
Wawan yang kampanye, benar-benar menyesuaikan semua dengan jadwal istrinya.
Dan di sisi lain saat berkumpul di rumah calon lurah itu, Guntur dan Vivi tampak begitu kompak.
"setelah ini,bukankah kalian ada kampanye di dusun Ilir, ayo berangkat takut kesiangan,"kata Guntur pada Wawan.
"tunggu sebentar ya, Feby sedang ganti baju, karena Loki salah beli kaos,"
"ya maaf bos,salah sendiri gak bilang, ya jika kurang besar kan bisa pakai kaos milik bos," kata pria itu.
"sudah sudah aku sudah siap kok, ayo kita mulai bertemu warga,"kata Feby yang nanti akan ikut kampanye juga
Dia dan Vivi akan fokus pada peran ibu-ibu, dan tak lupa dia akan menjelaskan semua rencana kerja suaminya.
Di sisi lain, lurah Aris ini juga sedang kampanye tapi dia tak di temani istrinya.
Ya karena Helmi baru saja pulang dari melakukan terapi jadi dia di minta istirahat.
"bagaimana menurut mu to,apa kira-kira suara kira akan unggul nanti," tanya Aris pada anak buahnya itu
"seharusnya iya, karena semua kerja anda sangat bagus dalam membangun desa," kata Tanto yang menjadi ujung tombak dari tim sukses milik Aris.
"baguslah, karena aku butuh setidaknya satu periode lagi untuk benar-benar menyelesaikan semua permasalahan di desa ini,"
"iya pak lurah,saya yakin anda pasti akan bisa menjabat lagi," kata Tanto.
Di sisi lain, Feby sedang berbincang hangat dan bermain dengan para remaja di dusun itu
bahkan Wawan menolak jika ada acara yang memberikan jarak antara dirinya dan warga dusun.
Karena dia datang ingin mendengar semua keluhan warga yang mungkin belum bisa di atasi.
"jadi kemungkinan para bapaknya ini memiliki keluhan,jika memang iya tolong bicarakan,siapa tau nanti
Saat saya terpilih, saya akan mencoba mengatasinya," kata Wawan dengan ramah.
"masalah kami itu pupuk, di bandingkan dengan mas Wawan ini kamu memang petani kecil, tapi kesulitan pupuk juga membuat kami takut bisa gagal panen."
"bagaimana jika kita beralih mengunakan pupuk organik, kebetulan istri saya ingin mengembangkan pertanian ramah lingkungan bersama ibu-ibu, jika setuju nanti biar saya tanyakan padanya,"
"benarkah mas, tapi ya kalau bisa pupuk pabriknya juga tetap ada,"
"iya pak nanti saya akan coba bicara dengan mas Hardi," kata Wawan yang tau jika Hardi ini yang punya surat izinnya.
__ADS_1
Pukul empat sore, semua orang sudah menuju ke warung rumah makan Padang untuk mengirim perut.
Vivi menunjukkan semua hasil videonya yang sangat baik dan jernih, nanti guntur yang akan mengeditnya bersama Geno sebelum di posting.
"silahkan makan," kata Wawan yang mempersilahkan.
Akhirnya mereka semua makan bersama, ya rombongan Wawan ini cukup banyak
Feby terus membantu suaminya itu dalam prosesnya, hingga tak terasa hari-hari tenang datang.
Dan lusa adalah hari coblosan, bahkan Feny sedang menyiapkan baju putih untuk di kenakan suaminya itu gesok pagi untuk duduk bersama para calon lurah lainnya.
jika Aris mengenakan kopyah hitam,tidak dengan Wawan yang mengenakan ikat kepala khas Jawa timuran sambil membawa keris.
Wawan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang, "apa kamu akan kecewa jika seandainya aku tak jadi lurah sayang,"
"tentu saja tidak mas,berarti aku akan punya waktu dengan mu, dan aku mencintaimu bukan karena jabatan atau harta, tapi karena kamu adalah diri mu sendiri,"
"terima kasih sayang..." kata Wawan yang merasa senang.
Sedang di kota Bu Sonya yang menerima laporan jika suasana desa begitu panas.
Terlebih dua pasangan terkuat besok akan mendapatkan hasil dari kampanye mereka.
meskipun dia melakukannya dengan diam-diam karena keluarga suaminya itu tak ingin dia berhubungan lagi dengan Wawan.
brak...
Bu Sonya kaget saat melihat sosok Ibra yang pulang dengan wajah kusut dan berantakan.
"ada apa Ibra, kenapa kamu seperti ini,apa kamu butuh sesuatu," tanya Bu Sonya pada putranya itu.
