
pak Sugiono benar-benar malu kali ini, dia tak menyangka jika ancaman itu malah di balas hingga separah ini.
"pergilah dari sini, jika tidak ingin putra kalian tinggal nama," usir Abdi yang akhirnya mengusir mereka.
Akhirnya keluarga Sugiono pun memilih pergi karena mereka terlanjur malu.
"sekarang kamu harus mau menikah, karena guntur sudah bukan jadi putra keluarga ini,"kata pak sugiono.
Rei tak mengatakan apapun karena dia tau jika dia salah. Dan dia tak tau apa yang terjadi karena Guntur sudah lepas tangan seperti ini.
Sedang pengacara Hans juga meminta maaf, dia tak mengira jika ucapannya akan membawa masalah seperti ini
"sudah kura masuk dulu," ajak Hardi yang di ikuti semua orang.
Feby pun mengajak Vina masuk, terlihat gadis itu masih ketakutan, tapi Feny mengajaknya istirahat di kamar.
Keduanya tidur di atas ranjang, tiba-tiba Vina memeluk sahabatnya itu sambil meminta sesuatu.
"bisakah kamu menyanyikan lagu untuk ku," mohon Vina.
mendengar itu dengan senang hati feby menyanyikan lagu tidur yang sering ibunya nyanyikan dulu.
"Tak lelo, lelo ledung
Wes menengo anakku Si Kuncung
Embokmu lagi lungo menyang kali
Ngumbah popok nyangking beruk
Wes menengo ono uwong
Tak lelo, lelo, lelo ledung
Cep meneng ojo pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune
Tak gadhang biso urip mulyo
Dadiyo wanito utomo
Ngluhurke asmane wong tuwo
Dadiyo pendhekaring bongso
__ADS_1
Wis cep menengo anakku
Kae bulane ndadari
Koyo buto nggegilani
Lagi nggoleki cah nangis
Tak lelo, lelo, lelo ledung
Wes cep menengo ngger, anakku
Tak emban slendang Batik Kawung
Yen nangis mundak ibu bingung..."
Feby juga menepuk pelan punggung Vina hingga gadis itu terlelap tidur.
Feby tak menyangka akan melihat semua ini, terlebih lagi pria yang bisa memaksa seorang wanita itu sangat buruk.
Itulah kenapa dulu Hardi meminta Vina menikah dulu baru berangkat ke kota.
Tapi Vina keras kepala, dan meyakinkan Hardi jika semuanya pasti baik-baik saja.
sedang para pria yang duduk di luar, tampak sedang diam tanpa ada yang bicara.
"Kenapa?" tanya Hardi melihat pria yang sudah menemani Wawan hingga selama ini.
"saya ingin minta maaf, karena keluarga ku itu sangat mengerikan, aku tak tau sejak kapan mereka jadi seperti ini,", kata Guntur.
"itu bukan salah mu, lagi pula itu terjadi juga ada sedikit kesalahan dari Vina, jadi kamu tak perlu minta maaf sampai seperti itu," kata Abdi.
"tapi aku tak percaya jika kamu memilih tinggal di sini di bandingkan pulang ke rumah orang tuamu,"
"karena saya tak mau menjadi korban mereka, ya kamu harus mengikuti semua aturan di rumah, dan aku adalah korbannya, karena aku benci saat kelahiran Rei, aku jadi tidak bisa di atur dan bandel. jadi mereka selalu mengutamakan Rei, dan inilah aku sekarang lebih bahagia meski harus kerja keras," kata guntur.
"itu memang baik, tapi aku juga baru tau jika keluarga Sugiono ini punya hutang Budi, itulah kenapa dia ingin menikahkan putra putri mereka dengan keluarga yang sudah menolongnya," kata pengacara Hans.
"sudahlah om, asalkan semua selesai aku tak harus bingung, dan sepertinya lebih baik Vina kuliah di kota ini saja dari pada harus tinggal jauh lagi seperti ini,"
"apa Hardi, tapi bukankah itu sangat sayang karena Vina ini termasuk jajaran mahasiswi yang berbakat dan kepintarannya sangat baik,"
"bukan seperti itu, aku tak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi, jadi lebih baik dia kuliah di sini,"
"tapi mas Hardi, kuliah di Surabaya adalah impiannya, tolong pikirkan lagi dan jangan buat dia semakin sedih," kata Feby yang datang membawa minuman.
