Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2 - Praduga


__ADS_3

Kontrak dengan perusahaan terbesar di ibu kota sudah di tandatangani, proyek impiannya akan terselamatkan. Marva bisa bernapas normal lagi. namun perasaannya masih terasa ada yang mengganjal. pikirannya lega tapi entah mengapa batinnya terasa berat.


menghela napas panjang guna mengurai rasa berkecamuk yang bahkan tak bisa ia urai sebabnya, Marva melangkah tegap memasuki lobi perusahaannya. menyunggingkan senyum pada beberapa karyawan yang dilewatinya. tungkainya langsung membawanya ke ruangannya


"astaga!!" pekik Marva tertahan kala mendapati seseorang tengah duduk di sofa dengan tatapan tajam ke arahnya sembari bersedekap dada


"dari mana?" pertanyaan dingin itu langsung terlontar dari orang tersebut setelah Marva menutup kembali pintu ruang kerjanya


"Kamu ada main sama wanita lain?" kembali orang itu melontarkan pertanyaan yang berhasil membuat Marva balas menatapnya dengan tatapan tak sukanya


"apa? mau menyangkal?" tantang orang itu mencemooh


"apasih..."


"Anggi?" pertanyaan retoris itu berhasil membungkam Marva tapi dengan mata melotot


"jadi benar?" pertanyaan kembali dengan nada menuntut Marva dapati


"nggak usah ngadi-ngadi lo, gue pecat juga tahu rasa" kesal Marva sembari melangkah menuju kursi kebesarannya


"nggak usah ngancam-ngancam lo, hidup lo yang bakalan kelar habis ini"


"ck! perasaan gue nggak enak dari tadi. nggak usah banyak bacot kalau lo nggak mau dapat ampasnya, mending balik urus kerjaan lo" ujar Marva sembari memutar bola mata malas


"nah ini, karna bentar lagi perselingkuhan lo sama Anggi bakalan ketahuan sama istri lo makanya perasaan lo nggak enak"


"RADIT!! GUE BILANG DIAM! MULUT LO MAU GUE ROBEK HAH?!" muak, Marva langsung membalikkan tubuhnya dengan tatapan mata siap menerkam teman rasa iblisnya itu


"yaudah tinggal jawab gue, bener lo ada main belakang?"


"nggak! nggak Radit. gue nggak akan khianatin Bila lagi. cukup sekali, penyesalannya selalu mencekik setiap kejadian itu terlintas di benak gue, itu aja udah nyiksa lahir batin gue hampir setiap waktu" ucap Marva melemah diakhir kalimatnya


"terus ceritanya ponsel lo ada di Anggi gimana ceritanya, hah?"


ponsel? Anggi?


mungkinkah?


astaga! kenapa ia baru kepikiran. saking kesalnya dengan tawaran Anggi membuat Marva melupakan benda berharganya itu


"jadi ponsel gue di dia?"


"ini" potong Radit sembari mengeluarkan ponsel yang sangat Marva kenali di atas meja sofa


"dapat dari mana?"

__ADS_1


"calon madu dari istri Marva" jawab Radit menirukan suara perempuan


"dia datang kesini?"


"gue yang datangin dan minta paksa" balas Radit. iya, Radit tentu terkejut saat menelpon Marva tadi pagi guna menanyakan perihal proyek, malah Radit dikejutkan dengan suara seorang wanita, bukannya suara merdu Manda yang ia dengar malah suara menggoda milik salah satu teman kuliahnya yang Radit kenal dengan nama Anggi


"sialan!!" umpat Marva ketika melihat notif panggilan di sana. tanpa berkata apa-apa lagi Marva langsung meninggalkan ruangannya setelah mengambil ponselnya


ia dalam masalah, besar!


Sembari melajukan mobilnya ke arah rumahnya


Marva terus melangitkan doa agar diberi kemudahan berucap dalam mengutarakan pembelaannya dihadapan sang istri. dari log panggilan, istrinya tampak berbicara beberapa menit dengan Anggi. apa yang mereka bahas? sumpah demi apapun, akan Marva beri pelajaran pada Anggi jika sampai wanita gila itu berbicara macam-macam dengan istrinya.


sementara di rumah, tepatnya di dalam kamar utama Manda tengah bermalas-malasan. wanita muda nan cantik itu tengah menonton tv serial turkey dengan kepala bersandar di ranjang dan cemilan di atas pangkuannya


"cih, sadisan juga kisahku di masalalu. gitu aja udah nyerah, lemah!" cibir Manda pada pemeran perempuan di layar. Manda kembali mengisi mulutnya yang belum kosong dengan cemilan kentangnya sebelum kembali berdumel "tapi bagus sih minggat dari pada bertahan sebagai istri pertama tapi seolah sebagai simpanan"


"Bila?!"


