Cinta Itu Sederhana

Cinta Itu Sederhana
mode ngalem


__ADS_3

Wawan membawa semua barang yang tadi dibeli, dia tadi merasa hanya membeli sedikit barang tapi nyatanya ada tiga tas berukuran besar yang harus dia bawa.


"Mas, aku mandi dulu ya, ini sudah sore, aku takut nanti kalau kemalaman malah masuk angin," kata Feby yang langsung masuk kedalam kamar mandi dan meninggalkan tasnya di meja.


melihat tingkah istrinya itu, membuat Wawan bebas, dan memutuskan untuk membereskan semuanya sendiri.


bahkan di juga melihat ponsel istrinya dan mengecas ponsel itu agar baterainya terisi penuh.


Dia juga mengisi dompet istrinya dengan uang cash juga. setelah itu dia menyalakan vacum cleaner otomatis membersihkan rumah.


Feby keluar dari kamar mandi dengan hanya mengunakan handuk, dia pun langsung lari menuju ke kamarnya karena takut membuat suaminya khilaf.


"sayang sudah selesai?" tanya Wawan yang baru menyelesaikan semua tugas menata barang di tempatnya.


"sudah mas, aku sudah di kamar," jawab Feby yang sedang berganti baju


"ya sudah tolong ambilkan baju ganti ku ya,"


"inggeh mas," jawab Feby yang langsung mengambil sarung dan kaos oblong


setelah memberikan baju itu pada wawan,dia langsung memasak nasi karena nasi tadi pagi habis.


dia juga membuat masakan tumis ayam jamur yang sederhana dan juga tak lupa membuat jamu untuk suaminya agar tetap sehat.


Wawan ke arah dapur, dan langsung duduk untuk menunggu istrinya yang sedang sibuk memasak.


"malam ini kita makan nasi ayam jamur ya mas, sama sayur sawi di tumis,"


"iya dek tak masalah, oh ya aku mau tanya, apa pengeluaran bulan ini membengkak, ini di luar kampanye ya," tanya Wawan penasaran.


"sebenarnya aku belum bilang pada mas ya, jika aku kemarin memberikan uang pada orang tua ku sepuluh juta, mas bisa memotongnya dari yang jajan ku kok," kata Feby yang terlihat sedih.


"memang ada apa, kok tumben bapak dan ibu butuh uang sebanyak itu," tanya Wawan yang hanya perlu penjelasan.


"sebenarnya begini mas, adik ibu kan sakit, beliau pas tidak punya uang jadi ibu meminjam pada ku, awalnya mau minta pada mbak Hana, tapi ibu bilang jika tak enak karena selama ini mas Hardi selalu membayar semua biaya rumah sakit ayah jika sedang kambuh," jelas Feby.


"terus?"


"ya aku kirim lima juta awalnya, tapi karena merasa ibu sedang perlu jadi aku mengirimkan lagi lima juta untuk pegangan,"jelas Feny menunduk takut.

__ADS_1


Ya dia tau jika Wawan punya banyak uang di tabungan, tapi dia salah karena tak bicara pada suaminya.


Wawan yang melihat istrinya sedih pun merasa tak enak juga, dia bukannya marah, dia hanya butuh penjelasan saja, karena ada bukti transferan uang sebanyak lima juta dua kali.


"jangan menangis Dek, Mas kan Cuma bertanya, Seharusnya Kita sebagai anak pun tidak perlu menunggu Ibu sampai meminta. Itu salah mas juga yang tidak memintamu untuk memperhatikan orang tuamu, sekarang telepon Ibu, dan bilang tidak usah mengembalikan uang itu, dan kamu transfer kepada ibu juga. uang sepuluh juta lagi, bilang padanya, menantunya berterima kasih, telah memberikan anaknya menjadi istri yang baik untukku." kata Wawan tersenyum sambil menghapus air mata dari pipi istrinya itu.


Feby pun langsung memeluk Wawan erat, "terima kasih Mas telah memberikan hal yang terbaik dan l terindah padaku, Ibu pasti juga berterima kasih,"


"sudah kita ini keluarga, bilang pada ibu, jika memang membutuhkan uang untuk minta padamu, karena mas Hardi selama ini sudah banyak membantu kita, jadi kalau sebisa mungkin jangan mengganggu Mas Hardi ya."


"Iya Mas aku mengerti," jawab Feby.


Akhirnya dia menelpon ibunya, dan Bu Sodikin yang mendapatkan telpon itu sangat senang.


karena dua menantunya itu sangat memperhatikan dirinya, bahkan Wawan yang menang di bilang tidak sekaya Hardi.


Bisa memberikan nominal uang sebanyak itu padanya, dia pun meneteskan air mata tak percaya.


Pak Sodikin yang masuk kamar dan melihat sosok istrinya itu sedang menangis.


"ada apa Bu,kenapa menangis?" tanya pak Sodikin.


