Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
istri tercinta.


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Hardi menaruh tas milik istrinya itu di tuang tengah, karena Hana harus memeriksa semua hasil pekerjaan rumah muridnya.


Sedang Hardi malah memeluk istrinya itu dan mulai memberikan ciuman mesra, "mas... Aku masih bau, belum mandi..." panik Hana yang meremas rambut suaminya.


"tapi aku sudah tak tahan sayang," bisik Hardi yang malah tiba-tiba ingin menikmati waktu bersama Hana.


"kita ke kamar dan tolong pelan-pelan," pasrah Hana yang langsung di gendong oleh Hardi.


Mak sum yang ada di dapur kaget karena tadi mendengar suara Hana dan Hardi tapi nyatanya tidak ada sosok manusianya.


Tapi melihat tas Hana di meja, dia hanya tersenyum dan memilih kembali ke belakang, "dasar pengantin baru,"


Hana benar-benar tak bisa menolak suaminya, bahkan ada telpon masuk pun di abaikan oleh Hardi.


"mas itu telpon bunyi ..."


"biarkan saja... Aku sampai..." kata Hardi yang memeluk istrinya itu.


Hana tak menyangka jika stamina Hardi ini tak ada habisnya, padahal pria itu baru pulang kerja, tapi tak ada lelahnya.


Hardi mengambil ponselnya yang ada di meja samping ranjang, "iya om ada apa," tanya Hardi yang menerima panggilan itu.


Tapi dengan iseng, Hana mulai memberikan sentuhan dan ciuman pada suaminya itu yang membuat Hardi kembali ingin.


"kamu masih lama tidak, tadi Beno telpon katanya sebentar lagi akan sampai," kata Abdi.


"minta waktu sebentar om,mau makan siang di rumah dulu ya, maaf ya," kata Hardi mematikan ponselnya dan langsung menerkam istrinya itu lagi.

__ADS_1


kedua orang itu keluar dari kamar, Hana memakai jilbab yang cukup lebar dan juga baju panjang.


Bukan apa, karena di lehernya penuh dengan bekas merah ulah suaminya.


bahkan Hardi terpaksa memakai foundation milik istrinya karena demi menutupi bekas merah di lehernya juga.


"mas gak makan dulu, nanti lapar loh,"


"aku sudah kenyang dengan memakan mu,"kata Hardi yang memeluk Hana.


"mas bawa ini saja buat ganjal perut kalau begitu," kata Hana memberikan satu kresek roti


"sayang kamu baru borong roti ya," kata Hardi tersenyum.


"ya aku memang sering membeli roti ini jika ingin mengerjakan sesuatu,ya untuk camilan karena cukup membuat kenyang,"


"iya mas, hati-hati saat bekerja ya," kata Hana.


Hardi mengangguk dan segera berangkat ke gudang, tapi saat sampai Abdi mengerti saat melihat Hardi membawa roti di tangannya.


"di kantor ada nasi kiriman Tante mu,makan dulu jangan sampai sakit," kata Abdi yang sudah bongkar duluan.


Hardi malu karena ketahuan tidak makan di rumah, "tidak usah malu, om juga pernah muda dan hal itu biasa, sudah makan sana, karena truk yang dua akan datang juga,"


"siap om," jawab Hardi.


Hana sedang memeriksa semua tugas dari kelas satu hingga kelas enam.

__ADS_1


Saat tiba-tiba rumahnya kedatangan tamu yang tak terduga, karena orang yang tak pernah datang.


Kini tiba-tiba muncul bagai badai yang siap memporak-porandakan keluarga Hardi yang baru di bangun bersama Hana.


"loh mbak Rina dan mbak Rike, ada apa ya, Monggo silahkan masuk dulu," kata Hana dengan sopan pada dua wanita yang memang saudara tiri dari suaminya.


"tidak usah basa-basi, ku ingatkan pada mu ya Hana, jangan berani mempengaruhi gardu,kenapa dia berani menghentikan uang bulanan yang di berikan untuk mbak Rike, dan juga menarik semua modal di toko Suamiku!!" bentaknya.


"apa yang mbak katakan, aku saja tak tau jika mas Hardi masih membantu kalian, tapi kenapa menyalahkan aku," kata Hana.


"karena kamu itu pasti yang berulah,sialan!!" marah Rina.


"jangan berani menyentuh Hana, kalian berdua ini tak sadar diri atau memang tak tau malu!!" bentak Alfi yang mendorong kedua wanita itu.


Dia tak menyangka jika keputusan Hardi dan suaminya itu,akan membuat Hana di salahkan.


"kalian mau tau siapa yang meminta Hardi melalukan itu,dia adalah Abdi suamiku,"kata Alfi.


"oh ternyata si pegawai tak tau diri ini,"


"yang tak tau diri itu kalian, kalian ini tak malu terus merepotkan Hardi,bahkan sudah berapa ratus juta yang kalian minta dari anak itu, bahkan kalian yang tak mau merawatnya, dengan tanpa muka berani menangis memohon untuk di bantu,saat sudah hidup enak, tak salah bagi Hardi menghentikan bantuannya,ingatlah jika kalian masih ingin merepotkan Hardi aku bisa lapor pada pengacara Hans untuk menuntut kalian berdua," marah Alfi yang tak kenal takut


Hana mulai mengerti garis besarnya, "tinggi Tante, ada satu alasan lain yang membuat mas Hardi merasa tak perlu lagi membantu mbak Rina, karena tingkah putra mu yang hampir mencelakai Vina dan melecehkan ku karena aku lebih memilih suamiku di banding dia,dan permohonan maaf serta keinginan dari om Syam sendiri yang mengembalikan bantuan itu," kata Hana ingat semuanya.


Alfi terkejut melihat Hana yang bisa membela dirinya dan keluarganya, "dan untuk mu mbak Rike,anda bahkan bukan saudara satu ayah,dan membuat mas Hardi terus membiayai hidup mu bukankah itu lucu,semoga kamu merasakan penyakit yang selalu kamu jadikan alasan untuk membohongi Suamiku!!" marah Hana.


Tiba-tiba suara guntur mengelegar seperti mengiyakan ucapan Hana pada wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2