Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
jangan menganggu


__ADS_3

malam hari akhirnya keluarga lurah Aris sampai di rumah, sedang pria itu terpaksa tadi pulang lebih dulu dari warung bakso karena Helmi bilang tiba-tiba badannya tak enak.


"kamu masih meriang?" tanya lurah Aris yang khawatir pada istrinya itu.


"tidak apa-apa mas, semuanya baik kok mungkin tadi karena aku makan durian kebanyakan,"


"ya sudah istirahat saja,biar mas yang menemani mereka," kata lurah Aris.


"iya mas terima kasih," jawab wanita itu


Setelah itu, dia pergi keluar dan menyapa semua orang yang masih duduk di ruang tamu.


"istri mu maha Aris,kok gak keluar?" tanya juragan Wawan.


"dia sedang tak enak badan, sepertinya perutnya kembung karena tadi kami makan duren kebanyakan," kata lurah Aris tersenyum malu.


"dasar kamu ini, sudah biar ibu lihat," kata ibu Sari yang bergegas ke kamar menantunya.


Terlihat wajah Helmi sangat pucat, tapi untungnya wanita itu tak panas, "mana yang sakit nduk?"


"tidak ada Bu, maaf jadi tidak bisa menemani di luar," kata Helmi tak enak.


"gak papa, paling kami cuma mengobrol saja," kata ibu Sari.


wanita itu pun mengusap punggung menantunya dengan minyak kayu putih agar merasa lebih baik.


Setelah itu ternyata Helmi tertidur karena merasa nyaman, satria mengintip dan masuk ke kamar orang tuanya.


"ssttss.. Ibu mu sedang tidur, kita keluar," ajak Bu sari.


Saat di luar rumah, ternyata ada orang tua Helmi yang berkunjung, tentu saja mereka langsung saling menyapa.


"wah ada gerangan apa ini, kok besan datang ke sini?" tanya juragan Wawan yang selalu bersikap tegas di depan besannya itu.


"ah tidak ada yang spesial, saya cuma mau meminta tolong pada nak Aris dan Helmi untuk datang ke acara tingkepan yang di adakan oleh besan di sana, karena mengingat hari itu di rumah juga di adakan wanaqib jadi tak bisa datang," kata ayah Helmi


"loh... Kok begitu besan," kaget Bu sari yang mendengarnya.


Pasalnya mau seburuk apapun anak kita, tak mungkin orang tua bisa melepas tanggung jawab begitu saja, bahkan ini mereka seperti benar-benar menendang gadis itu.


"tapi ini sudah keputusan yang di ambil oleh kami, bagaimana nak apa kamu mau?" tanya ayah Helmi.


"insyaallah ya yah, semoga tak ada acara dan bentrok dengan rapat," kata lurah Aris.


Bu Sari tak menyukai ini, meski Hani melakukan kesalahan tapi ini keterlaluan, terlebih menyuruh menantunya yang belum hamil datang ke acara itu.

__ADS_1


Apa kedua besannya itu punya otak, bisa-bisa di pesta itu nanti Helmi di permalukan karena belum hamil padahal pernikahan duluan dia dan lurah Aris putranya.


"memang kalian tak berpikir jauh menyuruh Aris dan Helmi, kalian tak takut menghancurkan mental putri kalian, bukankah kalian menyuruh mereka datang seperti mereka masuk ke kobaran api dengan sendirinya," kata juragan Wawan kesal.


"maksudnya besan?" tanya ayah Helmi bingung.


"kamu tak berpikir, bagaimana hinaan akan di terim putrimu yang belum hamil meski sudah menikah duluan, sedang adiknya sudah hamil dengan mudahnya,untuk putraku tak mungkin akan kena imbas karena dia punya anak sebelum dengan Helmi, tapi bagaimana putri kalian,apa tak kalian pikirkan dulu?" tanya pria itu yang menjelaskan.


orang tua Helmi terdiam, mereka juga bingung mau bicara apa, pasalnya mereka terlanjur meminta acara wanaqib ini juga untuk mendoakan Helmi.


"bismillah,tidak akan besan, karena aku yakin putriku kuat," kata ayah Helmi tetap dengan permintaannya.


lurah Aris tak bisa membantah jadi dia pasrah saja dengan semuanya yang harus dia lakukan dengan istrinya itu.


Setelah merasa dapat jawaban,kedua orang itu pulang tanpa menanyakan kabar Helmi.


Meski wanita itu tak keluar saat ada ramai-ramai,entah antara tak peduli atau terlanjur malu karena ucapan juragan Wawan.


Di sisi lain,di rumah Hardi tampak sepi karena hanya dirinya dan Hana yang ada di rumah.


keduanya sedang sibuk-sibuknya,Hardi melakukan pemeriksaan laporan semua usaha miliknya.


