
Vina belajar hingga malam hari, saat dia melihat ponselnya ternyata sudah jam sebelas malam.
"Hah sudah Jam segini, kemana Hima pergi kok gak pulang," gumamnya.
dia mencoba menghubungi nomor ponsel hina, tapi ponsel gadis itu tak aktif.
jadi dia mencoba menghubungi beberapa kenalan yang ada di kota itu tapi tak ada yang tau Hima di mana.
akhirnya terpaksa Vina menghubungi Feby agar sahabatnya itu meminta tolong pada suaminya, ya bagaimana pun Hima sepupu jauh dari Wawan.
Feby yang sedang bercanda dengan Wawan karena tato di tubuh pria itu
Kaget melihat ponselnya berdering di jam ini, "siapa yang menelpon ku," kata Feny yang mengambil ponselnya dan melihat nama Vina di layar.
"siapa sayang?" tanya Wawan yang penasaran
"ini Vina, iya na ada apa?" tanya Feby yang menjawab panggilan itu dengan menyalakan loud speaker agar suaminya juga dengar.
"aku mau minta tolong padamu Feby, bisakah minta suamimu untuk menelpon Hima atau melacaknya,aku sati tadi tak bisa menghubungi nomornya, apa dia pulang ya, tapi dia tak pamit atau meninggal pesan apapun," kata Vina yang merasa kebingungan.
"sebentar sayang," kata Wawan yang bangkit dari kursinya untuk mengambil ponselnya yang sedang di cas.
Ternyata dia menghubungi hina di nomor ponsel yang lain milik gadis itu dan ternyata tersambung.
tentu Wawan bisa melacaknya dan mengirimkan lokasinya pada temannya yang ada di kota itu.
"aku sudah menyuruh orang untuk menjemputnya, kamu bisa tunggu atau jika mending takut lebih baik minta tolong seseorang untuk bersama mu, tapi jika itu laki-laki aku rekomendasikan adalah wasis," kata Wawan yang tak ingin Vina kenapa-kenapa.
"begitu ya, baiklah aku akan menelpon mas Wasis, terima kasih dan maaf mengganggu waktu kalian," kata Vina merasa tak enak.
"tak masalah," jawab Feby ramah.
Vina mematikan ponselnya dan langsung menghubungi Wasis,sedang Wawan masih memantau titik lokasi dari Hima.
"gadis ini tidak gila olahraga berat, kenapa masih di tempat muathai hingga malam," gumamnya.
"mungkin ada acara, karena Vina baru jadi belum di ajak mungkin," kata Feby yang membuat Wawan sedikit tenang.
"mungkin begitu Tya sayang, ya sudah sekarang kamu mau tanya apa lagi," kata Wawan yang menunjukkan punggungnya pada istrinya itu.
"ah ini gambar apa, kenapa begitu panjang dan berkelok-kelok seperti jalan di pegunungan," kata Feby sambil mengikuti alur gambar di punggung Wawan yang memang berbentuk naga.
__ADS_1
"kamu mau tanya atau menggoda ku," kata Wawan berbalik dan langsung memeluk istrinya itu.
Keduanya pun berciuman dengan sangat dalam, setelah itu keduanya melakukan aktivitas malam sebagai suami istri.
Feby benar-benar melayani suaminya dengan sangat baik, dan dia tak menyangka akan tau banyak gaya dalam hal seperti itu.
Guntur sampai di tempat club muathai, dan melihat tempat itu masih ada satu ruangan yang menyala.
Dia yang sedang bersama anak buahnya tiba-tiba kaget mendapatkan telpon dari Wawan untuk mencari sepupunya.
Dia pun langsung masuk bersama tiga orang lainnya, berjaga-jaga jika akan ada hal yang tak di inginkan.
Saat masuk kedalam, guntur bertemu dengan salah satu pria yang sepertinya sedang menerima telpon.
"siapa kalian, kenapa berani masuk kedalam tempat ini, ini bukan tempat umum," marah pria itu.
Tapi Anto yang kesal menampar pria itu hingga pingsan, "mampus,"
"sudah kita ke atas mencari gadis itu, jika perlu obrak-abrik tempat ini,"perintah guntur.
"siap bos," jawab ketiga pria itu.
Mereka naik dan benar saja saat melihat ada lampu yang sedang menyala, ternyata mereka sedang melakukan pesta ulang tahun klub dan minum-minum.
