Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
ingin bertemu papa


__ADS_3

"kak, aku nggak papa" entah untuk keberapa kalinya Manda meyakinkan Mario jika dirinya tidak perlu dirawat tapi Mario dan lainnya tetap keukeh. dia hanya mendapat beberapa luka gores juga pergelangan tangan kanannya terkilir akibat menjadikannya sebagai tumpuan saat ia terhempas ke tanah tadi, tapi jelas lukanya tak ada bandingannya dengan luka seseorang yang entah dirawat dimana sekarang


"diam Manda, nanti twins terganggu" mendengar twins disebut Manda menoleh dan mendapati kedua buah hatinya tengah terlelap di brangkar sampingnya, kedua buah hatinya itu tertidur setelah mendapat perawatan kecil tadi. memang tak ada luka di tubuh mereka tapi psikis mereka-lah yang terguncang akibat melihat secara langsung tubuh Marva tergeletak tak sadarkan diri dengan bersimbah darah. twins butuh waktu lama untuk bisa tenang karna terus meminta untuk bertemu papanya.


"dia.. dia bagaimana?" tanya Manda tertuju pada sosok Marva. mereka di evakuasi dengan mobil berbeda saat di lokasi tadi


"masih ditangani dokter" sahut Aline pelan yang duduk disamping brangkar Twins, tatapan iba wanita baya itu tak lepas dari wajah damai nan sembab kedua cucunya.


"kak Mario harusnya disana. tolong dia. aku sama twins baik-baik aja" tatapan Manda tertuju pada Mario, wanita itu beranjak duduk dari baringnya dengan bantuan tangan kirinya sebab tangan kanannya bengkak dan telah diperban


"dia sudah ditangani dokter yang lebih handal" jawaban Mario membuat Manda memelas


"kak, tolong... setidaknya bantu dia sebagai penolong kami, dia mengorbankan dirinya untuk aku dan twins" mohon Manda dengan mata berkaca-kaca. bukannya tak percaya dengan dokter handal yang dimaksud Mario hanya saja Manda lebih percaya dengan kemampuan Mario.


bukannya menjawab, Mario malah melangkah mendekat dan membawa tubuh Manda ke dalam pelukan. Memang Manda bukan adik kandungnya tapi ikatannya dengan Manda lebih kuat dari sekedar kakak adik angkat, Mario menyayangi Manda seperti adik kandungnya sendiri, sejak pertama kali melihat sosok Bila empat tahun lalu Mario sudah menyayangi adiknya itu layaknya adik kandung yang akan selalu ia jaga dan sayangi.


"istirahat gih" suruh Mario setelah melepas pelukannya


"kak Mario..." Manda melayangkan tatapan protes sekaligus memohon dengan air mata yang sudah menetes. memohon agar Mario berbelas kasih pada Marva yang mungkin tengah sekarat saat ini. oke kesalahan lelaki itu memang tak termaafkan dilihat dari segi manapun, tapi lelaki itu kini mengorbankan nyawanya demi dirinya dan kedua buah hatinya. apakah masih tak layak memaafkan kesalahannya di masalalu? lelaki itu harus tertolong, setidaknya lelaki itu harus tetap hidup agar twins tak kehilangan sosok itu. benarkah hanya twins? apa dirinya tidak merasa kehilangan? entahlah, yang jelas untuk saat ini Manda melangitkan doa agar lelaki itu kuat dan bisa bertahan, ia ingin berterimakasih dan meminta maaf atas pengorbanan lelaki itu menyelamatkan dirinya juga twins.


"dia lelaki kuat" tutur Mario mengerti kegundahan hati sang adik "doakan saja semoga dia bisa segera sadar" Mario berusaha menyembunyikan raut aslinya "sekarang kamu juga istirahat, kamu pasti syok juga tadi" lanjut Mario mencoba membaringkan adiknya


"tapi kak..."


"istirahat. kakak mau menghubungi Jefry dulu" potong Mario. setelahnya Mario melangkah keluar ruang rawat Manda dan twins


mengenai Jefry, dokter muda spesialis kejiwaan yang kemampuannya sudah go internasional itu tengah menuju negara Malaysia. ia berangkat tadi pagi jadi dipastikan jika Jefry masih berada di udara menuju negeri jiran itu.

__ADS_1


alih-alih mengabari Jefry seperti yang dikatakan, Mario malah menyusuri koridor hingga langkah kakinya terhenti di depan sebuah ruangan operasi.


bukan Masuk, Mario memilih duduk di kursi tunggu depan ruangan. lelaki itu memejamkan matanya dan sesekali menoleh ke arah pintu.


ceklek


pintu terbuka membuat Mario terkesiap dan sontak berdiri


"gimana perkembangannnya dok?" todong Mario yang dijawab gelengan dari dokter Alex


"beliau kehilangan banyak darah..."


