
Hardi pagi ini sudah siap untuk ke Surabaya bersama istrinya, pasalnya dia mendapatkan undangan pernikahan dari temannya Arifin.
"sudah siap sayang?" tanya pria itu yang menunggu istrinya.
"sudah mas, tapi aku heran kenapa perutku telihat begitu besar ya, padahal masih lima bulan," tanya Hana yang keluar dengan baju couple dengan suaminya.
"ya namanya juga hamil mbak, oh ya nanti kalau pulang brownis spesial ya,"
"baiklah, ayo kita berangkat, meski kamu hamil seperti itu kamu tetap sangat cantik untuk ku, oh ya nanti jika tak nyaman atau merasakan apapun jangan di tahan ya bilang saja,"
"baik mas," jawab Hana.
Ya hari ini Minggu dan mereka kebetulan libur, dan mereka segera pergi, dan tak lupa Hardi membawa amplop cukup tebal untuk temannya itu.
selama perjalanan setidaknya butuh dua jam, padahal mereka lewat jalan tol, karena rumah pria itu cukup jauh juga.
setelah perjalanan panjang itu, mereka pun sudah ampai di tempat rumah Arifin.
Tapi tadi mereka sempat berhenti di rest area, karena Hana yang kebelet pipis, ya meski dokter bilang dia hamil bayi tunggal tapi dia merasa jika perutnya lebih besar.
"sudah berangkat lagi sayang?"
"ayo mas," jawab Hana
keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke rumah pria itu tang harus masuk gang lagi.
Seingat Hardi jalan rumah temannya itu besar, ternyata ada tulisan juga Sendai petunjuk arah.
Terlihat sudah ada beberapa teman Hardi yang sengaja menunggu kedatangannya.
saat dia memarkirkan mobilnya, dia langsung di hampiri para temannya, "lama kali juragan,"
"maaf maklum bawa nyonya," jawab Hardi yang membuka pintu mobil miliknya.
semua kaget karena istri temannya itu sedang hamil, dan terlihat Hardi begitu bangga tak ada malu-malunya membawa istrinya.
"kaku ini nendng beda ya, kalau sudah cinta pasti di ajak kemana pun," kata wasis.
"ya habis tak bisa jauh-jauh," jawab Hardi.
"berarti dulu uang sebelum aku juga ya?" tanya Hana penasaran.
"tidak kok, dia cuma bilang punya pacar, tapi rupanya saja kami tak tau dan hanya kamu pertama kali wanita yang di perkenalkan dan langsung di nikahi dengan undangan super mendadak," jawab teman suaminya itu.
Hana cuma tersenyum, sedang Hardi merasa sombong karena itu memang benar.
Karena meski dia berpacaran dengan Helmi dulu, tapi wanita yang di perkenalkan hanya Hana.
Saat masuk tempat pernikahan, Hana kaget karena tenda itu berwarna ungu, "aduh betapa kasihan sekali itu tukang fotonya," kata Hana yang membuat Hardi tertawa.
"iya kamu benar sayang, ini bocah emang kadang-kadang bikin kesel," kata Hardi menyahut.
"kita salaman dulu baru makan," ajak Wasis yang juga datang dengan tunangannya.
__ADS_1
Mereka berenam pun naik ke pelaminan bersama pasangan masing-masing.
tampak pria itu kaget melihat Hardi satu-satunya teman mereka yang akan jadi ayah duluan.
setelah foto dan mengucapkan selamat,mereka pun makan, terlihat makanan cukup banyak.
Tapi Hana mengambil sate ayam dan juga daging sapi bumbu kecap.
tapi Hardi malah mengambil nasi cukup banyak.
dia juga menyuapi istrinya di depan teman-temannya, bahkan pria itu tak ada malu atau apapun.
Hana sampai malu karena tingkah suaminya itu, tak hanya itu setelah acara mereka pun pamit pulang.
Tapi nyatanya pengantin pria melah memberikan satu orang satu kresek merah yang entah isinya apa.
"ah permisi boleh minta bunga melatinya," kata Hana pada pengantin wanita.
"silahkan mbak, semoga adeknya gak sawanen ya, sebentar, Lulu tolong ambilkan bedak ku sebentar," panggil pengantin wanita itu pada adiknya
Hana tersenyum dan pamit, Hardi pun menduakan semoga temannya itu segera menyusulnya.
setelah acara mereka pun menuju ke area makan sunan Ampel karena dekat juga.
Saat sampai di area itu, mereka turun dan langsung menuju ke area makam.
setelah berdoa dan ziarah,kini mereka berada di pasar Ampel, mereka membeli kurma dan semua makanan khas kampung Arab.
