
Feby merasa napas karena suaminya tak ada ampun, "mau berangkat sayang?"
"mas, aku malas deh," jawab Feby yang membuat wawan gemas dan kembali memeluknya.
"ah ayo ke rumah mas Hardi, bisa habis aku di rumah," kata Feny panik bukan main.
Wawan tersenyum dan memilih untuk pergi bersama istrinya untuk melanjutkan tugas.
Bahkan Feby mengunakan jaket tebal karena cuaca sedang berangin dan juga dingin.
tak lupa mereka juga berhenti di sebuah kini market untuk membelikan coklat untuk Vina dan semua anak kecil yang ada di rumah.
setelah itu baru mereka melanjutkan perjalanan, dan tak butuh waktu lama, untuk mereka sampai di tempat acara.
Tentu saja, ketua panitia dan istri punya jalur khusus, keduanya menuju ke rumah Hardi yang di gunakan untuk tim konsumsi.
Ternyata nasi lima belas kilo sudah hampir habis dan Bu Sodikin sedang memasak di belakang
"itu sayur lodeh tolong di kira-kira ya karena sudah malam," kata Feny yang langsung menuju ke bagiannya.
sedang Wawan sedang memberikan arahan pada semua tim yang akan melakukan pertunjukan malam ini.
"ada apa lagi yang di butuhkan?" tanya Hardi pada adik iparnya itu.
"sepertinya kita harus mulai memasak sayur lodeh lagi mas, karena sayur lodeh kedua sudah keluar," kata Feby.
"apa kamu gila, itu panci Lima kilo sudah habis, wah kalian beri makan orang satu kampung," kata Vina heran yang baru datang bersama Wasis dan si kembar
"iya," jawab Feby, Hana dan Hardi.
__ADS_1
"wah gila, jika bukan bos Hardi gak akan ada yang sanggup melakukan hal itu," kata Wasis tak percaya.
"ya sudah mulai buat bumbu dek, biar mbak suruh cak Tono mengambil nangka muda di belakang rumah, santan masih ada kan," tanya Hana.
"ada kalau santan aku syok banyak di freezer, oke aku tinggal buat bumbu, dan Vina bantu aku motong tewel oke,"
"siap Feby." jawab gadis itu yang langsung ke belakang.
Ya keluarga Hardi benar-benar menghabiskan banyak uang hari itu, bahkan para penonton tak menyangka jika mereka gratis mengambil makan nasi lodeh dari rumah pemilik hajat.
"ini di potong besar-besar feb?"
"jangan kalai bisa cacah saja, sekecil mungkin karena takutnya yang bagikan sayur lodeh gak ngira-ngira, dan lagi biar cepat mateng," kata Feby yang sedang memblender bumbu dan langsung memasukkan kedalam panci Lima kilo yang sudah ada santan.
dan untungnya mereka menggunakan kompor jos, jadi semuanya cepat panas dan matang.
Sebelum di masukkan kedalam panci yang sudah di beri santan dan bumbu.
Dan mereka tinggal nunggu matang, dan Feby tak lupa memasukkan potongan balungan kedalam kuah itu.
karena sayur lodeh terakhir di tunjukkan untuk para penghibur dan para tim panitia.
Malam itu mereka menanak nasi sekitar delapan kilo lagi, dan Bu Sodikin benar-benar tak mengira jika Feny bisa secepat ini.
"dek kamu gak lelah?" tanya wanita itu yang takut Feby sakit.
"tidak lelah kok, kan sudah dapat cas dari mas Wawan Bu, jadi semangat deh," jara Feby yang membuat Vina melengos.
"aduh kamu ini,"
__ADS_1
"idih kayak punya suami sendiri,"ketus Vina.
"makanya nikah, enak tau ada yang pijitin saat capek, ada yang suapin, ada yang manja-manjain, pokoknya enak deh," kata Feby yang membuat Vina merinding mendengarnya.
"gak minat dulu deh, terlebih dengan pria bertato seperti mas Wawan,"
"kamu tau Vina, jangan lihat orang dari sampulnya saja, yang penting isi dompet dan dalamnya gede apa kecil, ha-ha-ha," kata Feby tertawa melihat Vina melotot.
Keduanya pun terus berbincang, di depan para pihak keamanan terlihat menjalankan tugas dengan baik.
Para pemuda desa tak ada yang berani berulah, mengingat siang tadi sudah ada dua orang babak belur di tangan Wawan yang menggila.
Di tambah malam ini Wawan makin mengetatkan pengamanannya, bahkan teman-teman Hardi pun heran melihat tertibnya orang-orang nonton.
"gila setelah acara pukul kursi tadi siang, sekarang semuanya anteng ya," heran Ripin pada Wasis
"kamu tak tau kan siapa pria itu, dia dulu saat muda menjadi manusia tak bisa mati di pasar dungdoro, bahkan dia dulu si sebut remaja pencabut nyawa, satu-satunya preman yang tak kenal takut di tempat itu, tapi setelah kenal Hardi dan pulang ke desa, dia ternyata tak berubah dan lihatnya bagaimana dia menjadi pria paling tegas dan di takuti," kata Wasis.
"memang itu keluarganya gak ada yang bisa menuntunnya,"
"bukan tidak ada yang menuntunnya, tapi karena dia di buang ibunya, dan di tambah ayahnya meninggal karena di fitnah seseorang, dan dia tumbuh di jalanan, tapi yang aku sukai dari dua adalah kejujurannya, dan rela mengorbankan hidupnya demi orang yang dia lindungi, seperti halnya dengan ku," kata Hardi yang membuat Ripin dan Wasis diam.
Acara berjalan dengan baik, hingga akhirnya semua sayur lodeh dan nasi untuk warga habis
Feby ke depan dan memanggil beberapa pria untuk membawa stok terakhir, dan sekarang Feby memilih duduk di teras bersama Hana dan yang lainnya.
acara itu berlangsung hingga pukul dua dini hari, dan banyak dari teman Hardi yang sudah istirahat di ruang tengah karena kamarnya tak cukup.
sedang Feby dan Vina sedang jualan nasi untuk para panitia dan tim penghibur yang baru selesai tampil.
__ADS_1
Setelah selesai,tim panitia beres-beres karena di lingkungan tak boleh kotor dan sampah yang berserakan.
Setelah membakar semuanya, mereka pun duduk bersama dan mulai makan, tentu Feby dan Wawan tetap makan sepiring berdua.