"dasar adik goblok, kau lupa dengan Abang mu, kenapa kamu mengajak gadis ini pesta hingga jam segini,bos ku marah besar karena gadis ini mengabaikan tugasnya," marah Guntur mengeplak kepala Rei dengan sangat keras.
"siapa mas, ah... Aku tak tau yang jamu maksud," kaget Rei yang kesakitan karena pukulan di kepala dari Abang pertamanya itu.
"eh Himawari, kenaia masih diam saja cepat pulang jika tak ingin semua gajimu hangus di tangan kakak sepupu mu, dasar gadis ini, kau lupa tugas mu untuk menjaga Vina," tegur guntur yang membuat Hima kaget bukan main.
"ya Tuhan, aku tak sadar sudah jam segini, wah jika ketemu mas Wawan bisa di rujak habis aku," panik Hima yang langsung berkemas untuk pergi.
"bubarkan acara ini,kalian bukan bocah hingga harus merayakan hal seperti ini,"
"memang Kenapa," protes Rei.
"kamu mau aku menghancurkan tempat ini," marah Guntur dengan suara menggelegar yang membuat Rei ciut.
Ya mau bagaimana pun Guntur memang yang menyewakan tempat ini dan dia belum bisa melawan kakaknya itu.
Di tambah guntur di kenal sebagai preman di kota itu, menggantikan preman terkuat sebelumnya yang memilih pulang kampung.
__ADS_1
"semuanya bubar, dari pada tangan dan kaki kalian misah," kata rei membuat semua orang kaget dan ketakutan.
Hima datang dengan mengunakan ojek online, dan melihat Vina sedang bersama Wasis di depan kos.
"kamu lupa jalan pulang," ketus Vina yang khawatir.
"maaf, aku lupa waktu karena keasikan ngobrol, terima kasih sudah menjaga Vina ya," kata Hima sopan.
"ponsel mu mati,aku hingga harus meminta tolong cak Wawan untuk mencari mu,"
"kamu hampir membuat ku di seret pulang tau, lain kali aku akan beri pesan deh, maaf ya," kata Hima.
"baiklah, dan mas Wasis terima kasih,mas Haris jauh-jauh dari rumah ke sini hanya demi menemaniku," kata Vina yang merasa tak enak.
"tak masalah Vina, toh aku juga sedang tak bisa tidur, jadi sekalian cari angin, sudah masuk sana besok kan ada kuliah penting,"
"iya mas terimakasih ya, nanti kapan-kapan aku traktir makan bakmi ya, tapi mas yang pilih tempatnya,"
"baiklah aku tunggu," jawab Wasis dengan ramah.
Vina pun mengangguk, dia tak menyangka pria yang sudah dia tolak tetap seranah ini padanya.
padahal jika mau Wasis bisa membenci Vina, tapi dia tak bisa memikirkan itu dulu,karena besok ada jam kelas pagi dan kelas itu sangat penting jadi dia harus beristirahat agar besok lebih fresh.
Sedang Rei masih di parkiran karena melihat Guntur sedang asik merokok di atas motornya sendirian.
"bang pulang ya, ibu terus sedih karena kamu tak mau pulang, sebentar saja," bujuk Rei.
"kamu ingin aku di bunuh oleh ayah mu, dia bahkan bilang dengan jelas aku tak boleh menginjakkan kaki ku di rumah itu," kata guntur.
"itu karena kamu menolak pernikahan yang di janjikan beliau dengan temannya,"
"kenapa harus aku, putranya tidak hanya dku Rei, dia punya empat putra dan satu putri,kenaia tidak kamu saja putra kesayangannya, aku selalu hidup bebas di jalanan,mau ku kasih makan apa anak orang itu," ketus Guntur.
"bang, kamu bicara seolah kamu tak punya uang untuk makan,bahkan motor yang kamu gunakan saja, lebih mahal dari motor punya ku yang cuma N-max,"
"itu motor bodong, sudah tak usah banyak bicara,jika ibu butuh sesuatu atau bapak juga, bilang saja padaku, dan kemungkinan bulan depan selama sebulan aku akan ke desa untuk beberapa urusan,"
"baiklah, hati-hati bang," kata Rei yang melihat kakak pertamanya itu pergi.
Seorang pria menghela nafas berat, dia tak menyangka putra yang dia sumpahi dan dia anggap durhaka, ternyata begitu peduli pada keluarganya.
__ADS_1
"bapak sudah dengar sendiri, tolong bawa putra kita pulang pak..."mohon seorang wanita dengan sedih.
"tidak bisa,"