Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2 - Ngidam?


__ADS_3

dosa masalunya memang tak bisa enyah dari ingatan yang membuatnya gagal menjadi seorang lelaki sejati, Marva akui bahwa sebaik apapun ia berubah dosa itu selalu menjadi kenangan pahit yang masih menghantuinya. terlepas bagaimana tulusnya sang istri memberinya kesempatan kedua tapi tetap saja Marva kadang merasa tak pantas dan terlalu hina, hina di matanya sendiri, hina dimata sang istri juga hina di hadapan Tuhan.


istrinya, wanita pemilik jiwa dan raganya itu telah memaafkannya, tapi ia tak juga bisa memaafkan dirinya sendiri.


Tuhan? Marva setiap hendak terpejam dan bangun tidur tak lupa selalu melangitkan permohonan ampun pada sang pemberi taubat. dan Marva akui sang Khalik begitu baik padanya. Tuhan telah memberinya kesempatan untuk bisa merasakan apa yang selama ini Marva lewati, yakni menjaga istri tercintanya saat sedang mengandung buah hati mereka.


"loh, loh, loh kok nangis?" Manda kebingungan melihat Marva yang sudah hampir setengah jam bersimpuh di hadapannya tengah berderai air mata padahal baru saja lelaki itu bertingkah konyol dengan mengajak calon bayi mereka di perutnya berbicara bahkan menjanjikannya berbagai macam mainan. demi apapun, kandungannya baru berusia empat minggu tapi sejak mengetahui keberadaan makhluk mungil itu, Marva tak pernah bosan mengajak calon bayi mereka mengobrol. Marva seperti seorang lelaki yang kali pertama hendak mendapatkan seorang anak padahal ia sudah menjadi papa terbaik untuk twins


"sayang,, ini nyatakan? kamu hamil? di sini ada anak mas, lagi?" tanya Marva beruntun sembari mengelus perut istrinya, masih dengan mata yang berair


"ck, ayolah mas, sejak pulang dari rumah sakit kamu terus menanyakan hal yang sama, aku capek jawabnya" keluh Manda terang-terangan sembari menutup kembali perutnya dengan bajunya yang tersingkap. padahal waktu di rumah sakit Marva yang meyakinkannya jika dirinya memang tengah mengandung benih lelaki itu, tapi kenapa saat kembali ke rumah Marva malah mempertanyakan kebenaran atas kehamilannya? bukankah surat dari dokter dan hasil usg yang menampilkan kantung rahimnya yang terisi embrio sudah sangat jelas? juga, baru saja lelaki itu mengajak calon bayi mereka berbicara bukan? lalu pertanyaan macam apa yang terlontar dari suaminya itu? apa otak suaminya tengah koslet?


"mas cuman takut..." ucapan Marva mengantung kala melihat alis Manda terangkat sebelah dengan wajah datarnya dan kedua tangan tertekuk di pinggang "takut kalau ini hanya mimpi? atau hanya prank?" lanjut Marva yang memancing Manda menyentil dahinya


"sakit nggak?"


"apaan?"


pletak


"ini" kembali Manda melakukan kekerasan pada dahi suaminya


"nggak berasa yang, lebih sakit disini" tunjuk Marva pada dadanya


"loh? aku sentilnya di otak kok kenanya malah jantung"


"sakit di kasarin sama istri sendiri"


"eh. oh maaf maaf, maaf yah. gemas banget soalnya sama pertanyaan aneh mas itu" Manda gelagapan sendiri merasa bersalah telah berlaku kasar pada sang suami walau sebenarnya sentilannya tak terlalu kencang, tapi bisa jadikan suaminya tersinggung. eh, tapi kalau mereka bercinta bukannya Manda lebih kejam dari hanya sekedar menyentil dan Marva tak masalah malah makin semangat? sering tuh Manda mengingit pundak Marva, menarik rambut suaminya keras atau bahkan mencakar... eh kenapa otaknya malah traveling kesana sih... astagaaa


(tolong otak readers jangan traveling yah)


Marva terkekeh tanpa suara melihat ekpresi Manda yang menggemaskan, sedetik tampak menyesal namun sepersekian detiknya wanita itu menggeleng seolah menepis pikirannya, yang Marva tebak mengarah pada kegiatan mereka yang berhasil mencetak calon adik untuk twins. hanya sejenak ia menikmati tingkah istrinya, sebab bukan itu yang menganjal di hatinya saat ini


"Tuhan terlalu baik untuk seorang pendosa sepertiku, begitupun kamu yang berhati lapang mau menerima kembali bajingan ini dan sekarang rela mengandung an..."

__ADS_1


"jika sudah berubah janganlah mengungkit kisah silam. teruslah memperbaiki diri dan jangan merasa rendah diri. papa Rendra pernah bilang gitu kan? kenapa tidak mas tanamkan pada diri mas?" potong Manda dengan mengutip kalimat ayahnya yang sengaja ia curi dengar saat mereka mengunjungi rumah Narendra beberapa bulan lalu, saat dirinya masih dalam terapi mental di konselor pernikahan dan Marva salah paham akan dirinya dan Jefry


"kamu dengar waktu itu? bukannya waktu itu kamu tidak peduli..."


