva selama 4 tahun hidup menyedihkan dengan mengadopsi anak orang
Bermodalkan sifat kepecundangannya, Marva tak berani mengatakan fakta mengenai persoalan gugatan cerai karna tak mau orang-tuanya menghakiminya disaat jiwanya masih kosong karna kehilangan jejak Bila
Dan yah, kini Marva tidak hanya kehilangan Bila, Marva juga kehilangan kedua orang tuanya setelah semua terbongkar.
__ADS_1
twins? Kedua darah dagingnya itu sejak awal sudah hilang darinya, kedua batita itu tak butuh sosoknya yang baj*ngan.
ya, ia kehilangan lima orang sekaligus yang sangat berarti dalam hidupnya namun tak menganghap Marva penting dalam hidup mereka.
Marva tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kebencian dari mereka. Emang apa yang ia harapkan? Bila melemparkan dirinya padanya setelah apa yang ia perbuat? mengharapkan kasih sayang dan kepercayaan penuh dari kedua orang tuanya setelah membohongi mereka selama 4 tahun ini? mengharapkan twins berlari padanya dan memanggilnya papa saat ia sendiri tak pernah hadir dalam masa pertumbuhan anak itu?
Jadi untuk apa bertahan hidup kalau semua orang terkasihnya tak menginginkannya? Tidak, lebih baik memang ia harus pergi menyingkir untuk selamanya dari kehidupan ini agar orang-orang tak terbebani akan kehadirannya
"dokter tolong berikan obat yang bisa langsung membuat saya mati" pinta Marva dengan tatapan kosongnya yang berhasil membuat semua orang melongo
"ck! Benarkan dok? dia itu lelaki sok jagoan" decak Radit malas
Marva keukeh tak ingin mendapatkan penanganan padahal wajahnya sudah membengkak mengenaskan. Dokter bahkan kesusahan membujuknya.
"sebaiknya diobati pak, agar lukanya tak menimbulkan infeksi" ucap dokter masih dengan nada membujuknya
"setidaknya lo harus sehat untuk menebus dosa lo sama Bila, memperjuangkan maaf untuk twins dan memohon pengampunan pada orang tua lo" tutur Radit berhasil memukul telak kepala Marva yang tadinya berpikiran pendek untuk mengakhiri hidupnya
"jangan lupakan Vino, anak itu sudah mengantungkan dirinya padamu karna kamu sendiri yang menawarinya" peringat Radit akan keberadaan bocah kecil yang 4 tahun ini menjadi sosok mungil yang mengisi kekosongan Marva
Setelah berucap Radit berjalan ke sisi ranjang Marva dan memungut infus yang tergelatak di lantai akibat serangan mendadak Phelan
"pakaikan ini lagi dok, takutnya cacing-cacing dalam tubuhnya mati karna dehidrasi" ucap Radit dengan wajah datarnya sambil menyerahkan infus yang masih berisi cairan setengah kantung itu
Bersambunggg...
######
Salam Mickey Mouse 24
__ADS_1
Dari Dunia Halu