
Jangan sebut seorang pria kalau ia tidak memiliki banyak cara untuk memperoleh apa yang ia inginkan. sama seperti Marva, 3 hari setelah keluarga Ivander mengibarkan bendera perang untuknya, selama itu ia mencari cara untuk bertemu dengan Manda namun selalu pengawal yang ia hadapi. muak juga lama-lama. tak hilang akal, kali ini ia datang dengan penuh wibawa, tak ada lagi raut memelas di wajah tampannya. jas mahal melekat di tubuhnya.
"selamat siang, Mrs. Manda" sapanya kala tamu yang 2 menit lalu ia tunggu kini tengah berada di hadapannya
"apa begini cara Ceo Ivander Corp. memperlakukan calon investornya?" cercah Marva tenang melihat Manda hanya berdiri diam dengan tatapan datar kearahnya
"sebaiknya anda tidak membuang-buang waktu saya" sahut Manda dingin setelah mendudukan dirinya tepat di depan Marva yang dihalangi meja persegi
Marva menyeringai miris
setidak nyaman itu kah Manda terhadapnya? kenyataan ini menamparnya. sepertinya jalannya memang sudah buntu untuk meraih wanita itu
"tenang saja Mrs, Manda, saya tidak berminat sama sekali. jadi mari kita langsung mulai. silahkan" jika bukan dia yang bisa menyelamatkan harga dirinya siapa lagi?
Manda langsung mengeluarkan tab-nya kala Marva mempersilahkannya untuk memaparkan proyek yang hendak dibangunnya dan Marva yang sebagai calon investor hanya diam mengamati rencana kerja yang Manda sampaikan
telinganya mendengar, namun matanya bergerak menelisik setiap inci wajah ibu dari twins itu. cantik dan manis. 2 kata yang cocok untuk Bila. Marva sungguh tak memahami bagaimana dulu ia buta akan fakta itu. wanita dingin itu dulu pernah selalu menyambutnya dengan senyuman hangat walau selalu ia abaikan tapi Bila tak pernah putus asa menghadapinya.
roda berputar, kini tak ada lagi senyum hangat itu untuknya dari sang wanita padahal ia sangat merindukan momen itu. Marva bisa melihat sikap dinginnya di masalalu kini berpindah pada wanita itu.
jadi begini rasanya berharap pada seseorang tapi tak dihiraukan? semacam merasa rendah diri, kerdil dan tak berharga. Sakit.
"maaf" gumam Marva spontan membuat Manda menghentikan penjelasannya
"ya?"
"tidak, tolong lanjutkan" jawab Marva
wanita itu sangat profesional, membuat Marva mau tak mau menghargai. ia memang sengaja mencari tahu kesibukan Manda dan sekertaris Jeal, dan saat Jeal tengah melakukan tugas penting barulah Marva mengatur waktu untuk membicarakan bisnis, dengan begitu mau tak mau Manda lah yang sebagai Ceo harus turun tangan langsung bertemu dengannya.
ia bahkan rela mengeluarkan dana yang lumayan banyak untuk menyogok beberapa investor agar mundur melawannya untuk berinvestasi di cabang perusahaan yang baru akan Ivender Corp resmikan. demi untuk bertemu dengan Manda, ya, tujuannya bukan semata-mata karna bisnis.
__ADS_1
"bagaimana Mr. Marva? apakah penjelasan saya dipahami?" tanya Manda setelah selesai menjelaskan rencana kerjanya pada calon investornya
"sebenarnya bagus, hanya saja itu sudah diterapkan beberapa perusahaan properti lainnya di negara ini, kenapa tidak mengadopsi beberapa hal dari Indonesia? saya pikir ada beberapa dari Indonesia yang masih asing di negara ini, dan itu bisa menjadi peluang besar untuk menarik beberapa konsumen" Marva dengan bijak memberi masukan, jiwa Ceo-nya kini mengambil alih, bukan main, ia menghabiskan belasan miliar untuk kerja sama ini.
dan suasana yang awalnya dingin itu sebab masalalu di antara mereka berubah menjadi lebih hidup karna obrolan bisnis mereka yang semakin serius, saling memberi masukan dan tanggapan demi kelancaran bisnis keduanya. dan terakhir kesepakatan terjadi, berakhir saling membubuhi tanda tangan sebagai bukti nyata kerja sama. kerja sama yang aneh. kalau biasanya akhir kesepakatan selalu identik dengan jabat tangan, pertemuan mereka tidak. lebih tepatnya Manda pura-pura sibuk saat Marva mengukurkan tangannya membuat Marva terpaksa menarik kembali tangannya
"terimakasih atas waktu anda dan kerja sama ini, kalau begitu saya permisi" pamit Manda tampak buru-buru, lebih tepatnya menghindar dari kebersamaan mereka
"makannya sudah tersaji, apa anda keberatan untuk mencicipinya?" sahut Marva menatap Manda kemudian mengalihkan tatapannya ke meja yang sudah tersaji makan siang yang baru saja di sajikan pramusaji
"maaf Mr. pertemuan kita hanya untuk membahas bisnis, tidak dengan yang lainnya" tolak Manda berusaha sopan, jika dengan rekan kerja lainnya mungkin Manda akan terpaksa menyanggupi namun ini dengan Marva, Manda hanya ingin menjaga jarak pada mantan suaminya itu, ah calon mantan suaminya. "sekali lagi maaf, saya tidak bisa, saya sudah ada janji dengan calon suami saya" lanjut Manda mengingatkan jika ia sudah memiliki calon suami
berhasil, ucapan Manda mampu membuat Marva menunduk sedih. lagi-lagi disadarkan akan fakta menyakitkan itu.
