
Vina kaget saat melihat pria itu sedang menghadang Feby, "ada apa lagi, kenapa kamu disini dan menganggu Feby," marah Vina.
Hima yang melihat juga langsung menghadang pria itu, "jangan menganggunya, ingat kamu sudah tak bisa mendekatinya lagi,"
"apa kenaia seperti ini Feby, kita kan sudah berjanji akan bersama selamanya, apa kaku lupa itu, aku masih sangat mencintai mu," kata Ibra tanpa rasa malu.
"kamu gila, wanita di samping ku itu terluka, dan jangan mendekatiku lagi," kata Feby yang berteriak cukup keras.
Rei dan teman-temannya pun langsung berkerumun dan ada satpam juga.
"aku benci kita ini," kata Feby yang merasa malu dan ingin lari dari sana.
Tapi saat dia berbelok betapa terkejutnya Feby melihat sosok Wawan sedang menatap penuh amarah ke arah Ibra.
bahkan Guntur juga membuat Rei gemetar karena baru kali ini melihat sosok yang bahkan abangnya yang terkenal kejam.
Bisa berdiri di belakang pria itu, Feby langsung lari ke arah suaminya itu, "bawa aku pulang mas, dku benci di sini," lirih Feby.
"bukan kamu yang harusnya pulang, tapi pria itu saja yang tak punya malu," kata Wawan memeluk Feby.
Guntur tau jika ini akan jadi masalah besar, "bereskan semuanya, aku tak ingin ada yang tersisa, dan terutama untuk pria itu beri pelajaran berat," perintah Wawan yang mengajak istrinya pergi.
Vina dan Hima juga langsung pergi bersama Wawan dan Feby, melihat itu Rei mengkode para anggota klubnya untuk mundur.
dia tau meski mereka mengeroyok guntur, dia akan tetap babak belur karena guntur tipe orang yang pantang mundur.
"kenapa masih di sana Rei, pergi," usir Guntur pada adiknya itu.
"baik bang,", jawab Guntur berlari pergi.
Dan Ibra tentu saja habis di tangan mereka dan pria itu tak di izinkan masuk ke gedung itu, bahkan tim manajemen pun mengiyakan, mengingat jika ada campur tangan besar dalam urusan petinggi.
Ibra tak menyangka, Wawan yang seorang kacung bagi Hardi, bisa punya kuasa sebesar ini.
"aku tak terima, aku harus mengurus segalanya, dan meminta ayah ku membereskan pria itu, bagaimana pun caranya," gumamnya yang langsung bangkit dan bersiap pergi.
sedang di sisi lain,di sebuah warung pinggir jalan, Wawan menatap tiga wanita yang terlihat menunduk dari tadi.
Tak lama ada Guntur dan anggota yang lain datang, sedang Rei di usir pulang.
"jadi kalian bermain dan membuat kekacauan," tegas Samsul.
"mereka tdk bersalah, aku yang tak suka saat dia mencoba menyentuh ku," kata Feby jujur karena dia tak ingin Vina dan Hima yang terkena masalah.
"apa?"
"dia tiba-tiba datang dan langsung menarik tangan ku dan trus mengucapkan omong kosong tentang cinta, aku sudah menolaknya dan memberontak agar tangan ku di lepaskan tapi dia terus mengatakan hal aneh,"
mendengar itu Wawan menarik tangan istrinya pelan dan ternyata ada bekas merah di sana.
__ADS_1
"seharusnya aku memotong tangannya," marah Wawan.
"sudah mas,kita sudah pergi dan jangan di bahas aku mohon, dan mereka siapa aku tak pernah melihatnya?" tanya Feby yang mencoba untuk mengubah topik pembicaraan.
"mereka yang nanti akan membantu kita di desa, kamu skan sibuk di kampus, jadi mereka akan bekerja sebagai anak buah ku, dan mereka juga akan membantu dalam kampanye yang akan di adakan sebentar lagi," kata Wawan
"seperti itu, kalau begitu bagaimana jika setelah makan kita ke makam sunan Ampel, setidaknya aku ingin berdoa di sana agar segalanya lancar,"
"baiklah sayang, sekarang pesan apapun yang kamu inginkan, kalian semua juga dan untuk kalian Vina dan Hima, terima kasih sudah menjaga Feby sebentar,"
"iya mas," jawab Hima.
"iya cak," jawab Vina
Mereka semua makan, Guntur dan tiga yang lain akdn menyusul ke desa besok pagi karena jika sekarang terlalu mendadak.
setelah makan mereka pun bersiap untuk berangkat menuju salah satu komplek pemakaman wali songo itu.
Feby mengganti celananya dengan rok di dalam mobil, ya dia berpakaian sopan saat masuk ke area itu.