"tidak usah Bu, aku sangat marah karena kasus yang aku bela kalah, pria bodoh itu benar-benar melakukan kejahatan pada para muridnya, dan aku membela orang yang salah, itu memalukan," marah Ibra.
"kamu tidak salah Ibra,itu adalah tugas mu sebagai pengacara, di tambah dia tak jujur dari awal, dan itu sedikit aneh karena tiba-tiba muncul saksi kunci,padahal dari awal saksi itu tak pernah di bahas di pengadilan," kata ayah dari Ibra.
"entah ayah, sepertinya menang ada yang ingin menghancurkan karir ku sebagai pengacara," kata Ibra kesal.
"apa itu perbuatan Dati pria kampung itu, bukankah kemarin kamu bilang kalian bertemu dan dia bersama guntur si preman itu,"
"sepertinya begitu yah," kata Ibra.
"cukup!! bisakah kalian tak menyangkut pautkan segalanya dengan mereka lagi, memang apa yang akan kalian dapatkan, toh Feby sudah bahagia di desa, dan kamu bisa melanjutkan hidupmu di sini Ibra!" marah Bu Sonya yang tak bisa diam lagi.
__ADS_1
"kenapa kamu membela anak bajingan itu, dia itu cuma anak dari manusia buangan yang tak berguna," marah ayah Ibra.
"tapi dia juga anak ku!!" marah Bu Sonya yang tak terima Wawan di hina seperti itu.
bagai petir menyambar, Ibra terkejut mendengar itu, bahkan sosok ayahnya juga tampaknya kaget mendengar itu.
Dan Bu Sonya hanya bisa kaget karena sudah mengatakan rahasianya.
"apa maksud mama dengan dia putra ibu? Siapa Bu?" tanya Ibra yang mulai bingung.
"pria yang menjadi musuh mu,dia anak pertama ibu saat masih menjadi gadis kampung,dan orang men-ji-jik-kan yang bisa membuang bayinya yang masih merah karena malu, demi mengubah nadih aku tak mengakuinya karena dia lahir dari mantan suamiku yang seorang Narapidana, dan aku menyesalinya saat dia menatapku dengan tatapan benci bahkan dia tak pernah mau melihat ku sedikit pun, tapi itu semua itu memang salah ku..." lirih Bu Sonya yang menangis.
"apa... Jadi selama ini mama, tidak!! Aku tak mau mengakuinya menjadi saudaraku," kata Ibra yang tak bisa menemukan segalanya.
"lihatlah putra yang selalu kau banggakan sekarang terluka karena mu, jadi mulai sekarang pilihlah, mau hidup bersama kami atau kembali pada pria kampung itu, dan asal kamu tau aku tau segalanya yang telah kamu lakukan," kata pria yang tersenyum jagat itu.
Bu Sonya tak menyangka jika suaminya itu melakukan ini demi menghentikannya,karena dia tak bisa jika harus melukai putranya Ibra.
Keesokan harinya,saat akan berangkat Feby sudah mendoakan suaminya itu, dan tak lupa mereka juga sudah membagikan bubur untuk kelancaran pelaksanaan acara pemilihan kepala desa itu.
Bahkan pukul dua dini hari,di lakukan serangan fajar yang di ketua oleh Hardi.
dan itu bisa di pastikan jika akan ada kemenangan besar, bahkan pria itu tak keberatan menghabiskan uang berapapun.
"kita berangkat semuanya," ajak Hardi yang siap dengan Wawan.
Keduanya naik sepeda Vespa dengan istri masing-masing, dan salah satu putra Hardi ikut ke motor Wawan.
Saat sampai, Wawan di sambut dengan hangat, bahkan dua putra Hardi tak mau meninggalkan ayah dan bunda mereka.
Ya Feby duduk bersama suaminya untuk menunggu coblosan di laksanakan, karena sedang ada kata sambutan dari para petugas Tempat Pemungutan Suara.
Terlihat ketiga calon sedang di temani istri masing-masing dan juga keluarga mereka.
Dan Feby adalah satu-satunya calon Bu lurah yang paling muda, karena dua yang lain sudah cukup berumur.
Vivi dan guntur tetap mengabadikan setiap acara, bahkan Vivi malah sedang live di beberapa media sosial untuk memberikan dukungan.
Tentu saja teman-temannya yang juga banyak menyaksikan, bahkan Vina rela pulang semalam untuk memberikan suaranya.
Dan akan balik ke Surabaya malam setelah perhitungan selesai nanti.
Dia pun membantu Vivi, Hardi tak menyangka tim yang dia bentuk benar-benar membuat gebrakan hebat.
__ADS_1
Karena Wawan dan Feby tidak hanya terkenal di desa tapi bahkan beberapa kali viral karena kesederhanaannya dan juga keramahannya.