Wawan langsung bangkit dan membantu istrinya itu, dan Loki ke dapur membawa camilan yang sudah di siapkan oleh Feby.
__ADS_1
"aku tau itu dek, tapi jika dia kembali ke kota, aku takut dia menjadi orang yang terjerumus dalam kesalahan yang buruk." jawab Hardi.
"anda ingin dia akan, meja beri dia syarat, dan itu seharusnya dilakukan sebelum dia berangkat ke kota, dan tentu mas Hardi tau apa syarat itu," kata Feby.
Hardi sedikit termenung dan berpikir, ya itu benar harus di lakukan, agar Vina bisa tetap kuliah di Surabaya jika memang itu yang dia inginkan.
Atau jika memilih tak menerima syarat itu maka dia bisa kuliah bersama adiknya Feby di kampus yang sama tentu dalam pengawasan oleh Hardi.
Wawan pun meminta pada empat orangnya itu untuk pulang karena jam kerja itu sudah habis.
Abdi juga pamit pulang karena putranya itu terus menelpon karena sang ayah yang pergi tanpa pamit tadi.
kini di rumah itu hanya tinggal Wawan, Hardi dan Wasis,sedang Feby masuk ke kamar memastikan kondisi Vina.
Ternyata gadi itu sudah bangun, "Vin, kedepan dulu yuk, ada yang ingin di sampaikan oleh mas Hardi," kata Feby.
Gadis itu pun turun dari ranjang, dan duduk di depan kakaknya tentu di dampingi oleh Feby.
"jadi setelah hal ini terjadi, apa yang kamu inginkan Vina?" tanya Hardi tegas.
"aku tetap ingin kuliah, tapi aku sekarang takut karna jika aku kembali ke kota, dia akan mengusikku,"
"kamu sudah tau itu ya, tapi mas punya tawaran pada mu jika memang tetap ingin melanjutkan kuliah di kota Surabaya,"
"apa itu mas?" tanya Vina yang sedikit mendengar angin segar dari kakaknya itu.
"pernikahan," jawab Hardi yang membuat Vina kaget.
bagaimana bisa, Hardi memintanya untuk menikah setelah kejadian ini.
Tapi itu sebenarnya syarat yang diajukan Hardi sebelum dia memutuskan kuliah sendiri di kota besar itu.
"tapi aku tak punya kekasih, jadi siapa yang akan menikah dengan ku?" tanya Vina dengan sedih.
"aku bisa melamar mu jika boleh, aku tau perbedaan usia kita cukup jauh, tapi aku jujur sangat mencintaimu, apa kamu mau menikah dengan ku?" kata Wasis yang membuat Hardi diam
Vina menoleh ke arah Hardi, "aku tetap ingin kuliah di kampus impian ku, aku menerima syarat itu, dan untuk lamaran mas Wasis aku serahkan pada mas Hardi, karena aku percaya kakak ku tak mungkin memilihkan orang yang salah untuk adiknya sendiri," kata Vina yang akhirnya menerima syarat itu.
dia pun tau jika dia menolak, dia harus mengubur impiannya yang besar, tapi jika dia menikah dua tetap bisa menjadi istri dan juga wanita yang meraih mimpinya.
Wasis berharap Hardi mau menerima lamarannya, tapi pria itu tampaknya masih berpikir.
"sebelumnya maaf Wasis, selain dirimu ada satu orang lagi yang sudah melamar Vina padaku, dan aku akan mengirimkan jawaban itu besok sore, jadi kamu bisa pulang sekarang, dan terima kasih sudah mengantarkan adik ku sampai di rumah," kata Hardi yang membuat Wasis tersenyum.
"baiklah bung,aku pamit pulang dulu, tapi tolong pertimbangkan diri ku, karena aku sungguh-sungguh mencintai Vina," kata Wasis sebelum pamit.
Tapi reaksi Wawan dan Hardi sana, ada seperti hal yang mereka tutupi, entah apa itu, tapi yang pasti mereka seperti tak menyukai sosok Wasis.
__ADS_1