
Hana membuat tahu kukus ayam sayur, tak lupa dia juga menggoreng ikan dan membuat sambal bawang.
Dia hampir lupa belum membangun suaminya, akhirnya saat selesai semuanya.
dia bergegas ke kamar untuk melihat Hardi, tapi saat masuk kedalam kamar, dia malah dapat pelukan hangat dari suaminya yang sudah selesai menunaikan kewajibannya.
"mas..." lirih Hana yang merasakan tangan Hardi nakal.
"kenapa, aku mau lagi sayang," bisik Hardi yang membuang jilbab yang di kenakan isterinya itu.
bahkan dia langsung mendorong Hans ke ranjang, fan kembali melakukannya lagi.
Pukul enam pagi lebih lima belas menit, Hana sudah siap dengan baju seragam sekolah dasar negeri yang menjadi tempatnya mengajar.
"mbak Hana berangkatnya mengunakan mobil atau motor, karena motor di rumah tinggal ada motor sport milik mas Hardi," Kata Vina yang memang selalu mengunakan motor matic milik Hardi.
"Lah iya aku lupa belum beli motor untuk mu dek, apa tak apa-apa?" tanya Hardi yang tampak bingung.
"tidak masalah mas, aku bisa mengunakan motor ku sebentar lagi juga datang di antarkan oleh bapak," kata Hana.
Hardi pun merasa tak enak, karena Haba masih harus mengunakan motor lamanya.
"sudah telpon bapak tidak usah antar motor, biar aku antar ya ke sekolah, karena nanti juga aku tak ada jadwal ke luar kota kok,"
"baiklah mas jika memang mas mau mengantar,"
Akhirnya pukul setengah tujuh Mereka semua berangkat ke tujuan masing-masing.
Hana sampai di depan sekolah tempatnya mengajar, tak lupa dia mencium tangan suaminya.
Dan tanpa terduga, Hardi malah memberinya ciuman mesra di kening istrinya itu.
"Mas malu..."
"Kenapa harus malu, aku mencium kening istriku, sudah mas berangkat kerja dulu ya, dan apa yang jajannya punya Tante ku sayang," tanya Hardi.
"Masih banyak mas, dan berhenti memanggil ku Tante, dasar suami bocah ku yang tampan," kata Hana tersenyum dan pamit masuk kedalam sekolah.
Sedang Hardi pun langsung mengendarai motor sportnya menuju ke gudang karena hari ini hari gajian.
__ADS_1
Tanpa di sadari oleh kedua pasangan itu, dari tadi ada seseorang yang melihat kemesraan itu.
Ya dia adalah Helmi yang tak sengaja bersamaan mengantar Putranya satria ke sekolah.
bahkan tubuhnya seperti membeli menyaksikan semuanya, untungnya dia mengunakan masker jadi Hardi dan Hana tak mengenalinya.
Setelah melihat motor Hardi pergi, dia pun berbalik putar arah dan menuju ke sebuah toko sayur yang ada di daerah dekat rumahnya.
Saat sampai di sana, ternyata sedang banyak ibu-ibu yang berbelanja.
"Bu punya hati sapi?" tanya Helmi yang batu sampai di tempat itu.
Salah satu Ibu mengenali sosok Helmi yang memang sekarang menjabat menjadi ibu lurah.
"loh Bu lurah belanja ya, kok siang?" tanya Bu RT.
"iya Bu, habis antar satria ke sekolah, sekalian mampir," jawab Helmi
"ada Bu lurah, tapi setengah kilo apa mau?" tanya pedagang sayur itu.
"iya Bu tolong ya, dan minta kangkungnya satu ikat ya," tambah Helmi yang mengambil belanjaannya.
"Bu lurah ini hebat ya, bisa menerima anak dari suaminya yang entah ibunya saja tak tau siapa,"
"ah maaf Bu lurah bukan maksudnya begitu, saya hanya mengatakan kebenaran," kata wanita gemuk itu sedikit kaget melihat reaksi dari Helmi.
