
Selama ujian Vina dan Feby sangat di jaga, bahkan ponsel mereka sudah di sita untuk di tahan sementara waktu.
Di sisi lain Hardi juga sangat sibuk begitupun Hana yang harus fokus untuk memberikan pelayanan terbaik untuk para guru pengawas dari beberapa sekolah
sedang Vina dan Feby menjadi prioritas, hingga akhirnya tak terasa siang ini adalah ujian terakhir.
dan semua siswa siswi melakukan corat-coret seragam, tapi tidak dengan Vina dan Feby.
karena mereka mengunakan baju lain,sebab seragamnya bisa di berikan pada adik kelas yang membutuhkan.
"Bu Hana kita juga mau tanda tangan," kata Vina dan Feby yang memakai Hoodie putih dan rok abu-abu lain.
"Ya tentu saja, dan selamat atas selesainya ujian negara, dan kita tinggal menunggu hasilnya, dan semoga semuanya lulus seratus persen," kata Hana yang memberikan semangat sebagai kepala sekolah.
"aamiin!!" teriak semua siswa-siswi
"baiklah semua harap pulang,di larang melakukan pawai di jalanan, dan jika ada yang ketahuan ikut pawai dengan motor akan langsung di coret dan tinggal kelas,"ancam Hana.
"itu cuma ancaman!" teriak salah satu murid.
"kita lihat saja, coba lakukan itu jika ingin bukti, karena aku tak pernah ngomong saja," Jawab Hana dengan ketus.
setelah mengatakan itu, Hana langsung meninggalkan tempat itu, dan semua murid pun melanjutkan semua acara di sekolah.
Pukul dua siang mereka bubar untuk pulang, saat sampai di rumah ternyata hanya ada mak Yem.
"loh Mak Yem itu mau di bawa kemana?" tanya Feby yang kebetulan ke dapur karena ingin minum.
sedang Vina sudah di kamar mandi karena badannya lengket dan merasa lelah
"ini mbak, saya mau antar ke gudang , karena tadi mas Hardi telpon akan ada tamu dan di minta untuk mengirimkan camilan ini," jawab Mak Yem.
"biar saya yang antar,lagi pula nunggu Vina mandi itu sangat lama,"kata Feby yang mengambilnya.
"terima kasih ya,itu harus di antar ke gudang baru mbak," kata Mak Yem
"inggeh Mak," Jawab Feby yang langsung pergi dengan setelan yang masih penuh dengan coretan.
__ADS_1
Saat sampai di gudang itu malah terdengar suara merdu seseorang sedang menyanyi.
Berdebar, hati berdebar
Deras darahku mengalir
Bergetar, tubuh bergetar
Menahan gejolak hati
Sungguh, aku malu, malu, malu, malu
Mengutarakan hasratku
Sungguh, aku ragu, ragu, ragu, ragu
Menyatakannya padamu
Berdebar, hati berdebar
Deras darahku mengalir
Bergetar, tubuh bergetar
Menahan gejolak hati
'Tuk menyampaikan rasa
Namun, di hadapanmu, semua buyar, tak menentu
Jangankan 'tuk merayu
Apalagi mencumbu
Bahkan memandang matamu terlena, aku tak mampu
Terkesima diriku
__ADS_1
Memandang pesonamu
Gugup, kelu, dan kaku
Memandang wibawamu
Berdebar, hati berdebar
Deras darahku mengalir
Bergetar, tubuh bergetar
Menahan gejolak hati
Sungguh, aku malu, malu, malu, malu
Mengutarakan hasratku
Sungguh, aku ragu, ragu, ragu, ragu
Menyatakannya padamu
Berdebar, hati berdebar
Deras darahku mengalir
Bergetar, tubuh bergetar
Menahan gejolak hati.
Suara itu membuat Feby terdiam tak percaya mendengar suara merdu itu dan itu berasal dari Wawan.
Setelah lagu selesai, Feby bertepuk tangan dengan antusias, bagaimana tidak dia tak menyangka pria yang selama ini terlihat kaku begitu terdengar lembut saat menyanyikan lagu.
"suaranya bagus," kata Feby yang memberikan camilan itu pada Hardi.
"kamu masih di sini, dan baju mu dek,ya Allah," kata Hardi yang tak percaya dengan melihat Feby.
__ADS_1
"ya itu karena aku harus menunggu Vina selesai mandi,dan mas tau bagaimana adik mu itu jika mandu, lamaaaaaaaaa...." kata Feby yang membuat Hardi tertawa.