Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
Guntur emosian sih


__ADS_3

Keesokan harinya, Wawan bangun dari tidurnya, dan tak menemukan istrinya di sampingnya, dia pun bangkit dan bergegas mencari istrinya,


"Sayang, kamu di mana? Tolong jawab aku, apa kamu di rumah?"


Tapi tak ada jawaban dari siapapun, Wawan pun menghela nafas, dia mengira jika istrinya itu sedang berbelanja di tukang sayur depan rumah.


Benar saja tak lama Ada sosok istrinya yang baru pulang dan melihat Wawan yang seperti orang linglung.


"Ada apa mas apa kamu mencariku, Maaf aku tidak berpamitan, karena melihatmu tidur sangat nyenyak, aku jadi tak tega untuk membangunkan mu," kata Feby yang memeluk suaminya itu.


"kamu kan tidak tahu, kalau aku bangun, tidak Menemukanmu, sedikit bingung, Itulah kenapa jadi aku berteriak mencari mu."


"Baiklah Maafkan aku Mas lain kali tidak akan ku ulangi, Sudah ya aku mau masak dulu dan Mas bisa berolahraga sekarang, karena beberapa hari ini aku melihat mas jarang olahraga, terutama saat kemarin kampanye, aku takut Berat badanmu akan bug..." kata feby menggembungkan pipi dan tubuhnya.


Wawan hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu, ya Dia sendiri juga merasakan jika berat badannya juga sudah naik, karena cukup berat untuk dibuat Berjalan jauh sedikit saja.


sedang di sisi lain, seorang pria sedang berdiri kebingungan, dia bingung harus mau berbuat apa.


dia mau masuk tapi Malu, terlebih, itu adalah kos kosan para wanita.


Tapi tanpa dia duka seorang gadis keluar dan melihatnya yang sedang mondar-mandir dari tadi.


"loh mas Wasis, Kenapa sedang di sini pagi-pagi, apa ada sesuatu yang di titipkan oleh mas Hardi, apa mungkin Mas ada urusan dengan ku," tanya Vina yang membuat kaget pria itu.


Wasis kaget, melihat gadis itu sudah ada di belakangnya. "Ah, tidak kok, aku cuma ingin bertemu kamu saja, Apa kamu sudah sarapan? kita bisa cari sarapan bersama." tawar Wasis dengan sedikit ragu-ragu.


Vina yang mendapat tawaran itu pun bingung, kenapa tumben-tumbenan Wasis datang hanya untuk mengajaknya sarapan.


"Boleh aku juga kebetulan belum membeli sarapan, tapi aku ingin beli nasi kuning yang ada di depan komplek apa bisa Mas,"


"Tentu saja, ayo kita berangkat dan kita jalan kaki saja yuk biar sehat,"

__ADS_1


"baiklah," jawab Vina.


Keduanya pun berjalan berdampingan, Wasis beberapa kali melirik ke arah Vina, dia bingung mau memulai semuanya dari mana, karena dia tidak mungkin mengatakan Jika dia datang hanya karena Imam pastikan sesuatu.


"apa Mas ingin mengatakan sesuatu? kenapa dari tadi melirikku, seperti ada yang mengganjal."


"sejujurnya, aku ingin bertanya, apa benar kamu sedang dalam hubungan dengan seseorang, aku mendengarnya dari kerabatku yang kemarin menghadiri acara di rumah keluarga Sugiono," kata Wasis malu.


Vina yang mendengar pun ingin sekali tertawa, bagaimana bisa seorang pria dewasa datang padanya hanya ingin memastikan hal seperti itu.


"Ku kira mas Wasis ingin mengatakan apa, ternyata hanya ingin bertanya itu, sejujurnya Aku tidak punya hubungan dengan siapapun, Aku melakukan hal itu, hanya ingin membantu Mas Rei saja, karena keluarganya ingin menjodohkan pria itu dengan gadis yang tak dua kenal, tapi ya Jujur saja, aku juga bingung, karena sekarang aku merasa bersalah telah membohongi keluarga itu." jujur Vina.


sedang Wasis tersenyum, sekarang dia tak perlu takut lagi karena dia sudah tau apa yang terjadi sebenarnya.


Berdua sampai di tempat penjual nasi kuning, Wasis memesankan untuk Vina.


Kemudian mereka pun duduk berdua, dan sarapan bersama, tak lupa Vina juga membungkus kan untuk Hima yang masih berada di kos.


Setelah kepergian Wasis, Vina pun masuk dan memberikan nasi kuning pada temannya, hima menerima bungkusan itu dan kaget,


"Hei tumben sekali anda nona, membelikan saya sarapan juga, Apa ada sesuatu? Aku habis dapat rezeki nomplok Ayo Jujur saja dengan ku..."kata Hima senang karena tak harus repot pagi ini


"tidak ada kok, itu hanya nasi yang dibelikan oleh Mas Wasis, jadi makan saja, aku mau bersiap untuk berangkat ke kampus, dan kamu Ingat, jangan membuat berantakan kos, karena aku tak suka dengan tempat yang berantakan."