"itu memang kebenaran, tapi hal itu melukai putra saya, jadi mulai sekarang saya tak mau mendengar siapapun menghina putra saya tak memiliki ibu," kata Helmi tegas.
"wah sekarang sudah berani ya, padahal kamu tau siapa suamiku pasti tak akan berani mengatakan hal seperti itu padaku," kata wanita itu lagi.
"siapapun anda itu tak penting, dan jika anda lupa saya ingatkan, jika suami saya ini Lurah di desa, dan juga saya menantu dari juragan Wawan," kata Helmi yang membungkam mulut wanita itu.
Ya mereka semua dengan asal menghina orang yang salah, karena kebenaran siapa Aris harus mereka ingat selalu.
"sudah Bu semuanya jadi berapa,"
"semuanya jadi empat puluh lima ribu Bu lurah,"
Helmi membayar belanjaannya dan langsung pulang, karena dia tak suka jika harus mendengar omong kosong lagi.
__ADS_1
Setelah itu dia pulang ke rumah, ternyata Aris masih belum berangkat ke balaidesa.
Malah masih asik menyirami tanaman di depan rumah, dan kaget melihat Helmi yang baru sampai tapi dengan muka jutek.
"ada apa dek, kenapa mukanya di tekuk begitu?"
"aku tak suka dengan ibu-ibu di pedagang sayur itu, kenapa mereka bilang jika satria tak punya ibu, terus mereka menganggap ku apa, pajangan," kesal Helmi.
"sudahlah, mulut ibu-ibu kampung memang begitu, mereka ini suka mengumbar aib orang lain,tanpa ingat aib sendiri." kata Aris yang mengajak istrinya itu masuk kedalam rumah.
Helmi pun masuk dan mulai merebus hati sapi itu dengan api kecil dan menambahkan rempah-rempah agar menghilangkan aroma khas jeroan.
Tapi Aris tak menyia-nyiakan waktu berduaan dengan istrinya, karena dia sudah di todong cucu oleh orang tuanya.
"mas aku sedang memasak," kata Helmi kaget merasakan tangan suaminya sudah berada di depan tubuhnya.
"sebentar saja ya..." bisik Aris yang langsung menarik Helmi dan mereka pun melakukannya di ruang tengah.
Bahkan keduanya bisa bebas, Aris benar-benar tak menyangka akan begitu menyenangkan memiliki istri yang bisa dia nikmati kapanpun.
setelah selesai, keduanya masih tidur berdampingan di ruang tengah, bahkan Aris sempat memberikan ciuman pada istrinya itu.
"sudah mas, kamu harus ke balaidesa, jangan sampai telat ya, sudah hampir setengah sembilan pagi,"
"memang kalau telat Kenapa, aku juga biasa ke balaidesa jam sepuluh siang, aku melakukan ini karena ibu ingin punya cucu lagi segera," jawab Aris yang mulai mencumbu istrinya itu lagi.
"tapi bagaimana dengan satria, apa dia mau punya adik, takutnya dia keberatan mas..." kata Helmi.
"aku yang akan jelaskan nanti padanya, lagi pula dia pasti senang punya asik uang bisa dia ajak main," kata Aris yang tak bisa di bantah.
Pukul setengah sepuluh akhirnya Aris sampai di balaidesa, dan langsung masuk kedalam kantornya.
Dan ternyata banyak surat pengajuan untuk keterangan usaha yang di gunakan untuk mengajukan kredit.
"pak Pur, masuk ke ruangan ku sekarang," panggil pria itu pada sekertaris desa.
"iya pak lurah ada apa?"
"ini kenapa para warga kok bisa-bisanya mau mengajukan kredit bank, apa mereka sanggup untuk membayar angsurannya, saya tak mau ada yang mendapatkan surat penyitaan lagi seperti tiga yang terakhir kali," kata Aris yang tak mengira warga desanya begitu berani.
__ADS_1
"ya mau bagaimana lagi pak, saya sudah menjelaskan tapi mereka juga tetap mau mengambil kredit itu," jawab sekdes Pur.
"ya sudah, saya akan lepas tangan kalau begitu," jawab Aris yang tak mau ribet.