"ya Allah Bu, sebenarnya ada apa?" tanya pak Sodikin yang bingung mendengar perkataan istrinya.


"sebenarnya Ibu pernah meminjam uang pada Feby, untuk membantu biaya pengobatan adikku, dia memberikannya langsung, tanpa bertanya, dan Feby tidak hanya mengirim lima juta pak, tapi dia mengirimkan sepuluh juta. Dan hari ini saat Ibu baru saja menerima uang pemberian dari Hardi, ibu ingin mengembalikan uang itu, tapi ternyata Feby menelpon duluan dan bilang jika suaminya melarangnya ibu mengembalikannya, dan mdlah ibu di kirimi uang sepuluh juta lagi," terang Bu Sodikin dengan gemetar.


Mendengar penjelasan istrinya,pak Sodikin juga tak percaya dengan hal itu.


Bagaimana bisa kedua menantunya itu sangat baik dan juga sangat menyayangi kedua anaknya.


"Itu memang mungkin rezeki ibu, sudah tak usah menangis, doakan saja mereka, agar keluarga mereka tetap sakinah, mawadah, warohmah,dan di beri kelancaran saat melahirkan nantinya," kata pak Sodikin yang menenangkan istrinya itu.


Hana tak berniat menguping pembicaraan orang tuanya, tapi dia merasa lega jika sekarang adiknya itu sudah hidup baik dengan suaminya.


Dia bergegas kembali ke kamar dan melihat Hardi sedang bermain dengan kedua putranya.


"loh kok di bawa lagi uangnya dek, katanya tadi mau kasih ke ayah?" tanya Hardi.


"tidak jadi, mereka sudah dapat transfer dari adik ipar, dan terima kasih ya sudah menemukan jodoh baik untuk adik ku yang pendiam itu, bahkan semenjak menikah Feny jadi pribadi yang berbeda,"

__ADS_1


"kamu ngomong apa, semua itu sudah takdir Allah," kata Hardi tersenyum.


Dia sendiri tak menyangka, akan menjadi bagian dari keluarga ini.


Keluarga yang sangat sempurna dan sangat penuh kasih sayang antar sesama.


Itu sebabnya dia merasa jika Vina dulu betah di sini, karena rasa kekeluargaan dari keluarga pak Sodikin ini yang sangat tinggi.


Terlebih mereka harus kehilangan kedua orang tua mereka, saat masih butuh figur orang tua terutama Vina.


Guntur sedang santai di teras, dan bertukar pesan dengan Rei yang menjelaskan jika pertunangan itu di batalkan.


Tapi guntur mengingatkan jika apapun yang menjadi landasan pertunangan itu di batalkan.


Itu harus terjadi karena jika tidak,Rei akan mendapatkan hukuman dari ayah mereka.


karena guntur merasa jika adiknya itu melakukan kebohongan besar untuk bisa bebas dari pertunangan paksa itu.


Rei yang membaca pesan dari kakaknya itu merasa gelisah, karena, seolah olah Guntur tahu, apa yang dia lakukan untuk membatalkan pertunangan itu.


Akhirnya mau tidak mau Rey harus Jujur, mendengar kejujuran adiknya Guntur marah besar .


"Kau kira itu hanya permainan, tapi jika ayah memintamu untuk datang, dan melamar gadis itu, apa kamu bisa bertanggung jawab, terlebih Gadis itu bukan orang sembarangan di desanya kau mengerti," bentak guntur yang menelpon Rei.


"tapi, aku tidak punya cara lain bang, Hanya itu yang aku pikirkan saat itu."


"Sekarang terserah dirimu mau melakukan apapun, aku tak bisa mengatakan apapun sekarang, karena aku sendiri punya masalah yang lebih berat di sini."


"Sebenarnya kamu itu sedang tidak ada di desa mana? Kok, sepertinya terpencil sekali."


"tak usah banyak tanya, urus aja urusanmu sendiri, yang penting aku tetap bisa hidup, itu sudah cukup! Dan bilang pada ibu, jika aku telah mentransfer uang sebanyak delapan juta Pada rekeningnya, dan minta ibu untuk menggunakan uang itu dengan sebaik-baiknya, dan Jaga kesehatannya, karena aku akan sulit Bertemu Dengannya saat ini."


"Iya Mas, aku mengerti, dan aku akan bilang pada ibu, jika anaknya juga sudah berubah, bukan jadi preman lagi tapi jadi penjaga kandang sapi, hi-hi-hi-hi-hi ...." kata Rei menertawakan Kakaknya itu.


"memang aku bekerja menjadi penjaga kandang sapi, Kenapa? itu pekerjaan halalkan? Apa itu permasalah juga," kata guntur santai.


Tapi mendengar ucapan dari kakaknya itu membuat Rei terdiam.


Dia tak menyangka jika kakaknya itu benar-benar akan berubah, dan menjadi orang yang lebih baik, tapi dia bersyukur akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2