Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
dia untuk yang terbaik


__ADS_3

Helmi terlihat diam, lurah Aris juga diam, sedang putra mereka yang duduk di belakang pun tampak tak mau bicara.


Inilah yang di takutkan oleh keluarga lurah Aris, "mas kira ke toko buah sebentar ya, kita beli beberapa buah," kata Helmi yang membuka percakapan.


"baiklah dek," jawab pria itu yang menghentikan mobilnya di kios buah.


Akhirnya mereka semua turun untuk membeli beberapa jenis buah, dan anehnya saat ibu dan ayah Helmi mencicipi jeruk keduanya kaget karena rasanya asem.


"kenapa Mbah?" tanya Satria penasaran.


"jeruk ini Hem... Rasanya asem, bang ini jeruk apa sih," protes ibu Helmi pada pedagang itu.


"itu jeruk biasa Bu, yang manis ini, jeruk madu," kata penjualnya.


Akhirnya mereka pun mengambil jeruk itu dan mulai mencicipinya, dan ternyata rasanya benar.


Satria langsung memberikan jeruk di tangannya pada sang bunda, "ada apa kak?"


"hihihi... Itu jeruk rasanya asem banget," kata Satria.


"apa iya," kata Helmi yang memang penasaran pun mencoba mencicipinya.


Tapi nyatanya segar kok menurut Helmi, "enak kok, ya asem tapi ada manis dan seger,"


"iya kah, aku penasaran apa iya," kata lurah Aris yang juga langsung makan dari tangan istrinya.


"enak kok seger, aku minta jeruk ini saja deh sekilo buat di rumah," kata lurah Aris.


"sepertinya lidah ayah dan bunda sedikit aneh ya," kata Satria yang membuat kedua orang tuanya menoleh.


"loh memang kenapa, rasanya tidak seburuk itu kok," kata Helmi.


setelah mendapatkan apa yang di inginkan mereka pulang, sedang di rumah Hana, wanita itu sedang bekerja mereka semua ulangan muridnya.


Dia menikmati es leci yang di buatnya dengan buah leci segar, sedang suaminya itu ada di rumah mertuanya yang menjadi pos anak-anak membuat berbagai macam bentuk tumpeng yang besok akan di bawa.


ya karena tempat acara itu dekat dengan rumah orang tua Hana, terlihat ibu Sodikin keluar sambil membawa jus mangga.


"semuanya ayo minum dulu, ini jus mangga sama puding,"panggil wanita itu.


"terima kasih Bu," kata Amir yang sangat sopan


ya di banding teman-teman seusianya, Amir ini memang di kenal sebagai salah satu pemuda idaman para ibu yang punya ayah perempuan.

__ADS_1


tak terkecuali bagi Bu Sodikin, meskipun pemuda itu tak sekaya Hardi menantunya tapi dia punya agama dan sopan santun yang sangat baik.


"nanti kalau kurang manis bilang ya," kata Bu Sodikin.


"Alhamdulillah, jusnya enak Bu manis banget," kata Amir dengan sopan.


"Alhamdulillah, ini jus buatan sendiri, tadi sebelum berangkat ke sekolah Feby yang buat, dan tak di kasih gula karena mengunakan mangga gadung," kata Bu Sodikin.


"Feby sama Hana ini sama-sama pintar memasak dan buat camilan, betapa beruntungnya pria yang akan mendapatkannya," kata Hardi yang membuat beberapa pemuda tertawa.


"gak ada yang berani deketin mas, orang mbak Feby begitu ketus kok," celetuk salah satu pemuda.


Amir menoleh Feby ketus, padahal selama ini dia tampak lebih pendiam di bandingkan Vina yang begitu aktif.


"tidak kok menurut ku, hanya saja mungkin dia kurang nyaman dengan situasinya,"


"sudah tak usah ribut, nikmati saja suguhannya, sebentar lagi juga makan sore datang, tapi ibu kemana ini dua gadis kok belum pulang ya?" tanya Hardi


"tadi sih pamitnya mau ke tempat temannya ambil baju, entah juga sih," kata Bu Sodikin yang merasa bingung.


Amir pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi salah satu dari gadis itu.


Dia menelpon Vina tapi ponsel gadis itu tak aktif,jadi dia menelpon ponsel milik Feby.


