
pukul 23:58
sepasang mata milik wanita yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang itu menatap penunjuk waktu dalam kamarnya. sesekali matanya melirik ke arah pintu, berharap seseorang yang membuatnya menangis beberapa jam lalu muncul dari sana.
"bukannya di kejar malah dibiarin" dumel Manda akan ketidak-pekan Marva
sepersekian detik selanjutnya Manda sontak menegakan tubuhnya kala memikirkan lelaki yang sedari tadi ia tunggu memasuki kamar sedang menangis sendiri di luar sana
"mungkinkah dia..." Manda menyibakkan selimut yang menutupi kaki hingga pinggangnya, lalu ia beranjak keluar kamar
Manda langkahkan tungkainya kearah tangga, rasa panik seketika menyerangnya kala dari tempatnya berdiri tak menemukan seseorang di bawah sana. lalu tungkainya perlahan menuruni tangga. karna tak mendapati Marva di ruang tamu ia mencari di ruang baca.
"kamar twins?" tebak Manda kala tak menemukan Marva di semua penjuru ruang lantai satu
kenapa ia secemas ini saat tak menemukan Marva?
"ngapain juga sih tadi aku langsung pergi" dumel Manda menyesal akan tindakannya yang langsung berlari karna tak mau mendengar ocehan Marva yang melantur mengenai perpisahan
Manda lalu kembali menaiki tangga, menuju kamar twins. setibanya di depan pintu itu Manda membukanya dengan pelan
dan ya, Ia melihat lelaki itu duduk diantara ranjang twins dengan pencahayaan lampu tidur, sepertinya lelaki itu tengah memandangi lamat-lamat wajah kedua buah hati mereka yang telah terlelap. saking seriusnya, Marva bahkan tak menyadari kehadirannya.
"mereka tidak akan pergi kemana-mana kalau bukan kamu yang meninggalkan mereka" sahut Manda membuat Marva terjengkit kaget, kepala lelaki itu langsung menoleh ke arah sumber suara
"Bil?"
"kamu mau tidur disini? baik, biar aku yang keluar" ucap Marva cepat kala Manda melangkah mendekat
tanpa menunggu balasan Manda, Marva segera mencium kening twins bergantian lalu beranjak pergi setelah mengatakan "selamat malam" pada wanita pemilik hatinya itu
_ _ _ _ _
Marva terkejut saat hendak menutup pintu kamarnya namun tangan seseorang menghalangi
"mau ambil sesuatu?" tanya Marva kala Manda membuka daun pintu lebar
tidak menjawab pertanyaan Marva, Manda memilih menutup pintu dan melangkah masuk. lalu ia duduk di tepi ranjang
"kenapa berdiri disitu?" tanyanya saat melihat sang suami malah berdiri kaku di belakang pintu
bagai kerbau dicucuk hidungnya, Marva melangkah mendekat, lalu duduk disisi sang istri sesuai perintah tangan Manda yang menepuk-nepuk bagian itu
Manda menghela napas panjang, walau malam kian larut tak membuat Manda mengantuk sebab ada hal yang membuatnya tak tenang sebelum semua perkaranya jelas. mereka harus menyelesaikan permasalahan yang ada agar kehidupan keluarga mereka bisa seperti pernikahan bahagia pada umumnya.
"kamu mencintaiku?" pertanyaan dengan nada lembut dari sang istri sontak membuat Marva menolehkan atensi ke arah wanita itu
"lalu kenapa menawarkan perpisahan?" tanya Manda lagi, tanpa mendengar jawaban Marva akan pertanyaan pertamanya, Manda bisa mengetahui jawabannya dari binar mata lelaki itu. tatapan sang suami adalah tatapan yang biasa Manda dapatkan dari orang-orang yang menyayanginya. tidak, tatapan lelaki disebelahnya adalah tatapan cinta sesungguhnya.
"aku ingin kamu bahagia dengan lelaki yang kamu inginkan, bukan lelaki sep..."
__ADS_1
"lelaki seperti apa yang aku inginkan?" tanya Manda memotong ucapan Marva. nadanya sedikit kesal
"Jefry, mungkin"
"so' tau" balas Manda setelah mendengus terang-terangan
"oke, aku mengaku salah. niat awalku memulai lagi hubungan ini memang salah, karna aku hanya melibatkan twins tanpa ingin melibatkan hatiku" tutur Manda dengan wajah seriusnya
"jangan mengitrupsiku" sela Manda saat melihat bibir suaminya bergerak hendak mengucapkan sesuatu
"kamu tahu? 3 minggu ini aku melakukan konseling pernikahan" bola mata Marva membulat mendengar pengakuan sang istri
"maaf kalau aku mengungkit ini lagi, tapi traumaku benar-benar menyiksa sampai pikiranku kesulitan untuk percaya padamu bagaimanapun aku melihat ketulusan mu. karna kenangan itu sudah tertanam kuat di memoriku" Manda mengambil napas sejenak sebelum kembali melanjutkan " hati dan pikiranku bertentangan kuat akan kenangan masalalu"
"aku bertemu psikolog dan konselor untuk membantuku keluar dari kerumitan diriku" tutur Manda setelah mereka terdiam cukup lama
"psikolog? siapa? Jefry?" tanya Marva
"kenapa selalu mengikutsertakan adik iparmu itu sih" oke nada bicara Manda mulai meninggi.