"sudah sayang?" tanya Hardi yang takut mereka kemalaman.
"brownies pesanan Vina mas," kata Hana yang ingat tiba-tiba.
"ah iya, itu ada outletnya, kita beli di sana sekalian buat acara nanti malam," kata Hardi.
Saat Hardi membayar brownies yang sudah di pilih,Hana keluar dulu, saat dia melihat ada seorang nenek yang berjualan buah.
"nenek jualan apa?" tanya Hana .
"anggur dan leci nduk," jawab perempuan itu.
"anggurnya pinten Mbah satu kilo?" tanya Hana.
"telong poloh, lek Leci e Pitung poloh," jawab nenek itu.
"Mbah semuanya saya beli ya, jadi berapa?" tanya Hana.
"loh... Ojo ngapusi, (jangan bohong)" kata wanita sepuh itu.
"mboten Mbah, ini anggurnya berapa dan lecinya berapa?" tanya Hana.
"Iki sak plastik sak kilo, lek Leci e sak kantong sak kilo," jawab wanita itu.
Hana pun mulai menghitung kedua jenis buah itu dan ternyata masing-masing ada sepuluh kantong.
__ADS_1
"Mbah ini semua ada sepuluh kantong, jadi totalnya satu juta, leres Mbah?" tanya Hana.
"iya neng,"
Haba mengeluarkan uang satu juta tiga ratus ribu dari dompetnya, "saya beli semua, ini uang untuk Mbah, lebih baik istirahat ya Mbah,"kata Hana.
"Alhamdulillah ya Allah... Akhirnya aku bisa beli beras untuk Mbah kung," kata wanita itu yang membuat Hana kaget.
Hardi keluar dan melihat istrinya sedang berbincang dengan seorang nenek.
"mas tolong bawa semua buahnya ke mobil ya, aku mau tanya Mbahnya dulu," kata Hana.
"iya sayang," jawab Hardi.
"memang Mbah kalungnya kenapa Mbah, kok Mbah bilang beli geras," tanya Hana heran.
Hardi pun menguping pembicaraan istrinya itu. "Mbah Kakung sakit, ndas e mumet," jawab wanita itu.
"mau di antar sekalian Mbah, gak papa dari pada nanti kesulitan," tawar Hardi.
"matur Suwon le," kata wanita itu dengan senang hati.
"semoga kalian ini sehat, dan bisa lahiran brosat Brosot ya," kata wanita itu mengelus perut Hana.
Mereka pun mengantar wanita sepuh itu, sebelum itu Hardi sempat berhenti di minimarket untuk membeli sembako cukup banyak hingga dia kantong.
setelah itu mereka ke rumah wanita itu, dan ternyata rumahnya masuk kedalam gang yang cukup kumuh.
Akhirnya mereka menemui suami wanita sepuh itu tang ternyata sedang sakit.
Hardi menaruh sembako, dan langsung mengajak keduanya ke klinik terdekat, setelah di periksa dan mendapatkan obat.
mereka pun kembali dan memberikan tambahan bantuan, kebetulan Hana harus ambil dulu karena tak bawa cash banyak.
"Mbah ini buat pegangan ya, sudah tidak usah jualan dulu, rawat Mbah Kakung dulu, ini insyaallah cukup untuk seminggu ya Mbah," kata Hana memberikan amplop cukup tebal.
"terima kasih, tapi ini bukan yang masuk tv kan," tanya wanita itu yang sepertinya sering di jadikan konten semata.
"tidak Mbah, ini dari juragan Hardi, pengusaha asal desa Mbah, jadi tak ada kamera, sudah kami pulang dulu, Mbah nanti obatnya di minum ya, dan istirahat, kami pamit permisi...", kata Hana dan Hardi.
saat akan pergi, Hana juga membagikan uang lima puluh ribu pada anak-anak kecil yang ada di sana, dan tentu saja semua di atur oleh Hardi agar istrinya itu tak terluka terlebih istrinya juga sedang hamil.
setelah itu Hardi mengendarai mobilnya cukup kencang, tapi saat masuk ke daerah tol Jombang Ploso dia turun.
Karena mereka semakin dekat dengan rumah, dan saat sampai terlihat Vina panik karena dia tak punya persiapan apapun.
Di tambah kedua kakaknya itu pulang di saat adzan magrib berkumandang.
"ya Allah sorop-sorop moleh," marah gadis itu membawa semua barang.
Sedang Hana di usir masuk kedalam rumah karena pamali, dan setelah itu Amir datang membantu mengelar karpet karena tadi Vina menelponnya.
Sedang Hana setelah Sholat membantu menata makanan untuk suguhan nanti.
__ADS_1