"assalamualaikum," salam Amir.


"kalian di mana, tadi aku telpon ponsel Vina tak aktif, itu beberapa hiasan juga belum selesai,"


"oh itu, biarkan saja nanti aku selesaikan tunggu pulang, dan ponsel Vina mati karena lupa tak di charge,"


"ya sudah nanti kalau pulang titip beli double tip tiga ya,"


"iya," jawab Feby yang mematikan ponselnya.


sedang Vina yang dari tadi sibuk memilih beberapa camilan pun baru menoleh ke arah sahabatnya itu.


"ada apa?"


"ini ada telpon dari mas Amir, kenapa ponsel mu mati dan kenapa kita belum pulang," jawab Feby.


"idih kepo, sudah tau kita mah tim belanja," kata Vina tertawa.


Mereka memang baru selesai membeli keranjang buah dan juga beberapa roti untuk besok.

__ADS_1


Karena dari pagi sudah di pastikan akan sangat sibuk dan tak bisa melakukan hal lain selain fokus pada urusan acara.


"sudah ayo pulang, semuanya sudah di beli," kata Vina.


Feby sebagai tim supir pun siang dan kini mereka pulang ke rumah, bahkan motor matic itu sudah di sulap seperti pengantar paket.


saat mereka sampai di rumah bersamaan dengan Hana yang juga baru datang dengan membawa nasi bungkus untuk semua orang.


Hardi langsung membantu istrinya, sedang para remaja itu membantu Vina dan Feby.


"semuanya ayo makan dulu, nanti kalian sakit kalau terlalu fokus pada pekerjaan," kata Hardi


Hana pun duduk bersebelahan dengan suaminya, dan dia mengenakan baju gamis yang bahannya dari kaos karena sekarang dia sangat mudah gerah.


"mas baju ku kekecilan semuanya deh," kata Hana dengan lirih.


"ya sudah nanti kita beli yang baru, ya mau bagaimana lagi, orang ada Dede bayi kok," kata Hardi yang tersenyum sambil menyuapi istrinya itu.


Para remaja yang ada pun merasa malu melihat pasangan itu, "mas, kalau mau mesra-mesraan di dalam rumah sana dong, ini banyak orang tak malu nih kalian," kata Vina


"lah kenapa malu, orang aku menyuapi istriku sendiri kok,"


"ya bukan begitu maksudnya, tolong hargailah jakunyang jomblo ini mas iparku yang tampan," kata Feby yang membuat Hardi tersenyum.


"gitu dong puji kakaknya, gak kayak Mak lampir ini, beh.. nyebelin," kata Hardi pada adiknya sendiri.


"mas yang nyebelin," kata Vina dengan suara keras.


"sudah kalian lanjut makan, mbak akan psmit duluan dengan mas Hardi," kata Hana dengan sopan.


karena tiba-tiba Hardi mendapatkan telpon dari pak Pardi mengatakan jika ada masalah di gudang.


sedang pak Sardi yang mengantar barang ke kota juga mengalami masalah dengan Wawan.


"jangan panik mas, mungkin semua bisa di selesaikan, tenang ya..."


"tapi aku tak menyangka akan ada masalah seperti ini," kata Hardi yang sdmpai di guba bersama dengan istrinya itu.


terlihat di sana sudah ada banyak orang dan juga polisi, terlihat mayat dari salah satu warga yang gantung diri di tanah kosong sebelah rumah sudah di turunkan juga.


"bagaimana ada hal seperti ini?" tanya Hardi yang menyuruh istrinya menunggu di dalam gudang.


"kata istrinya, Mbah no ini sudah frustasi karena tak lagi bekerja, ya karena usianya dia di berhentikan oleh perusahaan yang selama ini menjadi tempatnya mencari nafkah, dan tubuhnya juga sering sakit-sakitan, mungkin karena tak tahan dan merasa menyusahkan jadi memilih gantung diri," jawab pak Pardi.

__ADS_1


"tapi kenapa di dekat gudang ku, sekarang kita juga kena imbasnya," gumam Hardi yang tau jika ini bisa membuat anak buahnya khawatir dan ketakutan tak jelas.


"ya terus gimana lagi bos," tanya pak Pardi yang bingung juga


__ADS_2