
Helmi pun istirahat karena merasa begitu lelah, dan Aris memilih ke depan menemani mertuanya yang datang.
"apa dia sudah tidur nak?"
"inggeh pak, terima kasih sudah mengunjungi Helmi ya pak, karena saya merasa khawatir karena dari sore tadi dia tiba-tiba merasa tak enak badan,"
"iya le," jawab ayah Helmi yang langsung pamit.
Dan tadi dia juga sempat menanam sesuatu saat Aris masuk kedalam rumah.
pria itu tak ingin putrinya itu kehilangan suami seperti Aris, meski awalnya pria itu tampak begitu kasar.
Tapi sekarang dia merasa jika Aris ini begitu baik dan mulai bisa mencintai putrinya.
Sedang di rumah Hardi, pria itu sedang menonton tv bersama Vina sambil ngemil keripik pisang pedas buatan Hana.
"dek kamu masih belum selesai, apa butuh bantuan?" tanya Hardi
"tidak usah mas, tinggal beberapa lembar lagi, tenang saja dan selesai," kata Hana yang memang terbiasa memeriksa jawaban dengan cepat.
"lihatlah,begitu tuh cara guru menilai soal yang di bikin berhari-hari," kata Vina tersenyum.
"ya mau bagaimana lagi, ini sudah tugas dek, oh ya mas, aku hampir lupa, sebenarnya aku ada seminar dan pelatihan untuk calon kepala sekolah, karena istri mu ini terpilih sebagai kandidat, apa dku boleh mengikuti pelatihan itu," tanya Hana.
"tentu saja boleh tapi dimana itu sayang, dan berapa hari, ingat jangan minta penempatan di luar kota ya," kata Hardi yang tak ingin berjauhan dengan istrinya itu.
"aku sudah mengajukan beberapa sekolah yang kemungkinan bisa aku tempati,dan acaranya sekitar seminggu di Surabaya," jawab Hana.
__ADS_1
"baiklah kamu boleh pergi, dan semoga keinginan mu bisa terwujud ya sayang,"
Hana tak mengira jika impiannya akan di restui oleh suaminya secepat ini, padahal dia tak punya pikiran itu sama sekali.
pukul sembilan malam, Hardi menyuruh Vina untuk tidur karena besok sekolah.
dia dan Hana juga memilih masuk kedalam kamar, dan dia selalu terkejut melihat Hana yang mengenakan baju tipis saat ingin tidur
"apa mas, kenapa memandang ku seperti itu," tanya Hana yang tersenyum lembut ke arah suaminya itu.
Hardi hanya tersenyum dan langsung menerkam istrinya itu, dia benar-benar tak membiarkan Hana untuk beristirahat.
Keesokan harinya,Hana sudah selesai masak untuk sarapan, dan kaget melihat Vina ydng baru bangun.
"tumben dek baru bangun?"
"semangat ya," kata Hana yang tak ingin mimpi adik iparnya itu terhenti.
Karena masih setengah enam,Hana masuk lagi ke dalam kamar ddn melihat suaminya yang tengah duduk di ranjang dengan santai.
"mas tak ingin bersiap?"
"sebentar lagi,kamu mau aia dek," tanya Hardi menutup bukunya.
"mau mandi," jawab Hana yang tak punya pikiran jelek.
Tapi tanpa terduga, Hardi langsung berjalan ke arahnya dan masuk ke kamar mandi bersama.
__ADS_1
tentu saja Hana terkejut dan tak bisa menolaknya, dia tak mengira jika Hardi ini benar-benar tak tau rasa bosan atau bahkan lelah.
setelah selesai mandi, mereka bertiga pun sarapan bersama, Hardi juga mengantarkan Hana.
Dan dia akan pergi ke rumah Lurah Aris untuk membahas tentang kerja sama yang akan mereka lakukan bersama.
Tapi baru sampai di depan rumah, dia bisa melihat Helmi yang baru pulang dari tukang sayur.
tentu saja dia tak tertarik juga, jadi Hardi menyapa untuk bertanya tentang lurah Aris.
"permisi, apa lurah Aris ada di rumah,"
"iya mas, silahkan tunggu sebentar, saya panggilkan," jawab Helmi yang merasa biasa saja saat bertemu Hardi.
Tak lama lurah Aris keluar dan menunjukkan beberapa rencananya dan rancangan koperasi itu, tapi menurut Hardi sedikit ada celah.
"boleh aku bawa dan aku sempurna kan," tanya Hardi
"silahkan saja," jawab lurah Aris.
Akhirnya Hardi pun pulang dengan membawa proposal usaha itu, sedang lurah Aris masuk kedalam rumah dan mengunci pintu.
"loh mas sudah masuk, tamunya sudah pergi?" tanya Helmi.
"tentu saja sudah, dan sekarang kita cuma berdua sayang, dan aku ingin kamu," bisik lurah Aris yang susah membuat istrinya itu berteriak karena ulah pria itu.
bahkan mereka tak peduli itu di mana, karena bagi Aris ini menyenangkan.
__ADS_1