Sedang Hana sibuk dengan semua tugas dan soal yang dia buat untuk ujian Tengah semester.


tentu saja dia hanya membuat lima soal, tapi itu tidak ada pilihan ganda, cuma esai tapi tentu tak semudah itu.


"mau dong,pesan pentol bakar, tapi aku tahunya saja yang banyak dengan bumbu sate," kata Hana yang masih fokus pada laptop miliknya.


"aku juga berpikiran begitu, baiklah kita pesan lewat online saja, kebetulan di grup warga ada yang jualan sepertinya," kata Hardi.


Dia pun langsung mencarinya dan ketemu, dia memesan cukup banyak, yaitu tiga puluh tusuk sate tahu bakar, dan Lima pentol bakar.


Hana menyelesaikan semua tugas untuk semua kelas, dan kini dia memeriksa beberapa dokumen penting yang harus segera dapat balasan.


Karena dokumen-dokumen itu berisi beberapa undangan workshop untuk murid atau mungkin jadwal perlombaan dan sebagainya.


Dia benar-benar ingin sekolah e di pegangnya ini dan berkembang lebih pesat lagi, terlebih penyokong terbesar adalah suaminya.


ternyata ada beberapa guru yang kemarin lalu melakukan interview dan juga ujian.


Ya mereka adalah para pendaftar yang ingin mengisi lowongan beberapa bagian, seperti tata usaha.


Dan beberapa lowongan guru, ternyata ada nama Kirana Suhadi yang membuatnya kaget.


Pasalnya dia punya surat rekomendasi dari dosen di universitas tempatnya belajar dulu.

__ADS_1


"ada apa sayang,kenapa muka mu kaget begitu?" tanya Hardi yang tak sengaja melihat raut wajah istrinya itu.


"apa mas mengenal wanita ini,aku tidak mengenalnya sama sekali, tapi kenapa dia bisa punya rekomendasi dari dosen killer di kampus ku," kata Hana tak percaya.


"ah tolak saja, karena dia sepertinya akan membuat masalah, meskipun hasil tes semuanya bagus," kata Hardi yang tak suka dengan perangainya.


Pasalnya dari semua guru yang mendaftar, dia ini menulis agamanya Islam, tapi tidak mengenakan hijab.


Padahal di kawasan sekolah guru di wajibkan berjilbab baju yang muslim, "tidak jangan langsung tolak, biar aku telpon dosen ku dulu, semoga beliau mau menjawabnya," kata Hana yang segera mengambil ponselnya.


"assalamualaikum nduk... Ada apa kok tumben menelpon bapak malam-malam," tanya pria sepuh di sebrang telpon.


Hana menyalakan loud speaker ponselnya agar Hardi bisa mendengar percakapan mereka juga.


"Niki pak Harun, saya mau tanya, apa bapak pernah memberikan rekomendasi pada seorang mahasiswi bernama Kirana Suhadi, dia datang ke sekolah saya untuk mendaftar menjadi guru, dengan jalur rekomendasi bapak," kata Hana sopan.


"ah Rana, iya itu aku memberikannya katanya dia mau melamar di sekolah bagus, aku kira sekolah mana, ternyata tempat ku toh, bukankah itu bagus," kata pria itu santai.


"iya pak, tapi melihat dari pendidikan yang di ambilnya, di sekolah kami tak akan bisa merekrutnya," jawab Hana yang tak mau ambil masalah.


"kamu bisa menjadikan dia apapun, aku bisa menjamin jika dia tak akan berani melakukan hal yang melanggar hukum," kata pria itu yakin.


"baiklah pak, kalau begitu," kata Hana yang mengakhiri panggilan telpon itu setelah berbincang lama.


tapi hati kecil Hana seakan melarangnya untuk menjadikan wanita itu sebagai guru di sekolahnya.


"sudah sayang jangan terlalu di pikirkan, besok ajak para guru bermusyawarah,"


"ide bagus mas," jawab Hana.


Tiba-tiba bel pintu pagar berbunyi, ternyata pesanan mereka datang, dan mereka pun menikmatinya dengan sangat senang.


Ya Hardi tak ingin ada apa-apa dengan istri dan anaknya, terlebih ini kehamilan Hana yang pertama.


setelah makan, Hana berjalan ke ruang tamu dan ke ruang tengah dengan perlahan.


bahkan saay ingin duduk saja dia kesulitan karena perutnya yang memang besar di banding ibu hamil seusia kehamilan Hana.


"capek ya, sabar ya sebentar lagi bayi kita lahir," kata Hardi dengan menempelkan tangan di perut istrinya.


tiba-tiba pria itu merasakan tendangan dengan keras, dan itu membuatnya terkejut.


"mereka bergerak dek," kata pria itu kaget.


"benarkah?" tanya Hana yang merasakan juga

__ADS_1


keduanya pun terus berbicara dan bayi yang berada di dalam perut Hana sepertinya merespon dengan sangat baik.


__ADS_2