Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
ucapan manis


__ADS_3

Rina diam, dia tak mengira jika suaminya bisa begitu kesal dan murka setelah mendengar nama Rike.


Ya karena wanita itu memang sangat menjengkelkan, terlebih Rike datang hanya saat dia ingin pertolongan.


di tambah dia tak ingin membuat Hardi murka dan mengambil semua modal yang sudah di berikan.


sedang di rumah yang lain, malam itu Mereka sedang menghadiri acara dia bersama.


Ya itu di lakukan karena tak terasa sudah satu bulan putra dari abdi ini lahir.


dan sekarang adalah acara yang sangat penting, setelah acara selesai Hardi tampak mengobrol dengan para pria di teras.


Hana tersenyum saat melihat suaminya itu bisa berbaur dengan semua orang, Alfi yang melihat wanita itu tersenyum sendiri.


"jangan di pelototi saja, dia itu suamimu, jika mau kamu bisa langsung menemuinya dan mengajaknya pulang," kata Alfi menggoda menantunya itu.


"ah Tante ini bilang apa, sekarang di perut ku ada juragan Hardi junior, dan aku hanya tak menyangka akan menikah dengan pria yang dari kecil selalu mengikuti ku saat berkunjung ke gudang milik ayah mertua,"


"ya aku ingat, bagaimana dulu Hardi begitu penakut dan kamu yang seorang wanita ini sering manjat pohon mangga dan jambu,"


"ah Tante... Jangan bilang begitu, sekarang aku sudah anggun begini," kata Hana dengan pose imut.


"ya Allah... Iya nak,kamu begitu cantik ibu kepala sekolah,"kata Alfi.


akhirnya dia dan suaminya pulang, tak lupa mereka juga membawa berkat.

__ADS_1


"assalamualaikum..." kaget Hana saat pintu langsung di buka oleh Vina.


"wa'alaikumussalam Mbak ku, boleh aku bantu bawa," kata gadis itu yang meminta dua berkat yang di bawa oleh Hardi.


dengan senang hati Hardi memberikannya,toh dia juga tau jika adiknya itu sedang mengincar beberapa kue.


"ingat dek jangan kecewa saat pastel itu tak ada," kata Hardi yang masuk dan mengunci pintu.


"tidak mungkin tidak ada, meski di bingkisan kue tak ada tapi kakak ipar ku tak akan membuat ku kecewa, lihat dia membawakan ku lima pastel," kata Vina dengan senang.


Hardi hanya geleng-geleng saja melihat tingkah Vina, padahal harga kue itu terbilang murah.


"kamu melakukannya sayang?"


"aku ingat Vina saat melihat suguhan pastel basah," jawab Hana tersenyum.


"ya sudah kamu ganti baju dulu, biar aku buatkan susu untuk mu,atau mau buat nasi goreng juga, kebetulan dapat nasi dan lauknya sate tuh kayaknya," kata Hardi yang melihat Badi berkat yang sudah di buka oleh Vina.


"mau!!" jawab dua wanita itu.


"baiklah aku akan memasaknya untuk kalian," kata Hardi yang mengurungkan niatnya untuk membuat susu.


terlihat pria itu begitu cekatan, Hana sudah keluar dengan daster pendek karena di dalam rumah hanya ada adik iparnya yang perempuan jadi dia tak mengenakan jilbab.


"loh mbak, potong rambut ya," kata Vina yang langsung membuat Hardi menoleh.

__ADS_1


"apa!!" teriaknya.


Vina tertawa melihat reaksi kakaknya yang begitu kaget, "aku bercanda mas, kenapa reaksi mu begitu berlebihan," kata Vina menahan tawa.


"ah itu tak lucu, padahal kamu tau benar jika mas itu menyukai wanita yang memiliki rambut panjang, karena itu tampak begitu anggun," terang Hardi yang membuat Hana tersenyum.


"baiklah itu memang benar, tapi apa mas tega saat aku melahirkan nanti rambutku sepanjang ini dan harus keramas setiap hari," tanya Hana.


"tentu saja aku akan membantu mengeringkannya,dan tenang saja sayang suamimu ini akan berjanji melakukannya agar istriku tak repot nantinya," kata Hardi yang membuat Hana senang.


"baiklah mas aku percaya itu," jawab Hana.


Malam itu mereka bertiga makan nasi goreng spesial buatan Hardi, dan setelah itu mereka bertiga menikmati acara Drakor yang sedang tayang.


Hardi bahkan tak terganggu sambil bekerja, dan dia tak mempermasalahkan istrinya yang menyukai semua hal berbau Korea Selatan.


Karena itu tak merugikan siapapun, terlebih ada beberapa pelajaran yang bisa di ambil untuk di tiru.


seperti cara mereka bersikap dan menghormati orang lain, dan selalu tepat waktu dalam semua hal.


Karena dia sangat sibuk, dia kaget saat melihat dua wanita itu sudah terkapar tertidur dengan tv yang masih menyala.


Pertama-tama Hardi memindahkan adiknya Vina je kamar dengan menggendong gadis itu.


"ya tuhan betapa beratnya bocah ini, entah sejak kapan dia sudah sebesar ini, ayah dan mana melihatnya kan," lirih Hardi yang menidurkan adiknya di ranjang pink kesukaan gadis itu.

__ADS_1


bahkan dia melihat meja belajar gadis itu ada foto kedua orang tuanya dan juga foto pernikahan dirinya dan Hana yang berdiri sambil merangkul gadis itu.


"terus membuat bangga ya dek,"


__ADS_2