Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
pantai pasir putih


__ADS_3

"maafkan suamimu ini, dan sekarang aku harus apa dengan nyonya ju ini, kamu terus menganggu diriku sayang," kata Hardi yang mulai menarik turun resleting baju Hana.


"kita gunakan pengaman," busuk Hana.


"aku menolaknya karena itu tak membuat ku nyaman," jawab Hardi yang langsung mematikan lampu di kamarnya dan mulai menikmati malam panas dengan istrinya itu.


pukul tiga pagi, Feby sudah selesai sholat malam,dan memutuskan untuk membuat beberapa camilan.


Dia juga menggoreng semua Frozen food yang dia beli selama di Ampel,dan tak lupa dia juga membuat jus jeruk selama di perjalanan.


Dan dia ingat jika di mobilnya nanti juga akan ada Wawan, jadi dia melihat resep nasi yang simpel agar bisa di makan selama perjalanan.


Karena dia yakin jika Wawan tak akan sarapan karena tak ada yang menyiapkan semua itu.


Dia memutuskan untuk membuat sushi dengan kearifan lokal karena mengunakan ikan fillet dan ayam dan mengunakan saus Padang sebagai cocolan.


Setelah merapikan semuanya di dalam tempat makan,dia menunggu agar semua dingin sebelum menutupnya.


Hana juga bangun dengan rambut setengah basah, melihat itu Feby hanya tersenyum saja.


"habis ibadah membunuh orang kafir mbak?" tanya Feby yang ingin menggoda kakaknya itu.


"kamu sudah tau kan, ya begitulah kewajiban istri memanjakan suami di ranjang, kamu sudah selesai membuat semua ini dek?" tanya Hana yang mengambil air hangat dan meminumnya.


"iya mbak, kan aku bagian camilan untuk anak-anak dan Luna yang kebagian memasak karena ibunya punya catering," jawab Feby.


"seharusnya kamu bilang dek, mbak pasti bantu, oh ya sekarang mbak lihat kamu sudah mulai sering tersenyum,begitu dong Jan adik mbak ini jadi kelihatan cantik," kata Hana yang memeluk Feby.


"terima kasih mbak, mbak tau karena aku punya dua kakak hebat seperti kalian dan orang tua yang baik, di tambah dua keponakan ku yang kayak ulet begitu,"


"hei dasar kamu ini, masak anak ganteng mbak di sebut kayak ulet, orang ganteng keterlaluan begitu," kata Hana tak terima sambil mencubit pipi adiknya itu yang sekarang tampak sedikit tembem.


"habis mereka berdua gemuk,putih dan saat tengkurap sambil merayap seperti entung yang ada di pohon kelapa busuk," kata Feby yang langsung dapat pukulan dari Hana.


"ih ya gak gitu, itu bibit unggul tau," kata Hana kesal pada adiknya itu.


Akhirnya keduanya memasak untuk sarapan,pukul lima pagi semua orang sudah bangun.


Bahkan Hardi bangun bersama dua putranya yang benar-benar memiliki kesamaan dengan rambut berantakan akan bengong terlebih dahulu.


"bisa begitu ya?" tanya Vina dan Feby yang memperhatikan ketiga orang yang sedang duduk di kasur lipat di depan ruang tengah.


"sudah kalian berdua mandi dulu, setelah itu bersiap jangan sampai membuat Wawan menunggu," tegur Hardi yang mulai sadar.


"Ita mas," jawab keduanya yang langsung menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Sedang Hana membawa dua susu hangat untuk dua putranya dan juga air madu kurma hangat untuk suaminya.


"terima kasih sayang ku," kata Hardi yang tersenyum manis di samping Hana.


pagi itu, Feby me gunakan baju yang dia beli saat di area pasar malam sunan Ampel Surabaya, dan dia ingat jika dia membelinya karena terlihat sangat cantik dan simpel.


Kedua gadis itu keluar dengan penampilan yang berbeda, Feby dengan baju longgar dan tertutup.


Sedang Vina mengenakan celana jeans dengan atasan selutut, dan mereka mengenakan syal yang khusus di beli satu kelas.


"aku seperti melihat mantan pacar ku dan istriku, dalam mereka berdua," kata Hardi yang membuat Hana bingung.


"maksudnya mas?"


