Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
Vina jangan berlebihan


__ADS_3

Malam ini,Wawan hanya bisa melihat istrinya yang sedang terlelap, pasalnya gadis cantik itu belum sepenuhnya pulih.


Dan dia memutuskan untuk keluar dan menikmati rokok miliknya, dia hanya bisa melihat langit malam yang sangat gelap.


"apa ini, kenapa kamu sepertinya tertekan, apa kamu tak menyukai Feby le?" tanya pak Sodikin yang melihat menantunya yang sedang duduk sendirian.


"tidak pak, saya hanya sedang menikmati rokok,karena tak mau membuat kesehatan Feby menurun, jadi saya memutuskan untuk merokok di luar," jawab Wawan.


"kamu pria baik, itulah kenapa aku mempercayaimu untuk menjaga putrimu, kamu tau wan, Feby sangat berbeda dengan Hans, jika Hana dulu terlihat ceria dan sangat murah senyum, Feby cenderung pendiam dan jarang bicara, tapi jika dia bicara kadang sering di salah artikan, pasalnya cara Feby bicara terlalu jujur," terang pak Sodikin.


"saya mengerti itu pak, saya juga bukan tipe orang yang suka bercanda," jawab Wawan.


Sedang di rumah Hardi, Vina sedang bersiap untuk mengemas bajunya yang akan dia bawa ke kota besar Surabaya.


dia akan memilih kuliah di kota itu untuk mewujudkan impian yang dia inginkan.


"jadi apa yang kamu butuhkan lagi dek, mbak bisa mencarikannya untuk mu," kata Hana yang tak ingin Vina kekurangan apapun saat di sana nantinya.


"sudah tidak ada mbak, aku sudah memasukkan semua yang aku perlukan,bahkan semua barang elektronik yang memungkin berguna nantinya, terima kasih ya," kata Vina.


"kamu itu ngomong apa, kamu itu adikku, jadi itu sudah seharusnya, dan tempat kost itu sudah di setujui kakak mu,"


"sudah mbak, karena dekat kampus dan juga ada orang kepercayaan mas juga di sana,"


"baiklah, sekarang istirahat ya, kan lusa kamu berangkat," terang Hana yang pamit keluar dari kamar adik iparnya itu.


"tunggu dulu mbak, tapi bagaimana dengan Feby, bukankah kalian juga dulu ingin menguliahkan dia, tapi sekarang dia terjebak dengan orang yang sebenarnya tak pantas untuknya," kata Vina dengan kesal.


"kita tidak bisa melihat orang hanya dari luarnya, aku dan kakak mu tetap akan menguliahkan Feby jika dia mau, dan di tambah lagi, sekarang aku lebih sering melihat senyum adikku setelah dia menikah, karena kebahagiaan orang tak bisa di ukur dari seberapa kaya kita dek, jadi istirahat ya," terang Hana.


Vina pun diam, tapi dia masih merasa itu tak akan membantu, karena pasti Feby skan jadi olok-olokan teman mereka karena baru lulus dan langsung menikah.


Meskipun di kampung mereka itu umum menikah setelah lulus SMA, tapi bagi keluarga mereka yang berkecukupan itu sangat menyedihkan.


Hardi sedang mengambil empat sertifikat sawah milik Wawan yang seharusnya dia kembalikan, karena sekarang pria itu punya tanggung jawab besar pada istrinya.


"apa anak-anak sudah tidur mas?" tanya Hana dengan lembut sambil memeluk suaminya dari belakang.

__ADS_1


"sudah sayang, bagaimana Vina, apa dia sudah selesai berkemas," tanya Hardi dengan lembut


"tentu saja, dan dia bilang jika semua barang sudah lengkap, dan aku masih sedikit bingung, kenapa Vina sepertinya tidak bisa menerima jika Feby menikah,"


"mungkin baginya pernikahan Feny itu tampak terburu-buru, dan yang pasti dia merasa kesal karena sahabat terbaiknya itu sekarang punya suami yang akan menjaganya,"


"ya bukan begitu maksud ku mas, tapi ya semoga itu hanya sesaat, karena aku melihat adik ku sangat bahagia, dan terima kasih suamiku yang telah memilih dan menyakinkan keluarga ku untuk pernikahan itu,"


"kamu bilang apa, Feby juga adikku, tapi ya sebenarnya Wawan juga tak semiskin yang di kira orang-orang selama ini, lihatlah ini semua adalah sertifikat hak milik dari sawah milik adik ipar mu," kata Hardi menunjukkan empat sertifikat itu.


"apa maksudnya mas, terus kenapa ada padamu," tanya Hana bingung.


