
ketiga pria itu sedang duduk di taman kampus sambil menikmati makanan yang mereka pesan.
Saat datang beberapa mahasiswi mendekati ketiganya, "permisi.. Apa kami boleh minta foto, dan berkenalan?" tanya salah satu gadis.
"maaf saya sudah berteken," kata Hardi dengan jelas menunjukkan jari manisnya sudah di isi cincin.
"apa, ya kamu memang suami idaman," puji Wasis.
"bagaimana mau tergoda, orang istrinya sudah alim dan cantik, dan pasti istri idaman, ya pasti udah sempurna, dia mah di tinggal nikah sama pacarnya, tapi dapetnya malah lebih bagus, kan dancok," kata bagus tertawa.
"lambemu, kalau kalian semua mau foto itu minta sama dua pria itu saja,"
"kejam banget sih," kata salah satu gadis yang memiliki wajah imut.
Bahkan gadis itu menunjukkan wajah polosnya seperti menggoda untuk membujuk Hardi.
Tapi semua tak mempengaruhi pemuda itu, pasalnya Hardi masih sibuk makan dimsum dan rujak buahnya.
Setelah selesai menikmati makanannya, mereka masih duduk di taman kampus karena sedang ada band indie yang tampil.
"ah sialan, ini band apa perusak gendang telinga sih, mainnya gedubrakan begitu," kata Wasis yang memang tidak terlalu suka musik rock atau metal.
"ya namanya juga musik metal, kita coba main, tapi jatuhnya malah akustik karena kita bertiga mainnya gitar dan bass,"
__ADS_1
"gak papa kita coba saja, toh kamu juga ada sebagai vokalis," kata bagus.
akhirnya ketiga pria itu naik ke atas panggung dan membawakan lagu yang begitu merdu dan mendayu.
Sedang di ruang pelatihan, tiba-tiba semua heboh saat sedang istirahat, sholat dan makan.
"ada apa Bu Lilik, sepertinya semua ibu-ibu heboh?" tanya Hana yang penasaran.
"ini loh Bu, band kampus yang terkenal di seluruh Surabaya main lagi meski tak memiliki personil yang penuh, tapi mereka tampak begitu tampan dan mainnya bagus," kata wanita itu.
Hana ikut melihat dan betapa terkejutnya dia melihat suaminya yang sedang menyanyi di atas panggung.
"mau ketemu Bu?" tawar Hana.
"memang buat siapa?"
"buat putriku, dia itu ngefans karena ketiga pemuda ini itu kesayangan ayahnya, dan dia bilang aku mau seperti mas Hardika ini, dia itu sudah pintar, ganteng dan berprestasi,"
"baiklah nanti jangan buru-buru pulang, kita ketemu mas Hardika,"
"mbak yakin?"
"insyaallah," jawab haba tersenyum
__ADS_1
akhirnya pelatihan berlanjut dan pukul empat sore, Hardi sudah menunggu istrinya yang juga baru keluar dari hotel.
Hardi langsung mendekati Hana dan memeluknya erat, "assalamualaikum bidadari surgaku,"
"wa'alaikumussalam imam ku, mas ada yang ingin ketemu dengan ku," kata Hana yang memperkenalkan wanita yang tak percaya dengan apa yang di lihatnya
Hardi yang mengenali wanita itu langsung mencium tangan wanita itu sebagai tanda sopan santun.
"apa kabar Bu Lilik, apa pak Mardi sehat," tanya Hardi.
"kabar ku baik, aduh siswa kesayangan suamiku, ternyata kamu suaminya mbak Hana, ya Tuhan kalian ini pasangan muda yang benar-benar hebat, yang pria jenius yang wanita lebih jenius lagi," kata wanita itu bersemangat.
"jenius maksudnya Bu?"
"sudah mas, Bu Lilik ini suka melebih-lebihkan saja, orang aku santai saja kok," jawab Hana.
Bu Lilik tak menyangka jika wanita itu begitu sopan dan lembut, bahkan dia tak ingin menyombongkan dirinya di depan suaminya.
"ibu sudah di jemput?" tanya Hana.
"tidak mbak Hana, saya naik kereta api karena suami saya kurang enak badan,"
"kalau begitu bareng kita saja, nanti saya antar hingga rumah ya Bu," kata Hardi.
__ADS_1
"baiklah nak, terimakasih ya,"