"iya,Vina seperti Helmi yang meski berjilbab tapi dia masih sering memamerkan tubuhnya, sedang Feby itu kamu yang selalu memakai baju tertutup,"


"tapi meski baju ku tertutup, aku juga pernah di lecehkan oleh seorang pria," kata Hana yang membuat Hardi gemas dan langsung menciumi wanita itu


"ih... Mas belum mandi," kata Hana yang membuat semua orang tersenyum


pukul enam pagi,Wawan datang untuk menjemput dua gadis itu dan membantu membawa peralatan yang memang di kumpulkan di sana.


Wawan tersenyum saat melihat Feby memakai baju yang dia bantu pilih saat itu.


"mbak Feby tampak cantik," pujinya saat berdampingan dengan gadis itu merapikan barang.


Pak Sodikin yang melihat putrinya tampak nyaman bersama wawan pun merasa jika seperti ada yang spesial.


Tapi dia tak akan menjadi orang tua buruk seandainya jika putrinya itu memilih pria biasa sebagai suaminya.


"Wawan titip Feby ya, takutnya dia terluka saat di pantai," kata pak Sodikin.


"terus aku tidak pak?" tanya Vina.


"tentu saja Vina juga, tapi aku yakin Vina lebih kuat di bandingkan Feby yang sering sakit," kata pak Sodikin.


"siap, aku akan menjaga dia juga, karena disitu saudariku," kata Vina yang merangkul pundak Feby.


"lepas ih... Geli..." kata Feby yang membuat semua orang tersenyum.


Hana menoleh kearah suaminya dan mengucapkan, "terima kasih,berkat mas sekarang dia sudah sangat ceria,"


"itu sudah kewajiban ku juga,karena dia juga adik ku," jawab Hardi yang mengecup kening istrinya.


Selama perjalanan, terlihat Wawan tak merokok karena Feby dan Vina yang duduk di depan.

__ADS_1


"cak Wawan sudah sarapan?"


"belum sempat,tenang saja aku tak akan pingsan kok," kata Wawan tertawa.


Feby mengeluarkan kotak bekalnya, dan bertepatan dengan elf berhenti di lampu merah.


"menarikan tangan cak Wawan," kata Feby yang langsung menyemprotkan hand sanitizer


setelah itu menyodorkan nasi gulung itu pada Wawan, awalnya Wawan kura rasanya akan aneh.


ternyata rasanya sangat enak dan sesuai lidahnya, dia cukup kenyang setelah makan hampir dua gulung yang sudah di potong.


Vina juga ikut makan dan merasa lucu,karena bentuk boleh sushi tapi kenapa rasanya dia sedang makan nasi di rumah.


Tapi aneh saja jika Feby membawa itu, apa sebenarnya kedekatan antara Feby dan Wawan.


Perjalanan ke pantai itu membutuhkan waktu setidaknya tiga setengah jam.


Dan sampai di pantai sudah jam makan siang, dan Wawan mengajak Ripin untuk makan siang karena ada beberapa hal itulah kenapa jadi pria itu yang pergi bersamanya.


Sedang di rumah,Leni merasa sedih karena Wawan benar-benar menghindari dirinya.


Bahkan pesan dan panggilan darinya tak di gubris sedikit pun, "kamu kenapa mas, padahal aku ingin dekat dengan ku,karena hanya kamu yang peduli dengan ku," gumam wanita itu.


Sedang di pantai, semua murid sedang menikmati camilan dan makan siang sebelum main di pantai.


Wawan dan Ripin mengawasi dua adik bos mereka yang tampaknya masih duduk santai di tikar yang di bawa.


Setelah itu terlihat Vina berlari ke arah pantai tapi tidak dengan Feby, "ayo kita kesana, karena sepertinya mereka butuh orang menjaga barang-barang,"


"siap cak," kata Ripin yang memang berada di bawah Wawan dalam hal jabatan.


"kaku bisa main bersama mereka, biar aku yang menjaganya," kata Wawan pada Feby.


"cak Wawan yakin," kata Feby.


"tentu saja," jawab Wawan yang langsung di sambut senyuman dan membuat Feby tenang meninggalkan semua barangnya.


Tapi tiba-tiba ponsel gadis itu tergletak di tikar begitu saja, dan saat ada sinyal sebuah pesan masuk.


Dan Nama di layar itu membuat Wawan tersenyum, pasalnya nama Ibra tertulis seperti biasa.


"dia bahkan bisa sekaku ini," lirihnya dengan tersenyum.


"ada apa cak?" tanya Ripin bingung.

__ADS_1


"tidak ada,",


__ADS_2