
Vina masih belum menyadari bahwa seragam kerja yang di gunakan oleh Hana adalah seragam guru sekolahnya.
terlebih kalau Senin memang kebanyakan memakai seragam berwarna coklat sebagai seragam wajib.
"loh mbak memdng akan mengajar di mana?" tanya Vina yang penasaran.
"mau tau aja, atau mau tau banget," kata Hana tertawa melihat Vina yang langsung melengos.
"jangan ngambek gitu dong dek, masak kamu gitu sama mbak mu dan cdlon ponakan," kata Hardi yang keluar dari dalam rumah.
"apa mas ponakan?" tanya Vina tak percaya.
Hardi memeluk Hana dan mengusap perut istrinya yang masih rata, "iya dong, sudah empat Minggu dek,"
"selamat!!" teriak Vina yang memeluk kedua kakaknya itu.
"sstts... jangan berteriak-teriak begitu, pamali jadi tolong diam-diam ya," kata Hana.
"baiklah mbak, aku mengerti, aku akan tutup mulut,sekarang aku takut telat, jadi aku berangkat dulu ya," pamit gadis itu.
"baiklah hati-hati," kata Hana yang mencubit pipi suaminya.
Bagaimana tidak kesal, kemarin bilang ingin merahasiakan, tapi malah keceplosan seperti ini.
"maaf dek," kata Hardi yang merasa tak berdaya dengan istrinya itu.
"baiklah, aku akan berangkat ke sekolah, duluan ya mas," pamit Hana.
"oh ya ini kartu untuk mu, dan kamu bisa menggunakannya untuk merawat diri," kata Hardi yang tak pernah pelit pada istrinya itu.
"tapi mas, dia kartu yang kamu berikan saja jarang terpakai,"
"pokoknya kamu pegang aku juga pegang dua, dan tolong jaga kondisi mu ya dek, jika lelah kamu bisa menelpon ku atau meminta bantuan padaku," kata Hardi.
"siap mas suami, aku mencintaimu," kata Hana yang mengecup pipi pria itu
__ADS_1
Hardi pun tersenyum melepas kepergian istrinya, tak butuh waktu lama dia pun pamit pergi saat melihat pasangan suami istri datang ke rumahnya.
Hardi langsung ke sawah karena pagi ini ada sedikit masalah Hana yang menyerang tanaman jagung yang baru tumbuh.
Biasa di sebut putihan atau bule, jadi tumbuhan jagung yang terserang penyakit itu tak akan bisa menghasilkan jagung yang bagus jadi harus di buang.
Sedangkan tak hanya satu sawah yang terkena penyakit itu, tapi dengan santai Hardi meminta para karyawannya mencabutnya.
"buat pakan sapi saja om," jawab Hardi yang masih di jalan.
"ya bocah pintar," kata Abdi yang menang tau jika Hardi memiliki peternakan sapi pedaging.
Sedang motor Hana baru sampai di sekolah, meski sedikit telat, dia membawa sedikit buah tangan untuk semua guru.
Dan tentu saja Hana di sambut sangat baik, di tambah semua orang tau jika Hana ini menantu dari pria yang menjadi pemilik yayasan sekolah ini.
"selamat datang Bu Hana, Monggo langsung ke lapangan karena upacara bendera akan segera di mulai," kata pak Seno, Waja kesiswaan.
"baik pak, tapi saya harus menaruh tas saya dulu di ruangan," kata Hana yang memang tak mengenakan sepatu dengan hak tinggi.
Semua murid yang jumlahnya sudah ratusan orang sudah penuh di lapangan.
upacara di mulai, dan Hana memilih barus di belakang karena sudah telat.
terlihat pak Seno yang menjadi inspektur upacara, dan semua murid terlihat begitu rapi berbaris
dan seseorang tiba-tiba berdiri di samping Hana, ternyata itu adalah guru olahraga.
Hana sempat menoleh dan menyapanya dengan senyuman. Upacara berjalan cukup hikmat.
"sebelum saya bubarkan, bapak ada satu pengumuman jika kita memiliki kepala sekolah baru, dan tolong sambut dengan meriah ibu Hana Khoirun Nisa," kata pak Seno.
Febby dan Vina tak percaya, terlebih saat mereka melihat sosok wanita yang mereka kenal.
Begitupun dengan beberapa teman mereka, yang memang pernah bertemu Hana yang terkenal baik.
__ADS_1
"selamat pagi semuanya, kalian bisa memanggil ibu Hana ya, dan tolong kerjasamanya untuk membuat sekolah ini semakin maju, apa semuanya bisa," kata Hana yang memang tak suka basa-basi.
"bisa Bu!!" jawab semua murid.
Karena para siswa seperti dapat angin segar karena sosok kepala sekolah mereka ini muda.
sebab mantan kepala sekolah yang lama ini terlalu kolot, itulah kenapa beberapa ekstrakulikuler tidak bisa berkembang.
Tapi Hana sudah membuat semua pengaturan untuk ekstrakulikuler agar bisa maju, dan siang nanti ada rapat bersama dengan orang yayasan untuk membahas dana tunjangan sekolah.
Bagaimana pun dia butuh banyak dana, dan dia belum sadar jika dia akan mengetahui hal besar nantinya.
Sedang di desa, Helmi sedang pusing karena belum menemukan seorang yang akan memberikan ilmu untuk para ibu ibu untuk bisa mengembangkan UMKM di desa.
Aris yang kebetulan masuk kedalam ruangannya kaget melihat sosok istrinya itu masih melamun.
"ada apa sih sayang, kamu ini memikirkan apa kok sampai tak sadar saat aku masuk," kata Aris yang duduk di kursinya.
Helmi bangkit dan duduk di depan meja suaminya, "pak lurah, boleh minta tolong tidak, saya bingung nih mau cari orang untuk mengajarkan beberapa usaha UMKM untuk para ibu-ibu kader PKK," kata Helmi.
Aris tersenyum mendengarnya, "kenapa bingung sih Bu lurah, tetangga kita itu ada yang punya usaha bagus loh, minta tolong saja agar mau membantu mu," kata Aris.
"siapa?"
"itu mbak Wulan, istri juragan Baron," kata Aris yang membuat Helmi mengangguk.
"tapi apa tak masalah mas, kan mbak Wulan baru kehilangan anaknya, aku takut jika dia masih berduka," kata Helmi.
"insyaallah semua sudah kondusif, karena kemarin aku sempat bertemu dengan juragan Baron dan istrinya di acara desanya,"
"baiklah kalau begitu nanti biar aku mengajak Bu sekdes ke sana untuk membicarakan hal itu lebih lanjut, kalau begitu pak lurah aku pamit ya," kata Helmi yang bangkit dari kursinya dan mencium tangan suaminya
"kenapa buru-buru, padahal aku ingin kamu disini bersamaku,"
"Tapi aku harus menjemput Satria mas, jadi nanti aku tunggu di rumah ya,"
__ADS_1
tapi aku minta hal besar yang di angguki oleh Helmi, dan itu membuat senyum Aris mengembang senang.