"ya begitulah Wawan, dia itu sebenarnya mewarisi cukup banyak hal dari ayahnya, tapi karena tak mau repot, dia menitipkan sertifikat ini padaku, dan dia bilang, aku bisa menyewa sawahnya dengan sistem tahunan, sebenarnya jika aku mau, aku bisa saja berbuat curang, tapi karena dia selalu jujur saat bekerja, dan sangat bisa di andalkan, aku akan mengembalikan semua tanah ini, dan juga memintanya untuk mengelola sendiri, lagi pula sekarang dia punya bendahara pribadi sendiri," jawab Hardi.


"apa dia begitu percaya dengan mu mas," tanya Hana yang di angguki Hardi.


Tak sengaja, Vina yang lewat kamar kakaknya mendengar itu semua, dan tak menyangka jika Wawan yang di bicarakan oleh keduanya itu punya hal yang tersembunyi


Tapi dia masih belum yakin, besok dia ingin pamit pada temannya itu, dan untuk terakhir kali memastikan sesuatu.


esok paginya, Wawan sedang lari pagi setelah sholat Subuh, sedang Feby berjalan santai bersama ibunya untuk belanja di tukang sayur.


"ibu mau masak sayur bening, tapi kenapa wajah mu pucat nduk,kaki mu lemas lagi, kan ibu sudah bilang jangan ikut," kata Bu Sodikin pada putri keduanya itu.


"tidak apa-apa, jika tidak begini kapan aku bisa sembuh Bu," jawab Feby yang berusaha bangun dan ikut belanja.


"sudah duduk saja, kamu mau beli apa biar ibu yang ambilkan, jadi kalau kamu mau masak apa?" tanya Bu Sodikin.


"sama saja Bu, tapi aku mau beli telur saja Bu, dan balungan jika ada," jawab Feby


"kebetulan ada mbak Feby, mau berapa bungkus, satu bungkusnya itu setengah kilo," jawab pedagang sayur itu.


"mau beli tiga bungkus, tapi itu masih ada dagingnya kan?"


"Ita mbak, orang ini balungan iga," jawab pedagang sayur itu.


"baiklah," jawab Feby

__ADS_1


Sedangkan Bu Sodikin sibuk memilih sayuran yang akdn di masak.


Ibu-ibu di desa itu sudah mendengar pernikahan Feny dengan wawan, duda tampan desa yang terkenal kejam dan dingin.


"Bu Sodikin, saya dengar Feby sudah menikah ya, kok gak ada pesta, apa malu karena menantunya duda, di tambah menantunya juga anak buah dari menantu pertama, yang notabene kata raya," kata Bu Susi yang memang terkenal sombong dan bermulut pedas.


"iya Bu, Feby mending menikah dengan nak Wawan, tapi bukan kami malu hingga belum membuat pesta, tapi karena pernikahan itu sangat mendadak, dan nanti saya undang kok kalau kami membuat pesta, yang pasti sebelum acara pemilihan lurah pasti sudah di gelar pesta hajatan," jawab Bu Sodikin.


"ya saya dengar selentingan kabar, jika menantu kedua anda ini akan mencalonkan diri ya,"


"insyaallah Bu, jika memang bisa, karena itu permintaan dari Hardi," jawab Bu Sodikin.


Tiba-tiba Wawan lewat ke area pedagang sayur dengan tubuh berkeringat.


Dia kaget melihat wajah Feby pucat, dan sedang duduk di tembok pos kamling.


"kamu sakit dek?" tanya Wawan yang mendekati istrinya itu


"ah mas lewat sini, sepertinya aku belum bisa berjalan jauh," jawab Feby malu sambil menunduk karena tubuh suaminya itu tercetak jelas karena kaos yang di kenakan basah.


"mau mas bantu pulang, ibu masih belanja?"


"iya, itu masih memilih sayur, mas bisa pulang duluan,"


"bagaimana bisa aku meninggalkan dirimu dek, sudah mas tunggu ya," jawab Wawan yang duduk bersama Feby.


Para ibu ini tak sadar jika ada Wawan dan tampak santai, Feby bangkit saat belanjaan ibunya mulai di hitung.


"biar mas saja, kamu duduk saja," jawab Wawan.


"jadi belanjaan ibu mertua ku berapa?" tanya Wawan yang membuat semua orang kaget.


"habis delapan puluh ribu," jawab pedagang sayur itu.


"ini uangnya," kata Wawan mengeluarkan uang seratus ribu.


"tidak usah nak," kaget Bu Sodikin.

__ADS_1


"tidak apa-apa Bu, saya sekarang juga putra ibu,"


__ADS_2