"Iya Nona Bos, aku mengerti, Jadi silakan Anda bersiap, karena hari ini aku sedang tidak ada kuliah, Jadi aku mau santai saja di rumah, oke."


Vina pun segera mandi dan bersiap ke kampus. Karna tugasnya cukup banyak.


Sedang di kampus tempat Feby, Nita dan Vivi kuliah, ketiga wanita itu sedang duduk di taman.


Feby merasa jika Vivi sedikit berbeda dengan biasanya, "Ada apa Vivi Kenapa kamu terlihat sedih apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

__ADS_1


"Tidak ada kok, aku cuma kepikiran sesuatu, karena semalam orang tuaku menelpon, dan mengatakan Jika pertunanganku dengan pria yang telah mereka jodohkan sepertinya akan dibatalkan, karena pria itu sudah memiliki kekasih dan kekasihnya bukan orang sembarangan," jawab Vivi


"memang orang itu siapa? sehingga membuat pria yang sudah dijodohkan denganmu bisa membatalkannya, memang apa dia sehebat Bos Hardi mungkin,"


"Yah, siapa tahu, aku juga tidak tahu, karena orang tua ku tidak mengatakan Siapakah dia itu. tapi ya sudahlah, aku bersyukur, karena aku tidak jadi jodohkan, dan aku bisa mencari cintaku yang sejati. dan kamu tidak boleh banyak komentar. Oke Nita." kata Vivi dengan nada meledek.


"silakan saja, karena tipe priamu, bukan tipe priaku, karena tipe priaku adalah pria yang kekar, dengan warna kulit yang eksotis, dan tentunya wajah yang enak dipandang, bukan tipe yang cowok cowok menye-menye gitu."


"apa? kamu bilang? menye-menye ... Hei, Anda buta Ya, mereka juga cowok kekar, tahu, mereka itu merawat kulit dan tubuh mereka hingga bersih, jadi jangan salah, bukan karena putih, mereka tidak ganteng dan LAKIK, malah tambah banyak nilai lebihnya, karena dia punya data tarik kuat, oke!" kata Vivi ketus tak mau kalah.


Sedang Febi hanya diam saja, dan melihat kedua temannya itu bertengkar.


Dia sendiri bingung mau berkomentar Apa, karena suaminya sekarang juga punya tubuh yang bagus, kulit yang eksotis, dan juga tentunya merawat diri, tapi dia tetap jadi maskulin dan aroma tubuhnya saja sudah membuat lebih ingin, Ah.... sudahlah jangan dibahas itu, membuat Feby tidak tenang untuk saat ini, karena sosok suaminya tidak ada di sampingnya.


Nita dan Vivi yang menoleh ke arah temannya itu, merasa heran melihat Feby yang tersenyum dan malu malu sendiri, "Bu Lurah, Kamu, kenapa? kesambet?"


"Tidak kok, aku tidak kenapa-napa, apalagi kesambet, sudah, kita harus ke ruang kelas, jadi jangan bahasa hal itu, karena aku tidak mau membayangkan hal-hal aneh, dengan perdebatan kalian yang selalu tentang itu-itu saja,"


"Iya Bu Lurah kami akan menuruti mu..." kata Nita dan Vivi yang membuat Feby tersenyum.


Sedang di sisi lain Wawan sedang bingung menghadapi Guntur yang sedang mengamuk, karena ada beberapa hal yang salah dilakukan oleh pegawai di sawah.


"Hei, Guntur kamu itu yang salah, bukan mereka, kenapa kamu malah lebih keras, kamu salah beli pupuk itu, seharusnya itu digunakan, setelah tumbuhan padi, berumur beberapa Minggu dari selesai di tandur, bukan di gunakan sekarang," tegur Wawan.


"aku memang sedang menggoblokgoblok kan diriku sendiri, bukan mereka, aku tuh jengkel, karena aku salah dalam hal ini, padahal Bos tahu benar, jika aku tidak pernah salah dalam melakukan tugas apapun, Hanya karena hal seperti ini, aku harus merasa diriku tidak berguna sama sekali."


"Hei, Tenanglah, ini hanya masalah kecil, sudah tak perlu dibahas lagi, sekarang ambil pupuk organik itu, Dan taburkan sebelum nanti sore akan dilakukan, tandur, mengerti,"


"baiklah bos," jawab Guntur


sawah milik Wawan memang memiliki pengaturan tersendiri, tidak seperti sawah milik petani pada umumnya, karena Wawan ingin membuat semua padi yang dihasilkan dari sawah miliknya memiliki kualitas beras yang premium, jadi dia memperhatikan setiap hal kecil yang akan dilakukan.

__ADS_1


__ADS_2