apa ini yang dirasakan Bila setiap hari waktu bersamanya?
jika kali ini ia merasa sesak, lalu bagaimana dengan Bila yang mengalaminya selama 5 bulan pernikahan mereka? membuat makanan, menunggunya pulang, menantinya hingga larut malam, alih-alih menemani makan Marva malah lebih memilih menghabiskan waktu di club dari pada pulang ke rumah mereka
Bila bahkan terlihat baik-baik saja setelah berbulan-bulan diabaikan, sedang dirinya? tampak menyedihkan layaknya seseorang yang kehilangan arah.
layaknya tsunami, gelombang penyesalan selalu datang di akhir hari, usai perbuatan buruk terlanjur dilakukan, bersiaplah untuk konsekuensi yang harus ditanggung sendirian. mencintai sendirian, misalnya.
"silahkan menikmati makan siang anda Mr. Marva, saya permisi" pamit Manda sekali lagi sambil beranjak dari duduknya
"apa kesempatan kedua itu memang sudah tak ada untukku?" Marva masih tidak percaya dengan pemikirannya sendiri, ia hanya ingin memastikan sekali lagi.
Manda menghela napas berat. ini yang ia hindari berada lama dekat dengan Marva. baginya cerita mereka sudah tutup buku. tak perlu di buka lagi kala semua isinya masih jelas terekam dalam memori, sebuah cerita yang berhasil membuatnya kesulitan bernapas, jadi tidak ada alasan untuk membahasnya lagi kala ia telah menemukan buku baru lainnya yang mampu membuatnya melupakan cerita sedih itu.
"kesempatan kedua hanya diberikan oleh orang yang memberi peluang dirinya untuk mengulang kesakitan yang sama" balas Manda telak. setelahnya Manda membalikan tubuhnya untuk pergi dari hadapan Marva
Marva tersenyum pedih, setidak percaya itu Manda padanya walau sudah banyak yang ia buktikan atas perubahannya. ia bahkan pernah berlutut di hadapan wanita itu tapi Manda sama sekali tak peduli.
__ADS_1
jalannya memang sudah tak ada selain merelakan.
Saat Manda akan segera sampai pada pintu ruangan VVIP ini, Marva segera beranjak dan menarik tangan Bila. sekali lagi lelaki itu berlutut dihadapan wanitanya. hancur sudah semua pertahanan sikap wibawanya. ia hanya ingin maaf dari wanita ini, ya, ia akan belajar iklas akan takdir mereka. ia saat ini hanya butuh pengampunan atas semua sikapnya agar himpitan rasa sesak dalam dadanya sedikit berkurang.
"aku tahu aku tak pantas meminta ini..." lirih Marva bergetar, jangan tanyakan bagaimana warna matanya, karna yang Manda lihat hanya ada embun tebal yang siap untuk jatuh dari sana "untuk semuanya, atas semua luka batin dan fisik yang aku beri, tolong maafkan aku. aku sungguh menyesal" lanjut Marva memohon membawa tangan Manda yang dalam genggaman tangannya menyatu ke dahinya.
sekali lagi air mata yang mengalir dari kelopak mata Marva tak sebanding dengan air mata yang ia ciptakan di mata teduh milik Bila, dulu. pikir Marva
"rasa sakit itu nyata, bahkan aku masih merasakannya hingga detik ini" aku Manda membuat Marva makin tergugu di hadapan Manda
"maaf, maaf, maafkan aku" hanya kata itu yang mampu ia ucapkan
"kata orang memaafkan mudah dan melupakan kesakitan yang sulit dilakukan, tapi kenapa kedua-duanya sangat sulit saya berikan?" tutur Manda dengan mata yang juga menumpahkan laharnya. ia masih bergeming ditempatnya, membiarkan indra pendengarnya menikmati alunan suara tangis pria yang dulu pernah menjadi sumber tangisnya.
apa Marva merasakan ini dulu? saat ia menangis apa Marva juga merasakan hatinya tersayat seperti yang Manda rasakan mendengar suara lelaki itu? tidak, Marva tidak merasakannya, toh Marva sengaja membuatnya menangis bukan?
"pergilah, menjauh dari hidupku" desis Manda menarik paksa tangannya. rasa kasihannya kalah akan ingatan perlakuan Marva dimasalalu
"akan aku lakukan apa yang kau inginkan, asalkan maafkan aku" pinta Marva
"segera urus surat perceraian kita, saya akan mempertimbangkannya jika surat itu sudah saya terima" balas Manda lalu menyingkir dari hadapan Marva
"apa dengan Jefry kamu bahagia?" tanya Marva dengan suara seraknya
"tentu" jawab Manda tegas tanpa berbalik
"oke, tapi ingatlah satu hal aku menuruti mu bukan karena aku menyerah akan cintaku padamu tapi karena aku ingin melihatmu bahagia. jadi berjanjilah kamu akan selalu bahagia setelah ini" sahut Marva sambil beranjak dari lantai
"dan ingat satu hal, aku akan bahagia jika itu tidak ada kamu di dalamnya. jadi tolong menjauh" balas Manda telak
"mengenai bisnis ini, saya harap kita tak perlu bertemu lagi, saya akan mengutus Jeal atau anda bisa mengutus sekertaris anda" lanjut Manda kemudian berlalu pergi. meninggalkan Marva yang tengah menangis di sana.
__ADS_1
sedang di balik pintu Manda juga menangis tersedu disana, namun hanya sebantar karna mengindari jika Marva keluar ruangan
bersambunggg...