"ck! bukan tidak, tapi belum bisa nunjukin kalau aku siap lahir batin ha-ha hi-hi sama mas sementara aku masih berjuang menyembuhkan trauma itu"


"maafin mas sayang, mas banyak salah sama kamu" ucap Marva sembari menghambur memeluk Manda


"sudah-sudah, sekarang lebih baik mas mandi dan jemput twins di rumah papa Phelan" ujar Manda sembari berusaha mengurai lengan suaminya yang melingkar di perutnya


"biar papa yang antar mereka, mas nggak mau biarin kamu sendiri" ujar Marva sembari beranjak lalu ikut duduk di sebelah istrinya


"pokoknya nggak! aku mau jaga kamu dua puluh empat jam sehari. no debat" tutur Marva cepat ketika melihat pelototan istrinya


"twin lebih butuh mas dari pada aku saat ini, mereka dari kemarin nungguin mas loh.. mumpung mas nggak mau balik ngantor lagi lebih baik bayar waktu mas sama twins"


"iya, mas berpikiran yang sama. sekarang aku telpon papa untuk minta tolong antar twins kesini sekarang"


"mas yang jemput kesana. twin pasti senang dijemput papanya. sekalian manjain mereka sejenak di mall" geram Manda membuat gerakan Marva yang hendak mendial kontak papa Phelan jadi terhenti


"ck! aku butuh istirahat kalau mas lupa nasihat dokter"


"maka dari itu mas nggak mau ninggalin kamu sayang, nanti kalau kamu butuh sesuatu dan mas belum datang gimana? nanti kamu kesusahan. mas nggak mau buat kamu berjuang seorang diri lagi"


'aku lebih susah kalau mas disini terus, pengen istirahat tapi tangan situ nggak mau diam ngelus perut terus, dipikir nggak geli apa' jika saja Manda sejenis wanita yang bermulut pedas maka mungkin kalimat itu sudah keluar dari mulutnya, untung saja ia masih memikirkan mental suaminya yang serapuh kerupuk


"mas jemput twin yah" ucap Manda melembut sembari menangkup wajah tampan suaminya


"oke. mas cuman sebentar" putus Marva yang langsung meleleh mendapati tatapan lembut istrinya. ya, dirinya selemah itu hanya karna tatapan sang istri "kamu istirahat, jangan beranjak kemana-mana sebelum mas pulang" titah Marva sembari membantu istrinya berbaring lalu memperbaiki selimut agar istrinya tak kedinginan


"mas pergi yah, hati-hati di rumah"


"mas juga hati-hati, jangan ngebut, awas kalau sampai twinku lecet sedikitpun" ancam Manda yang mendapat acungan jempol dari Marva


"siap nyonyaku"

__ADS_1


"oh ya, kamu mau nitip sesuatu?"


"emm.. nggak ada tuh" ujar Manda setelah berpikir beberapa saat


"makanan mungkin?"


"nggak mas, aku masih kenyang"


"rujak? atau makanan apa gitu yang mainstream gitu?"


"makanan maenstream?"


"bukannya wanita hamil suka makan-makanan aneh?"


"maksud mas ngidam?"


"nah itu. kamu mau makan apa? nanti mas carikan"


"nggak ada mas, aku cuman mau mas jemput twins sekarang"


"yakin?" tanya Marva penuh harap namun anggukan mantap dari Manda malah menghempas harapannya. dirinya kan pengen ngerasa direpotkan sama istri dan calon anaknya


"yaudah deh, mas pamit jemput twin"


setelah mendaratkan kecupan di dahi...tidak, di seluruh wajah istrinya dan berpamitan pada calon makhluk di dalam perut istrinya yang terbungkus selimut, Marva beranjak pergi


"ingat jangan beranjak dari ranjang sebelum mas pulang yah" peringatnya sekali lagi sebelum menutup pintu. lelaki itu kemudian benar-benar hilang disana


"jadi maksudnya kalau aku mau pipis harus nahan gitu kalau dianya belum balik? heh, enak banget sih ngasih perintah" dumel Manda sembari menyingkap selimutnya, wanita itu lalu beranjak ke jendela, tak lama berdiri di tempatnya netra Manda menemukan suaminya dengan langkah lebar menuju mobilnya. kuda besi itu langsung meluncur beberapa detik setelah tubuh Marva tenggelam di dalamnya


"ditinggal deh" ucap Manda sedih, wanita itu lalu menghela napas panjang sembari mengangkat dan menatap kedua telapak tangannya "tapi kalau dia disini terus, ini tangan gatel banget pengen cekik lehernya setiap dia bersuara"


Bersambung...


halo guys!!! bagi yang beragama islam, Autor cuman mau ngucapin selamat menjalankan ibadah taraweh pertama dan jangan lupa bangun sahur besok subuh yah...

__ADS_1


__ADS_2