"auu"


teriak menggelegar itu membuat Manda tak sengaja menggigit lidahnya sebab terkejut


"Bil?!"


"Bila?!"


suara itu seolah nyata, semakin dekat membuat otak Manda tak bisa bereaksi. kenapa ia seperti terdampar ke masalalu? apalagi beberapa saat lalu pikirannya tak tenang mendengar suara wanita dibalik sambungan telpon suaminya


Ceklek


"Bil..."


Dada Marva mencelos melihat tatapan terluka sang istri yang tepat menusuk netranya


"Sayang... hei, Kenapa menangis? maafin mas, biar mas jelasin, tolong beri mas waktu" ujar Marva setelah mendudukan diri di sebelah istrinya


"ka..kamu berubah lagi" cicit Manda dengan nada bergetar sontak Marva langsung membawa tubuh istrinya kedalaman dekapannya


"nggak sayang, nggak. maafin keteledoran mas, mas khilaf" tutur Marva ikut terluka mendengar tuduhan istrinya.


ingat, hubungan yang pernah rusak apabila diperbaiki butuh hati dan jiwa yang kuat untuk bisa membangun sebuah jalinan dengan bayang-bayang masalalu yang menyakitkan. apalagi untuk mental seorang Manda yang belakangan moodnya bagaikan rolecoster


"kamu ada main sama wanita lain?" Marva mengerjab mendengar tuduhan itu yang sama persis dengan pertanyaan Radit beberapa waktu lalu di ruangannya. namun jika tadi Marva menanggapi Radit dengan kesal kali ini Marva merasa sangat bersalah dengan dada sesak

__ADS_1


"nggak sayang, sumpah" elak Marva dengan nada tegas namun lembut


"terus Anggi siapa mas? calon madu aku?"


'si Anggi si*lan!' umpat Marva dalam hati


"jawab aku mas!"


"tenang dulu sayang, mas akan jelasin kalau kamu ten..."


"gimana bisa aku tenang disaat ponsel milik suamiku di tangan wanita lain yang mengaku sebagai calon madu? gila kamu!" meledak, emosi Manda meledak, tak seperti keinginan awalnya yang ingin membahas ini dengan kepala dingin dengan sang suami mengingat banyaknya dugaannya yang salah selama ini terhadap suaminya, tapi entah mengapa melihat wajah Marva membuat Manda pengen muntah dan berakhir melampiaskan semua amarahnya


"kita cerai saja mas"


"BILA!!"


_ _ _ _ _


Marva mondar mandir di samping ranjang sembari tatapannya terus tertuju pada sang istri juga pada seorang wanita berkerudung dengan jas putihnya yang tengah memeriksa keadaan Manda yang masih belum sadarkan diri


ya, teriakan memekakan telinga milik Marva tadi bukan semata-mata karna kalimat haram istrinya itu, tapi melainkan karna Manda pingsan tepat setelah menyelesaikan kalimatnya


"bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Marva bahkan saat dokter kenalan Radit itu masih memeriksa denyut nadi Manda


"sebaiknya tuan bawa istri tuan ke rumah sakit untuk memeriksa lebih lanjut, takutnya saya salah memberi harapan karna praduga saya" tutur si dokter cantik sopan namun berhasil membuat Marva kesal


"terus apa gunanya dokter disini kalau ujung-ujungnya nyuruh ke rumah sakit juga"


"maafkan saya tuan, saya ini dokter gigi jadi sya tidak banyak tahu mengenai keham..."


"Apa? dokter gigi!" potong Marva yang diangguki tipis oleh si dokter Megi


"Radit si*lan!" geram Marva tertahan. berani-beraninya bermain-main padanya. sepertinya bercanda Radit sudah keterlaluan. istrinya pingsan bagaimana bisa Radit mengirim dokter gigi? demi apapun gigi Manda sehat dan baik-baik saja


"maaf tuan, awalnya saya juga ragu datang tadi karna tak diberi tahu dengan jelas kendala pasien, tapi karna didesak oleh pak Radit karna katanya pak Marva butuh dokter sekarang juga jadinya saya datang" jelas dokter Megi


'saya mau dokter cewe datang ke rumah saya sekarang juga. saya beri waktu lima menit'


si*l! Marva mengumpat dalam hati ketika mengingat sepenggal perintahnya pada Radit beberapa saat lalu. ah jika kalimat perintahnya demikian jadi yang harusnya disalahkan siapa?


dirinya yang memberi perintah kurang jelas atau Radit yang terlalu patuh?


tapikan dia terlalu cemas melihat istrinya tak sadarkan diri sehingga otaknya juga tak berfungsi dengan baik


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2