
Vina dan Bagas sudah berpamitan dengan semua orang, tapi Hardi meminta mereka untuk menginap.
Toh semua tetangga dan juga semua perangkat desa juga tau pernikahan mereka berdua.
Bagas pun mengiyakan,karena dia tak mau buru-buru memboyong istrinya itu ke kota saat ini.
Karena itu bisa saja membahayakan keselamatan Vina, mengingat para pria yang mendekati gadis itu adalah orang-orang nekat.
pukul sepuluh malam, Wawan memberikan jaket miliknya pada Feby, "mas, dan semuanya, kami pamit dulu ya, karena besok saya harus rapat ke kecamatan dan adik juga harus kuliah pagi juga, takutnya dia kelelahan," pamit Wawan.
"baiklah aku mengerti, terima kasih ya," kata Hardi yang menepuk tangan adik iparnya itu.
"iya mas, dan tenang saja anak buah ku juga akan berjaga di sekitar sini, jadi jika ada apa-apa tinggal bersiul saja,itu kode mereka," kata Wawan yang membuat Hardi merasa aman
Pria itu pergi di ikuti guntur dan Vivi serta Nita, ya bagaimana pun mereka berdua juga harus pulang.
Itulah kenapa guntur akan mengantar keduanya, dan satu persatu tamu juga pulang.
Vina sudah berada di kamarnya, dan Bagas pun masuk kedalam kamar itu dan melihat sosok Vina di sana.
"assalamualaikum..."
__ADS_1
"wa'alaikumussalam mas," jawab Vina yang terlihat begitu bingung.
"boleh aku duduk di sini dan mengajak mu bicara?" tanya Bagas yang membuat gadis itu menoleh.
"inggeh mas,"
Bagas berjalan dengan pelan dan duduk di kursi meja rias milik istrinya itu, dia tersenyum tipis saat melihat suasana kamar itu.
"kamu sangat di cintai dan di lindungi oleh kakak mu ya, terlebih dulu dia selalu bilang, aku akan mengabulkan semua permintaan Vina," kata Bagas yang membuat Vina menunduk sedih.
"tak semuanya, dan itu hanya bayangan saja, karena mas Hardi begitu keras dan sering menentang ku, bahkan dalam memilih ..."
"dia selalu bilang, adikku adalah hidup ku, aku akan memilikinya selamanya hingga dia mati, tapi aku ingin melihatnya bahagia dan memiliki suami yang mencintainya, dan mungkin aku akan membuat suaminya sudah nantinya, karena Vina terlanjur menjadi gadis manja karena diriku, aku selalu berdoa untuk bisa menikahkan adikku itu dengan suami yang pantas untuk mendapatkannya,"
Perkataan itu sukses membuat Vina meneteskan air mata, Bagas menghapusnya dengan lembut.
"aku tau kita menikah tanpa saling mengenal, jadi aku tak akan menuntut mu apapun dek, tapi tolong terima aku dan keluarga ku ya, aku tau mungkin cinta yang akan aku berikan tak bisa mengalahkan Hardi, tapi aku bisa memberikan hidup ku untuk mu, aku berjanji itu pada mu, dan dalam hidup ku ini hanya akan ada kamu seorang wanita di hidup ku ini," kata Bagas.
"jangan seperti ini,janji itu sangat berat,"
"aku tak keberatan untuk berjanji demi senyuman di wajah istri ku yang cantik ini, jadi jangan menangis lagi ya dek,"
__ADS_1
Vina mengangguk dan tak menyangka, pria yang terlihat tengil dan cerewet.
Bisa seromantis ini dan begitu lembut, bahkan suaranya bisa menenangkan pikiran dan hatinya.
dan yang baru dia tau, jika Hardi yang selalu terlihat tegas ternyata punya sisi yang begitu menyayanginya.
Vina keluar dari kamar untuk membuatkan suaminya itu air jahe hangat, saat dia mendengar suara Isak tangis lirih di dapur.
Dia mendekat dan melihat Hardi sedang di peluk oleh Hana, dia pun kembali ingat dengan ucapan dari Bagas.
Vina berjalan dengan pelan dan kemudian berlutut di depan kedua kakaknya, "terima kasih... Sudah menjadi orang yang begitu mencintai ku mas, maaf kan aku jika selama ini aku sering membuat mas Hardi sedih," kata Vina.
Hardi pun langsung menciumi wajah Vina dan memeluk adiknya itu.
"kamu adalah hidup mas, tolong bahagia ya dek, dan jika kamu kesulitan jangan ragu untuk mengatakan apa pun itu pada mas mu ini,"
"inggeh mas," jawab Vina.
Hana tak mengira akan melihat suaminya itu lemah saat harus melepaskan satu-satunya adik perempuannya.
Ya keduanya selama ini hidup bersama, setelah kecelakaan yang merenggut orang tua.
__ADS_1