
Setelah sampai di rumah Hardi,Feby turun setelah Wawan membukakan pintu, gadis itu hanya tersenyum saja.
"kenapa kamu membuat ku begitu merasa di tarikan saat bersamamu cak?" kata Feby dengan nada suara bercanda.
"memang tidak boleh, kamu adalah adik dari bos ku, dan terima kasih atas semuanya," jawab Wawan.
"iya sama-sama," jawab Feby yang memilih untuk masuk.
sedang wawan memutuskan untuk masuk juga sekalian berpamitan, karena dia tak mungkin ada di rumah itu untuk waktu lebih lama lagi.
Feby masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke kamar karena besok ada acara di sekolah bersama Vina.
"bos aku pamit dulu ya, permisi pak sodikin," pamit Wawan.
"kamu tak mau jujur Wawan, kenapa kamu tak mau menjadi orang ku untuk mengantar ayah mertuaku ke Surabaya untuk memutuskan pertunangan Feby," tanya Hardi yang merasa aneh.
Pasalnya selama ini, Wawan tak pernah menolak keinginannya, tapi kenapa sekarang saat dia sangat di butuhkan mdlah tak mau melakukan itu.
"karena aku punya alasan lain, dan seharusnya pak Sodikin juga sadar saat melihat wanita itu, atau mungkin semua sudah lupa karena tiga puluh tahun yang lalu dia pergi dari desa ini dan menikah dengan orang kaya," kata Wawan.
Mendengar ucapan itu, membuat pak Sodikin terkejut,dia pun mengingatnya kembali.
Pantas saja dia seperti pernah melihat ibu dari Ibra itu, "maafkan aku nak, ya seharusnya aku tak memaksa mu, dan lagi aku bisa minta bantuan yang lain," jawab pak Sodikin.
"baiklah jika itu keinginan ayah, nanti biar Budi yang mengantar ke Surabaya," jawab Hardi.
Wawan memutuskan untuk pulang, dan langsung memilih beristirahat, karena besok tugasnya cukup menumpuk di gudang dan di sawah.
Keesokan harinya, Feby dan Vina sudah siap berangkat, mereka sampai di sekolah dan ternyata ada acara jalan sehat.
karena mereka berdua ini salah satu panitia, jadi mereka yang bertugas menjaga barisan selama melakukan jalan sehat dan juga memastikan semua murid aman.
Sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi dan tampaknya tak terkendali, melihat itu Feby lari dan mendorong Vina dan beberapa adik kelasnya.
Dan mobil itu menabrak tubuh Feby dengan sangat keras, dan membuat gadis itu hingga terpental dan dengan keras kepalanya membentur aspal jalan.
__ADS_1
Pengemudi itu langsung melarikan diri begitu saja, Vina yang melihat itu langsung lari dan menangis histeris melihat tubuh Feby yang sudah berlumuran darah.
"Feby!!" teriak Vina yang tak menyangka akan menyaksikan semua ini.
Hana yang memang berada di barisan paling belakang lari dan dia langsung jatuh lemas melihat adik kecilnya itu sudah bersimbah darah.
Bahkan Vina yang memeluk Feby pun tak hentinya menangis, dan Hana tak bisa mendekat karena tubuhnya lemas.
"Feby!!!" teriak Hana dari kejauhan melihat adiknya itu
Gadis itu di bawa ke rumah sakit, Hana dan Vina saling berpelukan untuk menguatkan, Feby di bawa ke ruang operasi
sedang di gudang, Hardi yang baru akan pergi setelah mendapatkan kabar dari istrinya.
Kaget saat di gudang kedatangan para polisi, Wawan yang mengeluarkan mobil Hardi pun di tangkap atas kasus pelecehan dan pemerk***** dan dengan semua bukti yang di miliki.
"tapi saya tak pernah menyentuh Leni, hanya beberapa kali mengantarnya pulang itu saja," kata Wawan tak terima
ya dia awalnya ingin ikut melihat kondisi Feby, tapi sekarang masalah besar sedang menantinya.
