
"apa yang kamu katakan, kamu lahir di dalam ikatan suci, bahkan kamu adalah hadiah yang sangat hebat," kata Hardi yang merasa begitu sakit hati.
pasalnya adiknya itu selalu dia jaga dalam naungan yang semestinya, karena dia tak ingin siapapun melukainya.
"kalau begitu kenapa, mbak Rina begitu jahat membentak ku di depan semua teman ku," kata Vina.
"tenanglah dek, aku bisa buktikan jika kamu itu lahir dari ikatan yang suci bahkan usia pernikahan ibu dan ayah saat itu sudah cukup lama baru memiliki kamu lagi, bahkan ayah tak percaya jika masih bisa punya anak meski sudah berusia cukup dewasa," kata Hardi.
"iya mas,"
"ya sudah kamu tidur dulu, biarkan mas yang menyelesaikannya," kata Hardi yang membuat gadis itu tenang.
Vina langsung menuju ke kamar miliknya untuk istirahat, sedang Hardi menutup pintu dan langsung mengemudikan motornya menuju ke rumah kakak tiri yang tak tau diri itu.
Dia Sudah lelah terus di hina, Wawan yang kebetulan sedang berada di pos kamling pun langsung mengejar pria itu.
"pak RW ikut saya pak, ada bahaya besar pak," kata Wawan yang langsung menarik pria sepuh itu.
"ada apa toh wan, orang lagi ngopi loh," kata pak RW yang kaget.
"sudah nanti dku belikan sate kambing satu porsi, dan kalian cepat panggilkan cak Abdi, bilang bahaya mas Hardi, cepat!!" teriak Wawan yang tau jika ada yang tak beres.
Hardi sampai di rumah keluarga Syam, terlihat rumah itu sudah gelap, tapi tak peduli dengan itu.
Hardi tetap menggedor-gedor pintu rumah dengan sangat marah, pasalnya Rina sudah berani menyentuh adiknya.
"wanita jahat, keluar dari rumah atau aku akan membakar rumah ini dengan seluruh penghuninya!!" teriak Hardi yang terus mengedor pintu rumah.
__ADS_1
Karena marah Hardi menendang semua pot bunga yang ada di tempat itu.
Di dalam rumah Rina ketakutan, karena baru kali ini dia mendengar suara Hardi yang begitu marah
Sedang pak Syam yang mendengar keributan keluar, begitupun dengan Dimas dan Leni.
Tapi saat baru membuka pintu rumah. Sebuah pot bunga melayang ke arah dirinya dan untungnya pot itu meleset hingga tak mengenai dirinya.
"apa kamu gila Hardi,aku bisa mati terkena benda itu," kata ak Syam yang tak percaya dengan apa yang terjadi.
"ha-ha-ha.... peduli setan dengan itu, mana wanita jahat itu, keluarkan atau aku yang akan menyeret dia keluar dengan kaki yang hilang," kata Hardi dengan wajah marah.
Wawan dan pak RW baru datang dan kaget melihat sosok Hardi yang sedang menendang dada Dimas hingga terpental ke dalam rumah.
Sedang untuk pak Syam sudah tersungkur di pelataran rumah dengan kesakitan.
Leni menghadang pria itu agar tak mencari ibunya, "tidak on, jangan lakukan itu, dia begitupun tetap kakak mu,"
Tapi sekali sentak gadis itu tersungkur dengan jatuh cukup keras.
"sudah ku katakan minggir!!" bentak Hardi yang langsung menuju ke dalam rumah.
Setelah itu yang berhadapan dengan Hardi adalah Leli yang sedang mengendong putranya dengan takut.
"mana kamar wanita jahat itu," kata pria itu.
Leli menunjukkan kamar ibunya, dan Hardi langsung masuk tapi pintu itu terkunci.
__ADS_1
Dengan sekali tendang pintu itu hancur dan Bu Rina tersungkur di dalam kamarnya.
Dan tanpa ampun Hardi menyeret wanita itu ke luar rumah,Leli tak mengira pria yang selama ini hanya bisa tersenyum santai.
Kini menunjukkan siaia dirinya dengan kejam. "kamu yang membuat adikku menangis, maka aku akan tunjukkan apa yang bisa aku lakukan," kata Hardi yang langsung menginjak kaki wanita itu hingga patah.
"bos!" kaget Wawan.
dia sebisa mungkin menarik Hardi keluar dari dalam rumah, Bu Rina langsung berteriak kesakitan karena kakinya patah di saat dia sadar seperti itu.
Hardi di dorong keluar dan pria itu berteriak keras, "bangsat!!" teriaknya dengan sangat keras.
Pasalnya dia sangat marah, karena semua orang ingin mengusik keluarganya.
"aku akan membunuhnya," marah Hardi, tapi saat dia ingin berlari kedalam rumah seseorang memegang tangannya.
"cukup berulah mu mas, kamu sudah berlebihan, kamu bukan pria yang tak tau aturan hingga melakukan hal seperti ini," kata Hana yang menghentikan suaminya itu.
Hardi berbalik, dan ternyata Hana datang bersama Abdi, dan Hana sudah meneteskan air matanya.
Hardi pun langsung memeluk istrinya erat, dan Hana pun membalas pelukan itu, "tenang sayang, kamu itu pria yang sabar,"
"biarkan om Abdi yang menyelesaikan semuanya,"kata Hana yang membuat pria yang berdiri di belakangnya itu langsung bergerak.
Pak Syam pun langsung mencoba memohon tapi pria itu di tendang, "sudah ku katakan berkali-kali, jangan mengusiknya, terlebih putri berharga ku," marah Abdi yang mengangkat meja kaca di ruang tamu dan kemudian membantingnya tepat di sebelah Bu Rina.
Semua orang kaget melihatnya, begitu pun Bu Rina yang kini langsung terkena serangan jantung.
__ADS_1
bahkan Abdi tak takut untuk masuk penjara lima tahun lagi karena dia sudah sering keluar masuk penjara.
Lagi pula Alfi bisa menjaga putri mereka, dan tentu saja bantuan dari Hardi dan Hana juga ada.