"lakukan yang terbaik dok, selamat kan dia bagaimanapun caranya" potong Mario mengeluarkan titah


"kami dan tim akan bekerja semampu kami, dok" jawab dokter Alex meyakinkan. "apa dokter Mario tak berkenan bergabung bersama kami di dalam?" tawar dokter Alex yang mendapat jawaban sebuah gelengan lemah dari dokter Mario.


Mario kembali duduk dengan wajah pias. bukannya tidak profesional, hanya saja, rasa bersalah pada Marva terus menamparnya kala ia melihat wajah mengenaskan temannya itu. ia tadinya sempat maju dan mengambil alih tubuh Marva, akan tetapi, ia mundur dengan alasan tiba-tiba tak enak badan padahal ia merasa berdosa menyentuh lelaki yang bahkan di sudut bibir lelaki itu masih membekas luka robek bekas tonjokannya beberapa minggu lalu.


ya, si dokter yang mahir menggunakan pisau bedah itu tiba-tiba diserang penyakit melankolis setelah melihat pengorbanan Marva yang mereka remehkan belakangan ini.


_ _ _ _ _


twins terlihat sangat semangat berlari memasuki lobi rumah sakit, menghiraukan panggilan Mommy dan momma-nya. untung saja Mario yang ikut serta dengan mereka sigap mengejar twins dan segera meraih tubuh kecil kedua keponakannya saat anak itu hampir menabrak kursi roda seorang pasien


"hati-hati twins, kalian bisa sakit kalau terjatuh" peringat Mario


"kami ingin segela sampai di kamal papa angkel" sungut Zaafira kesal karna di halangi oleh sang uncle

__ADS_1


"iya, tapi jalannya yang hati-hati dong. nanti nabrak orang lain"


"ah angkel lama. ayok jalan buluan" karna tangannya tak dilepaskan oleh Mario membuat Zafier dan Zaafira terpaksa menurut dengan wajah sebal. tak tahu kah sang paman kalau mereka sudah tak sabar bertemu dengan sang papa? mereka bahkan sampai tak bisa tidur nyenyak di atas ranjang empuk mereka karna pikiran mereka terus tertuju pada sosok papanya yang terbaring sendirian di rumah sakit.


kemarin saat mereka terbangun, mereka langsung menangis dan meminta diantarkan ke ruangan Marva, hanya saja kemarin kondisi Marva belum bisa di kunjungi, membuat twins galau gundah merana. sebenarnya mereka ngotot untuk tinggal bermalam di rumah sakit menunggu papa mereka, hanya saja para orang tua tidak ada yang setuju apalagi kondisi Marva belum bisa dipastikan kapan baiknya membuat para orang tua tak tega kalau twins harus tidur di rumah sakit. karna dijanjikan akan diantar besokan harinya, membuat twins dengan berat hati menurut.


"hati-hati, papa kalian tidak mungkin lari" tutur Mario gemas melihat keponakannya yang terus menarik dirinya, padahal tangan kecil twins berada dalam genggamannya tapi malah tubuh jangkungnya yang terseret oleh dua tubuh kecil itu


karna didesak oleh twins, Mario tak sempat bertanya lagi pada dokter yang menangani Marva kemarin. sebenarnya dini hari sekitar jam 2, Mario mendapat informasi bahwa Marva sudah di pindahkan di ruang perawatan, itu artinya kondisi lelaki itu sudah bisa dikunjungi pagi ini.


"angkel yakin ini kamal papa?" tanya Zafier saat Mario berhenti di depan ruangan yang diberitahukan dokter Alex tadi subuh "kok kamal papa yang kemalin beda" kali ini Zaafira menyampaikan kebingungannya


"kemarin kamar operasi dan tidak boleh dimasuki kecuali dokter, karna papa kalian udah baik-baik saja jadi dipindahkan ke sini dan kalian bisa menjenguknya" tutur Mario menjawab kebingungan twins


"jadi kita boleh masuk sekarang?" tanya Zaafira antusias


"iya. tapi pelan-pelan, jangan ribut yah, takutnya papa kalian lagi istirahat" peringat Mario yang diangguki cepat oleh twins


klek


pintu terbuka, keadaan dalam ruangan membuat kening twins berkerut, mereka kompak mendongak menatap Mario yang juga memasang wajah bingung...


"kok kamalnya kosong" tanya Zafier melihat kedaan kamar yang sangat rapi


Bersambunggg...


yaiyalah kosong, Marva autor bawa dulu ke dunia nyata untuk di ajak ngehalu bareng autor. pinjam papanya yah twins... autor akan kembalikan kok tapi nggak tau kapan. heheheh

__ADS_1


__ADS_2