'karna kalian masih sering bersama di belakangku' batin Marva sambil tersenyum miris, seringai tipis yang mungkin tak di sadari Manda
"lalu pertemuanmu dengan Jefry beberapa kali dalam dua bulan ini mengenai apa?"
kali ini Manda yang terkejut akan pertanyaan Marva. dari mana Marva tahu pertemuannya dengan Jefry? pikir Manda
"tidak usah jawab kalau kamu merasa terbebani" potong Marva
"bukan dia. aku berkata yang sebenarnya"
"kau tahu aku selalu percaya padamu walau kamu bohong sekalipun" balas Marva membuat Manda menelan ludah kasar. sarkas Marva mengandung banyak arti
"aku serius!"
"ya, aku percaya" Marva mengangguk sambil memberikan senyuman tipis tapi mata lelaki itu menunjukan hal berbeda
"istirahat yuk, udah mau jam 1 ini" Marva beranjak berdiri
"kamu mau tidur disini atau kamar twins lagi?" tanya Marva kemudian
"di kamarku" jawab Manda kesal
"yaudah, selamat tidur" ucap Marva sambil mengusap lembut kepala sang istri. lalu lelaki itu membalikan tubuhnya dan mulai melangkah menjauh
"kau mau kemana?" tanya Manda ikut beranjak berdiri
"ini udah larut sayang, kamu butuh istirahat. aku dikamar tamu"
"kenapa kamar tamu? inikan kamar kamu juga"
__ADS_1
"aku nggak mau menganggu tidur kamu seperti yang kamu bilang di awal pernikahan kalau kamu tidak bisa nyenyak saat ada aku di ranjang yang sama denganmu"
Jleb
ya, dengan kejamnya Manda pernah mengatakan kalimat jahat itu pada suaminya.
Manda hanya bisa terisak saat lelakinya kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu
"aku minta maaf" lirih Manda dengan suara bergetar berhasil membuat Marva membalikan tubuhnya dengan ekpresi terkejut melihat istrinya menangis. lalu tanpa babibu Marva melangkah cepat mendekati sang istri
"sayang, hei kenapa menangis?" lihat, sebesar apapun kecewanya pada Manda tapi Marva tak bisa mengabaikan begitu saja wanita itu
"karna kamu"
Marva menengang, bukan karna jawaban sang istri tapi karna wanita itu tanpa aba-aba langsung memeluknya setelah menjawab pertanyaannya
"Bil?"
"jangan pergi"
"nggak. aku nggak akan pergi kalau itu akan membuatmu berhenti menangis" jawab Marva membalas pelukan sang istri
mereka saling memejam. menikmati, meresapi pelukan hangat yang tercipta untuk pertama kalinya
"jangan pergi kemana-mana, jangan tinggalkan aku sama twins, jangan menghilangkan peran seorang raja di istanahku"
Marva membuka matanya, melirik pada sang istri yang masih betah memeluk dirinya begitu erat. sadarkan sang istri dengan ucapannya?
"apapun. apapun akan aku lakukan asal bisa membuatmu bahagia" balas Marva dengan suara seraknya
"jangan lagi mengungkit perpisahan"
kali ini Marva mengendurkan pelukannya tapi tidak dengan Manda
"jangan memaksa bertahan jika kamu tidak bahagia, Bil. aku tidak bi.."
"aku tidak terpaksa! karna aku...aku bahagia bersamamu. maaf lambat mengatakannya. karna aku perlu menuntaskan semua kegundahan hatiku. maaf butuh waktu lama untuk..."
"kamu sadar apa..."
"jangan menyelaku! aku sadar! aku waras!" pekik Manda tertahan karna wajah wanita itu tenggelam di dada Marva "aku ingin hidup sama kamu, karna kamu adalah Marva, lelaki yang 5 tahun lalu menjadi suami yang aku cintai dan saat inipun"
"Bil?"
"tolong percaya, aku dalam keadaan sehat jiwa raga mengatakan ini" suara Manda terdengar frustasi "cinta untuk suamiku 5 tahun lalu tak pernah hilang, hanya saja rasa itu pernah bersembunyi karna trauma"
Bersambung....
aduhh meski ada revisi nunggu tapi lihat komenan banjir dari episode2 sebelumnya jadi semangat ngehalu deh...
__ADS_1