Hardi masih menelpon beberapa kenalannya dan dia tak menyangka Wawan di bawa begitu saja, "tunggu dulu pak, saya ingin kejelasan, dan saya tak bisa membiarkan kalian membawanya begitu saja!"marah Hardi.
"tidak bos, aku akan mencoba untuk mengurus diriku, dan tolong lihat dan beritahu aku semua perkembangan tentang Feby," kata Wawan.
"apa kamu mencintainya?" tanya Hardi yang merasa jika tatapan mata Wawan selama ini selalu berbeda jika bersama agik iparnya itu.
"aku mana pantas bos, yang pasti aku ingin dia bahagia dan terus tersenyum seperti beberapa hari ini," kata Wawan yang langsung di masukkan kedalam mobil polisi.
Hardi pun merasa begitu buruk,ke apa kasus dan kejadian Feby begitu bersamaan, sebenarnya apa yang terjadi
"sudah bos, anda ke rumah sakit, biar saya yang ke kantor polisi untuk melihat kondisi Wawan dan bagaimana pria yang selalu menatap dingin ke arah wanita itu bisa melakukan hal seburuk ini," kata pak Sardi.
"terima kasih pak," jawab Hardi yang langsung pergi ke rumah sakit dengan mobilnya.
Dan saat sampai, ternyata Feby masih di tuang operasi karena pendarahan cukup banyak.
__ADS_1
Hardi pun langsung memeluk kedua wanita tercintanya itu, dia juga tak menyangka jika akan melihat kedua wanita itu masih mengenakan baju yang berlumuran darah.
"kalian ganti baju dulu," kata Hardi.
"tapi Feby?"
"tenang, aku di sini dek, kalian tak boleh sedih kita harus kuat, ingat di rumah ibu juga khawatir, dan bapak sedang perjalanan kembali sadi Surabaya," jawab Hardi
Keduanya berganti baju, sedang Hardi menunggu di depan ruang operasi, dan dokter akhirnya keluar.
"bagaimana kondisi adik saya dokter," tanya Hardi yang langsung bangkit.
"kondisinya sangat tidak baik tuan, benturan keras di kepalanya mungkin akan membuatnya kehilangan kesadarannya, jika dia masih bisa bertahan kemungkinan bisa bangun dan hidup normal hanya tiga puluh persen, dan kemungkinan besar adalah hal terburuk, dia akan menjalani kondisi vegetatif karena luka di kepalanya," jawab dokter.
"apa adikku tak akan bisa bangun?" tanya Hana yang tak sengaja mendengar percakapan itu.
"tidak dek, dia akan bangun dan kita akan mencarikan solusi terbaik, jika perlu kita akan pergi ke Singapura demi menyembuhkan Feby," jawab Hardi yang memeluk tubuh istrinya..
"tidak, kenapa Tuhan begitu tidak adil, dia hanya ingin menyelamatkan diriku, kenapa kondisinya harus seburuk ini..." lirih Vina yang juga syok.
Hardi yang kaget pun makin merasa sedih, karena Feby bisa mengorbankan hidupnya demi Vina.
Di sekolah di adakan doa bersama, dan para siswi yang di selamatkan Feby terus menangis saat berdoa untuk kesembuhan gadis itu.
tapi kondisi Feby benar-benar tak bisa di prediksi, dan kini gadis itu tinggal di ruang ICU sentral demi memulihkan kondisinya.
Bahkan beberapa alat terpasang untuk menunjang hidupnya, malam itu Hana dan Feby pulang dan di gantikan oleh orang tua feby.
Pak Sodikin dan istri hanya bisa menangis, putri keduanya yang tak pernah mengeluh dan berbuat buruk
Kini hanya terbaring tanpa bisa melakukan apapun, bahkan rambut Feby sudah di gunduli karena operasi.
"pak..."
"yang sabar Bu, kita hanya bisa mendoakan Feby, dan semoga doa kita di dengar oleh Allah ya," kata pak Sodikin yang bersikap kuat demi istrinya.
__ADS_1