Keduanya juga mengambil wudhu sebelum masuk kedalam kompleks makam, tak lupa mereka berdoa meminta kelancaran pada sang maha pencipta.
setelah itu Feby menghampiri salah satu juru kunci dsn meminta izin untuk mengambil buah mengkudu muda dan minta di doakan juga.
setelah itu mereka berdua duduk di salah satu sudut area makan, dan Wawan menahan dirinya, saat melihat istrinya itu sedang memakan mengkudu mentah di depannya.
"apa itu enak sayang, kamu memakannya hanya dengan garam ini," kata Wawan benar-benar merinding melihatnya.
Wawan mengeleng pelan, tapi melihat raut wajah istrinya yang sedih,dia pun mencobanya.
Rasanya aneh dan rasa mual itu membuatnya hampir muntah, tapi demi Feby dia langsung menelannya begitu saja dan segera minum.
"itu sehat kok, sudah habis kita beli kurma yuk buat di rumah,"
"aku pernah di beri bos kurma yang tidak lengket di tangan dan rasanya sangat legit tapi aku bingung mau menjelaskan," kata Wawan yang membuat Feby tersenyum.
"itu kurma nabi mas, sudah aku tau merek apa yang selalu di beli oleh mas Hardi," kata Feby tersenyum dan mengenggam tangan Wawan.
Ya Feby sengaja meminta mengkudu muda yang sudah di doakan,karena dulu Hana setelah makan itu tak lama hamil.
Dia juga ingin segera memberikan pewaris pada suaminya, karena dia ingin keluarganya itu semakin lengkap dengan hadirnya malaikat kecil di keluarga mereka.
Feby berhenti di salah satu stand penjual kurma di dalam pasar, dia menyebutkan merek dan pedagang pun mengambilkan satu kotak dengan berat satu kilo.
"benar kan kurma yang mas maksud?"
"iya sayang,"
"baiklah pak haji minta lima kotak ya,"
__ADS_1
"siap neng," jawab pedagang itu
Setelah dapat kurma, Feby tak langsung pulang,dia membeli wewangian untuk dirinya.
tentu saja itu wewangian yang di gunakan saat hanya bersama suaminya.
Wawan yang di minta untuk mencium aromanya pun memilih satu parfum yang dia sukai.
"hentikan kamu bahaya mas," kata Feby malu.
"kamu tau aku selalu suka dengan wangi parfum ini," bisik Wawan yang membuat Feby tersenyum.
"tolong berikan botol berukuran sedang,"
"baik Bu Hajjah,"
Feby menepuk pipi suaminya agar sadar, dan mereka pun berjalan menuju ke parkiran mobil.
Tapi tak sengaja mereka melewati seorang penjual peyek, seorang ibu tua renta sedang duduk sambil menunggui dagangannya.
Feby yang melihatnya pun merasa sedih, "mas tolong masukkan ke mobil sebentar ya, aku ingin ke Minimarket sebentar,"
"apa kamu butuh sesuatu sayang?"
"sebentar saja, nanti kamu bisa menghampiri ku jika lama," kata Feby yang tersenyum.
Wawan pun menurut, Feny mendekati penjual peyek itu,bah sadean nopo?" tanya Feby dengan ramah.
"peyek nduk, Mbah gak bisa jelas saat mendengar,"
"berapa satunya Mbah?" tanya Feby dengan sedikit keras karena Mbahnya tidak seberapa dengar ternyata.
"sepuluh ribu satu gendhel isi tiga plastik," kata wanita itu
Wawan yang merasa tak bisa menunggu, akhirnya memutuskan untuk menghampiri istrinya, tapi betapa terkejutnya dia saat melihat Feby sedang duduk di pinggiran toko.
Wawan ingin mendekat, Feby mengirimkan pesan,dan Wawan langsung menuju ke minimarket yang masih buka untuk membeli sembako.
"Mbah Kulo tumbas sedoyo peyeknya ya, totalnya berapa ya," tanya Feby yang mulai menghitung semuanya.
Ternyata masih ada sekitar dua puluh ikat, "semuanya ada dua puluh nggeh Mbah,jadi dia ratus ribu ya,"
"tidak usah nduk,mending beli semampunya saj, dari pada di buang," kata wanita sepuh itu
"tidak akan di buang Mbah,suami saya sangat menyukainya, dan nanti juga saya bagikan pada orang yang lewat, bagaimana Mbah boleh ya,"
"ya sudah," jawab wanita itu
Feby pun langsung membagikan semua peyek itu,dan mengambil uang di dompetnya.
__ADS_1
Wawan sedang membayar sekalian mengisi kartu e-toll miliknya yang hampir habis tadi tinggal lima puluh ribu.