Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
tak terasa...


__ADS_3

Pernikahan Hani dan juga Doni pun di lakukan di rumah sakit setelah lurah Aris selesai mengurus semuanya.


tak hanya surat-surat dan izin untuk melakukan pernikahan, dia juga mengurus semuanya di rumah juga.


Helmi kadang merasa kasihan dengan suaminya yang begitu sibuk pontang panting mengurus segalanya.


setelah acara pernikahan itu selesai,Helmi menepuk suaminya itu, dan besok pagi ayahnya juga sudah di izinkan pulang.


lurah Aris merasa kaget melihat tingkah istrinya itu, "ada apa sayang,kenapa kamu begitu manja seperti ini hum...", tanya pria itu.


"ini mas, aku tak menyangka akan memiliki Suami yang begitu baik dan sangat berharga seperti mu, terima kasih..."


lurah Aris hanya tersenyum saja, dan dia juga memrluk istrinya itu,"kenapa berterima kasih,aku juga putra ayah kan sekarang,jadi tak usah malu," kata pria itu.


sedang di rumah Hardi, mereka sedang mengunjungi rumah abdi untuk menengok bayi pria itu yang baru lahir.


terlihat semua orang tampak bahagia, begitupun Hardi dan Vina, ya keduanya adalah saksi bagaimana abdi dan Alfi begitu merindukan sosok buah hati.


tapi akhirnya setelah tiga belas tahun penantian, sekarang mereka memiliki putra mereka sendiri.


Hana dan Hardi mempersiapkan semua hadiah yang akan di berikan pada bayi itu.


"jadi om Abdi, siapa namanya? Tak mungkin kan om belum memberinya nama?" tanya Hardi yang penasaran.


bahkan pria itu tampak telaten mengendong putra pria yang menjaganya selama ini itu penuh dengan kasih sayang.


"namanya Robby Darwis Abdillah," jawab Abdi.


"panggilnya Darwis atau Robby?"

__ADS_1


"Arwi," jawab Alfi.


"arwi si ganteng, aku penasaran jika dia sedikit besar akan mirip siapa, ayah atau ibunya ya," kata Vina yang sedang melihat bayi itu.


"ku harap mirip ibunya, setidaknya dia akan tampan, jika mirip ayahnya ah .. Sudahlah," kata Hardi yang langsung di jewer oleh Alfi.


"dasar calon ayah yang menyebalkan, awas saja ku doakan agar putra mu seperti Hana," kata Alfi gemas.


"itu tidak mungkinlah, orang yang ngidam dan yang minta terus aku kok, itu mustahil," kata Hardi ienih percaya diri.


"lihatlah bocah ini, bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu dengan santai," kata Abdi tak tau harus bilang apa lagi.


Setelah selesai menjenguk bayi itu, mereka bertiga pun memutuskan pulang, tapi tiba-tiba Vina ingin membeli buku.


"kamu ini kenapa dari tadi sore gak bilang,memang masih ada toko buku buka jam segini?" tanya Hardi kesal dengan adiknya itu.


"bukan toko buku kak, tapi tempat obral buku yang di dekat stasiun Jombang itulah, aku ingin beli di sana," kata gadis itu merengek.


"iya mas, iya..." jawab Hana yang selalu tersenyum melihat ke khawatiran suaminya.


Mereka pun sampai, ternyata tempat penjualan buku itu buka sampai larut,dan terlihat sepi tak ada yang beli.


Mereka bertiga turun, dan Vina langsung mencari beberapa buku yang dia inginkan dan cari.


Hana juga mengambil buku filosofi dan juga menu masakan Nusantara.


dia tak menyangka semua buku itu diobral hanya dengan harga mulai dari lima ribu.


Mereka bertiga pun menemukan buku yang di inginkan masing-masing.

__ADS_1


Hardi membayarnya dengan uang dua ratus ribu dan tak mengambil kembalian.


setelah satu tempat itu,kini mereka menuju ke aprilmart yang buka dua puluh empat jam untuk mencari sosis dan mie untuk Vina yang selalu kesal jika mie instan miliknya habis


Setelah membeli semua barang, mereka pun pulang, sesampainya di rumah sudah jam sebelas malam.


mereka langsung menata semua belanjaan dan bersih-bersih sebelum istirahat,sedang Hardi masih melihat beberapa email yang masuk.


Dia tak menyangka jika perusahaan ekspedisi yang dia bangun dengan teman-temannya kini mulai menunjukkan taringnya.


Bagaimana tidak,sekarang mereka mulai merambah pasar luar negri, dan besok dia harus ke Ditjen pajak untuk melaporkan dan membayar pajak.


karena usahanya berjalan baik jadi dia harus taat pajak,terlebih uang yang berjalan setiap harinya lebih dari lima ratus juta.


Di sisi lain, Wawan heran karena motif yang dia bawa setelah kejadian kecelakaan itu,tak minta lagi oleh bos-nya.


dia tau hari ini orang kaya, tapi pria itu terlalu baik, terlebih Hardi ini sering memberikan bonus pada semua pegawainya.


malam itu dia sedang santai di pos kamling bersama beberapa warga, ya bisa di bilang dia ini Banser tapi jarang keluar juga.


"mas Wawan ini motornya punya banyak ya, kok sekarang ganti lagi?"tanya pak tolip.


"tidak pak, ini motor pak bos, ya begini kalau uang nganggur,motor istrinya tak bawa juga tak ditanyakan, jawabnya sekarang istrinya bawa mobil ke sekolah," jawab Wawan tersenyum ramah.


"saya tak mengira loh mas, mbak Hana ini kepala sekolah di sekolah unggulan di desa kita, di tambah suaminya ini juragan muda kaya raya, dan lagi usahanya tak terhitung, wes jos pokok e," kata pak Ihsan.


"Alhamdulillah pak,berkat didikan orang tua dan juga mas Abdi," jawab Wawan.


"iya juga ya, keturunan asli juragan Hartono pasti sukses, tapi yang tidak lihat saja mblangsak semua, contohnya dua anak perempuan yang ternyata anak dari selingkuhan,sekarang hidupnya pontang-panting," kata pak tolip.

__ADS_1


"semua rezeki itu rahasia pak, kita tak tau juga," jawab Wawan.


__ADS_2