
Pukul dua siang, Wawan sedang menunggui beberapa pekerja yang kuat beras yang akan di kirimkan keluar kota.
dia juga selalu membakar rokok di mulutnya sambil mengawasi semuanya.
terlihat pria itu begitu serius, karena dia tak ingin lembur lagi karena dia punya seseorang yang menantikan kehadirannya di rumah.
Sedang Feby sedang membeli beberapa pisang goreng yang cukup terkenal di samping kampusnya.
Tentu saja ada gorengan yang lain juga, dan setelah mendapatkan semua itu, dia pun memutuskan untuk ke gudang.
Motor Feby sampai di gudang setelah tiga puluh menit berkendara, Wawan tak tau karena tempat parkir itu jauh dari tempatnya muat.
Pak Sardi yang melihat kedatangan Feby pun tersenyum ramah, "aduh mbak Feby datang, ada angin apa ini,apa sudah merindukan suamimu?" goda pria itu dengan tertawa.
"hanya membawakan sedikit camilan untuk semua orang, dan juga ingin melihat-lihat saja," jawab Feby.
"ini bukan tempat main dek, kenapa datang," kata Hardi yang membuat Feby kaget.
"aku cuma bawa camilan untuk yang lain, dan hanya ingin melihat suamiku yang sedang bekerja," jawab Feby yang tak bisa berbohong di depan Hardi.
__ADS_1
"kamu ini, tapi jangan mendekat, karena ini tempat berbahaya," kata Hardi yang membuat Feby mengangguk patuh.
saat Feby meminta tolong pak Sardi membagikan gorengan itu, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.
"hei pelan-pelan!!" teriak Wawan yang mengejutkan semua orang.
Otomatis semua langsung lari ke arah sumber suara,ternyata ada yang terjatuh dari truk karena kelelahan.
"maafkan saya mas,saya kecapekan sepertinya," kata pria itu yang tampak pucat.
"istirahat, aku bukan menyuruh kalian kerja rodi, dan istirahat dulu,karena ada yang membawakan makanan," kata Hardi
"baik pak bos," jawab semuanya.
"pak bos, lanjutkan pengawasan, dan aku akan muat sendiri, karena aku tak ingin membuat istriku khawatir, dan aku harus menepati janjiku untuk tidak lembur satu bulan ini," kata Wawan yang langsung pergi mengambil dua karung beras itu dalam satu panggulan.
Dan pak Sardi membantu Wawan,Feby yang dari tadi melihat dan mengetahui pun merasa kasihan.
karena harus seperti ini demi memenuhi janjinya, dia tak ingin Wawan sakit, tapi Hardi tau sikap ketekunan Wawan.
__ADS_1
Dia memanggil Feby dan menyuruhnya untuk mencatat semua karung yang masuk kedalam truk.
Wawan Kaget melihat istrinya ada di gudang, "kapan kamu datang,"
"belum lama, tapi mas tak harus seperti ini demi janji,karena aku akan lebih sedih kalau kalian semua terluka dan lelah,"
"aku sebenarnya juga tak mau jika harus di sini lebih lama, jadi biar aku bantu karena mbak mu itu juga tak suka jika aku lembur," kata Hardi yang ikut memuat beras
"aduh kenapa ini malah semua petinggi yang muat, dan kami istirahat,"kata pak no yang tak enak melihat itu.
"tak masalah, istirahat dulu, kami juga tak selemah itu hingga bisa tumbang untuk muat beras-beras ini," kata Wawan yang langsung bersemangat.
terlebih istrinya itu ada di sana, dan Feby tak mengira jika semua orang ini memiliki stamina yang begitu kuat.
Kalau Wawan dan Hardi memang masih termasuk usia muda, tapi pak Sardi yang berusia hampir setengah abad ini juga tak kalah dengan kain muda.
Bahkan pria itu masih bisa tertawa dan menggoda Feby sesekali saat melihat Wawan sedikit oleng karena panas.
"permisi, boleh minta tolong untuk membelikan es di warung depan, beli cukup banyak ya," kata Feby yang langsung di turuti oleh para pekerja itu.
__ADS_1
Kini akhirnya Feby menjadi pengawas di gudang dan berkat kerja sama itu, akhirnya semua beras sudah naik.
Dan Hardi terkejut saat melihat kerja Feby yang begitu rapi dalam pembukuan di bandingkan dengan Vani adiknya.